"Wah, aku benar-benar tidak percaya kalau akhirnya akan seperti ini," ujar Manajer Sehun, Kim Minseok, yang juga turut diundang ke acara makan malam di rumah Baekhyun. Sebenarnya tidak benar-benar sengaja diundang, melainkan Baekhyun sedang mencoba bersikap baik menawarkan saja ketika melihat Sehun datang dengan membawa serta lelaki yang sedikit lebih tua dari mereka itu.
"Dasar, Sehun bodoh. Kenapa dia bisa-bisanya menyia-nyiakan seorang Bae Irene hanya demi mengharapkan seorang gadis dari masa depan? Toh, pada akhirnya gadis itu akan menghilang tanpa perlu bilang-bilang," rutuk Minseok pelan, kesal sendiri melihat artis yang kini duduk di hadapannya seperti telah terbutakan oleh cinta—yang menurutnya—sesaat dari Byun Yena.
Bukan sekadar asal, Minseok bicara begitu berdasarkan pengalaman. Hadirnya seseorang dari masa depan memang terasa seperti mimpi indah di awal, namun, akan terasa sangat menyakitkan di akhir apabila kita sudah terbangun dan menyadari itu semua hanya sekadar mimpi.
Sampai sekarang, Minseok masih ingat kalau ia juga pernah bertemu dengan seseorang seperti Yena, seorang gadis dari masa depan yang kemudian tak pernah bisa ia ingat lagi paras serta namanya sesaat setelah gadis itu meninggal dalam sebuah kecelakaan yang juga melibatkan dirinya. Minseok berkesimpulan, gadis itu tidak pernah benar-benar meninggal. Mungkin, gadis itu hanya telah kembali ke tempat asalnya semula. Dengan, atau tanpa mengingat Minseok.
Untunglah, hubungan Minseok dengan gadis dari masa depan itu belum terlalu jauh, sehingga rasa kehilangan tidak terlalu lama menyiksa batinnya. Dalam kasus Sehun, ia ingin sekali mencegah artis asuhannya itu jatuh cinta terlalu dalam pada sosok 'khayalan' seperti Yena. Tapi rupanya, ia terlambat. Aktingnya selama ini yang berpura-pura mendukung hubungan keduanya telah menjerumuskan Sehun pada sebuah kebahagiaan semu yang nyatanya akan segera berganti menjadi luka di kemudian hari.
"Hyung Ahjussi kenapa melamun?"
Minseok mengangkat kedua alisnya bersamaan, melayangkan tatapan bingung ke arah Yena. "Siapa? Memangnya aku melamun?"
Yena yang duduk tepat di sebelah Sehun mengangguk cepat, Sehun pun mendukung dengan ikut memberi anggukan.
"Ah, aku hanya sedang merasa iri pada Baekhyun," ujar Minseok, setengah bohong. Kata-katanya itu lantas mengundang tatapan Baekhyun dan Irene yang baru saja saling berbagi soju melalui sebuah ciuman. "Karena di antara seluruh lelaki seantero Korea, hanya dia yang sanggup meluluhkan hati Irene."
"Terima kasih sudah iri padaku, Minseok-ssi," sahut Baekhyun, tersanjung.
"Kalian berdua memang calon pasangan serasi," puji manajer Irene.
Mendengar kata 'calon', Irene langsung menggeleng, tak setuju. "Bukan calon lagi, toh aku dan Baekhyun memang sudah ditakdirkan menjadi pasangan serasi sejak lama. Betul, kan, Yena-ya?"
"Ya," timpal Yena. Ia dapat merasakan tangan Sehun menggenggam tangannya kian erat, mencoba memberinya kekuatan lebih. "Kurasa begitu."
"Eonni, kalau menurutmu pribadi, Yena dan Sehun terlihat serasi juga tidak?" Irene bertanya pada manajernya.
Manajer Irene yang hafal betul kalau artisnya memiliki maksud tersembunyi lain di balik pertanyaan itu lalu sedikit tertawa.
"Tentu saja. Kebahagiaan dapat membuat pasangan manapun terlihat serasi. Tak peduli kebahagiaan yang dirasakan pasangan itu benar-benar nyata atau sekadar dibuat-buat saja, bagaimana pun, orang yang melihat hanya mampu menilai dari luar."
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEVEN ELEVEN
Fanfiction[Sequel of 'BATHROOM'] Yena merasa hidupnya tidak akan pernah berjalan mulus jika orang-orang terus mengaitkan dirinya dengan masa lalu kelam sang ayah yang tak lain merupakan seorang pembunuh. Meski 14 tahun telah berlalu sejak sang ayah tercinta d...
