"Maaf jika ocehanku tadi sangat tidak sopan dan menyinggung perasaanmu," ucap Yena sedikit canggung.
Baekhyun tersenyum tipis, lalu bergeleng sambil menyeruput habis es cokelatnya sampai tak bersisa.
"Tidak apa-apa. Tidak usah terlalu merasa tidak enak seperti itu."
Mereka menuntaskan istirahat mereka sampai di situ. Entah memang karena Yena tak kuat meminum minuman yang terlalu dingin, atau karena kandung kemihnya yang sedang tak mau diajak kompromi, Yena mengeluh tak tahan ingin buang air kecil. Karenanya ia pamit sebentar meninggalkan Baekhyun untuk pergi ke toilet yang tersedia di dalam kafe tersebut. Untungnya, antrean di toilet wanita tidak seberapa panjang hingga Yena bisa melegakan kandung kemihnya secepat mungkin.
Gadis yang masih senantiasa mengenakan masker piglet itu langsung melangkah terburu-buru setelah keluar dari toilet karena takut Byun Baekhyun akan pergi meninggalkannya akibat ocehan-sok-tahunya tadi.
Bahkan saking terburu-burunya, Yena sampai tak sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki berpostur tinggi. Yena terpaku untuk sesaat, mengamati proporsi tubuh dan kedua kaki panjang lelaki yang ditabraknya barusan lamat-lamat. Dilihat dari posturnya, lelaki itu jelas sudah tidak asing lagi.
"Ahjussi?"
Gadis itu mendongak. Netra kecokelatannya tampak membesar seketika.
"Oppa, kenapa kau lama―"
"Hei, Yena-ya, sedari tadi aku me―"
Sebut saja Baekhyun, Irene, dan Sehun. Ya, ketiganya kini berada di dekat Yena sekaligus dalam satu momen yang―bisa dibilang―kurang tepat. Lebih mengejutkan lagi, Irene berdiri hanya berjarak satu meter dari Baekhyun dengan mengenakan masker piglet yang serupa dengan yang Yena kenakan hari ini. Ah, tidak. Mungkin lebih tepatnya...
Yena berpaling, melayangkan tatapan kecewa seutuhnya pada sosok Oh Sehun.
Lelaki itu telah memberikannya.
Masker piglet yang seharusnya hanya menjadi masker couple milik ia dan Sehun, kini telah berpindah tangan pada calon istri lelaki berkaki panjang itu, yang tak lain dan tak bukan adalah...
Ibu kandung Yena sendiri.
Atmosfer di musim panas itu seakan-akan membeku bagi keempatnya. Semuanya tak membuka mulut sampai satu di antara mereka, yakni Irene, menyadari keanehan yang seharusnya tak begitu perlu terjadi.
"Ah, lihat siapa mereka? Apa ini suatu kebetulan?" vokal Irene terdengar ceria, namun juga sinis. Gadis pirang itu ingat betul sekarang, bahwa ini adalah kali kedua mereka berempat terjebak di situasi semacam ini. Rupanya, dunia memang benar-benar sempit.
"Pertama, di toko elektronik. Kali ini, di sini. Kira-kira kita berempat akan bertemu di mana lagi ya untuk ketiga kalinya nanti?"
Irene melirik Baekhyun sekilas, lalu arah pandangnya beralih pada Yena. Mana mungkin Irene dapat melupakan wajah gadis―yang menurut penilaiannya terlihat―sok polos itu dengan mudahnya? Entah sudah keberapa kali Irene berpikir Yena adalah perusak hubungan orang, dan kini setelah gadis itu gagal merebut kekasihnya, gadis itu juga mengincar lelaki yang pernah melamarnya secara tidak langsung via telepon? Cih, apa gadis itu sengaja ingin menjadi rivalnya secara terang-terangan mulai sekarang? Dan juga, masker piglet itu! Apa-apaan?!
"Ayo kita pergi!" Sehun hendak memaksa Irene untuk sama-sama angkat kaki dari sana, namun Irene terlihat sengaja sekali ingin memojokkan sang calon suami yang sepertinya sudah hampir terbakar api cemburu melihat gadis simpanannya tengah berkencan dengan lelaki lain.
"Apa sih? Kenapa kita harus pergi? Kita kan bisa melakukan double date bersama mereka! Benarkan?" ujar Irene, berinisiatif. "Kau setuju dengan ide cemerlangku ini kan, Baekhyun-ssi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEVEN ELEVEN
Fanfiction[Sequel of 'BATHROOM'] Yena merasa hidupnya tidak akan pernah berjalan mulus jika orang-orang terus mengaitkan dirinya dengan masa lalu kelam sang ayah yang tak lain merupakan seorang pembunuh. Meski 14 tahun telah berlalu sejak sang ayah tercinta d...
