“Dia Yena, Eommoni. Kekasih baru Sehun,” jawab Irene tanpa ragu.
“Apa?”
Seyoon terkejut tentu saja. Terlebih Irene bersikap seolah memperkenalkan kekasih baru Sehun bukanlah sesuatu yang menyakitkan untuknya. Tapi tidak mungkin tidak sakit. Wanita paruh baya itu masih hafal betul seberapa sakit rasanya mengetahui fakta ketika pria yang ia cintai nyatanya juga memiliki cinta untuk wanita lain. Asal kau tahu saja, semua itu lebih dari sekadar perih rasanya.
“Kenapa … kau harus bersikap semirip dia, Sehun-ah?” gumam Seyoon yang kemudian merasa tersakiti oleh kenangan pahitnya sendiri.
“Dia? ‘Dia’ siapa, Eomma?”
Seyoon dengan cepat menggeleng, tak membiarkan putranya menaruh penasaran berlebih pada apa yang sudah seharusnya menjadi sekadar masa lalu. Kini, kembali ke realita semula. Bagaimana bisa Sehun memiliki wanita lain di saat hari pernikahannya dengan Irene justru semakin dekat?
“Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, Oh Sehun?!” emosi Seyoon tampak sedikit tertahan. Tentu saja, ia tak mungkin berteriak di ruang rawat dan mengganggu kenyamanan istirahat suaminya sendiri.
Tatapan tajam Seyoon lantas mengarah pada Yena yang seketika menunduk takut. “Hei, Nak. Apa kau sungguh tidak tahu kalau putraku telah memiliki calon istri?!”
“Eomma, cukup!” protes Sehun. “Yena tidak bisa disalahkan. Tanpa ada Yena pun, hubunganku dan Irene memang sudah sejak lama berjalan tak sehat, dan aku tidak mungkin terus mempertahankannya jika hal itu hanya akan membuat Irene semakin terluka,” jelas lelaki itu kemudian.
Irene paling mudah diluluhkan oleh kata-kata. Dulu, ia jatuh cinta pada Sehun saking pandainya lelaki itu berkata-kata, membujuknya untuk tidak jadi bunuh diri. Salahnya Irene mencintai lelaki seperti Sehun, hingga perselingkuhan yang awalnya tidak dapat diterima sama sekali kini menjadi lebih mudah untuk dipahami karena alasan hebat yang dibuat-buatnya.
Mendengar penjelasan Sehun hanya bisa membuat Irene tertawa tak percaya. Kedengarannya seperti si Lelaki Oh amat memedulikan perasaannya, tapi, hei, jika lelaki itu benar-benar peduli, semuanya tidak akan mungkin berakhir seperti ini.
“Aku sudah mengakhiri kisahku bersama Irene, dan aku harap, Eomma berkenan merestuiku memulai kisah baru bersama Byun Yena.”
Tangan Sehun kembali menggenggam tangan Yena, membuat si gadis akhirnya bisa merasa diakui setelah sekian lama.
Menyadari cinta sang paman yang begitu besar, Yena seketika saja diliputi kegelisahan. Sama seperti Sehun yang takut terus-menerus menyakiti Irene, Yena juga takut, takut terus-menerus menyakiti Sehun karena belum bisa memberikan seluruh hatinya untuk lelaki itu seorang, setidaknya sampai detik ini.
Ponsel merah muda Yena bergetar. Sebuah pesan dari nomor sang ayah baru saja masuk.
‘Appa♥ — 06-10-2015, 10:53 PM
Bukankah sudah kubilang kalau aku akan segera kembali?’
♥♥♥
“Kau sudah pulang rupanya,” ucap Terrance, sebisa mungkin mengalihkan topik. “Aku menunggumu pulang sampai ketiduran. Manajermu bilang dia sudah tidak bersamamu sejak sore, itu yang membuatku jadi sedikit khawatir, Sayang. Ditambah lagi, ponselmu sulit sekali untuk kuhubungi,” sambung pria paruh baya itu sembari mengusap rambut pirang putrinya penuh kasih.
Irene tertawa kecil. “Maaf, Appa. Tapi aku tidak apa-apa, kok. Sungguh,” timpalnya kemudian, diakhiri penekanan.
Binar si gadis pirang meredup, mendung. Kilas balik pertemuannya dengan Byun Baekhyun hari ini yang berujung meragunya ia pada status dirinya sendiri dalam Keluarga Bae kembali memenuhi pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEVEN ELEVEN
Fiksyen Peminat[Sequel of 'BATHROOM'] Yena merasa hidupnya tidak akan pernah berjalan mulus jika orang-orang terus mengaitkan dirinya dengan masa lalu kelam sang ayah yang tak lain merupakan seorang pembunuh. Meski 14 tahun telah berlalu sejak sang ayah tercinta d...
