43 - Pulang Atau Menghilang

785 138 59
                                        

Setelah lebih dari 10 menit mengalami mimisan, darah yang mengalir dari hidung Irene akhirnya berhenti keluar. Gadis bermarga Bae itu menatap lekat-lekat pantulan dirinya di cermin. Ia terdiam, tak sepenuhnya diam. Pikirannya melayang, mengingat satu momen tak terlupakan yang terjadi di pesta ulang tahunnya.

"Aku tahu semua tentangmu, aku tahu apa yang akan terjadi pada masa depanmu. Aku yakin sebagai ibu dan anak, kita pasti telah terhubung secara alami oleh ikatan batin. Di hari saat kita bertemu di toko elektronik, apa kau benar-benar berniat mencari Sehun? Juga di hari saat kita bertemu di taman bermain, apa kau yakin itu semua terjadi karena kebetulan semata?"

"Akhir-akhir ini, apa kau juga sering mimisan?"

Meski dipikir berulang kali, ia tak pernah bisa mengerti. Setiap kali ia pergi ke dokter, hasil pemeriksaan kesehatannya selalu baik. Yang janggal di sini, Yena bahkan tahu apa yang seorang dokter tak ketahui dari kondisinya saat ini.

Sungguh, Irene tidak sudi ikut-ikutan gila seperti Sehun dan Baekhyun yang begitu mudah terpengaruh oleh setiap perkataan Yena. Tapi kian hari, ia justru seperti dipaksa untuk memercayai apapun yang terjadi di sekitarnya. Beberapa saat lalu, Byun Baekhyun menelepon, berkata kalau Yena menanyakan kabarnya dan juga bertanya apa ia tengah mengalami mimisan di waktu yang bersamaan dengan mereka.

Tiga orang, tanpa ikatan apapun yang masuk akal, selalu mimisan di waktu yang sama?

"Sebelum aku melakukan tes DNA, Yena lebih dulu mengatakan kalau kau bukanlah kakak kandungku. Padahal, selama ini, hampir seluruh hidupku, aku percaya kalau kau adalah satu-satunya kakak perempuan yang lahir dari rahim yang sama denganku. Tapi, Yena justru mematahkan kepercayaan itu yang bahkan kedua orang tuaku saja tak pernah berniat mengatakan kebenarannya kepadaku sampai akhir hayat mereka."

"Mungkin kau memang bukan kakak kandungku, tapi kau telah menghabiskan lebih banyak waktu bersama orang tuaku ketimbang dengan orang tua palsumu saat ini. Dan juga ... percayalah, Nuna. Yena benar-benar putri kita."

Irene tertegun. Beberapa detik berlalu, ponsel yang ia genggam sedari tadi kini kembali menempel di telinganya.

"Baekhyun-ah, tolong katakan pada Yena ...."


♥♥♥


"Irene ingin bertemu denganmu di sini, tapi kurasa dia sedikit terlambat dari waktu yang ia janjikan sendiri," ucap Baekhyun pada Yena, menyampaikan pesan Irene sekaligus pendapatnya mengenai keterlambatan gadis itu.

Sesuai janji, Baekhyun membawa Yena ke sebuah kamar hotel yang telah direservasi sebelumnya atas nama manajer Irene. Model cantik itu mengatakan ingin menemui Yena di pukul 4 sore, tapi 35 menit nyatanya sudah berlalu begitu saja dari waktu yang dijanjikan tersebut.

"Apa ini memang sudah menjadi kebiasaan Eomma dan para figur publik lainnya, ya? Mengadakan pertemuan rahasia di kamar hotel." Si gadis berambut arang menapakkan kakinya ke tepi jendela. Disibakkannya pula sedikit gorden cokelat yang menghalangi pandangannya untuk menatap ke arah luar. Dengan posisi membelakangi Baekhyun, ia pun melempar tanya, "Sebelumnya, Appa juga masih ingat 'kan kalau Eomma pernah berencana menemui Ahjussi Berkaki Panjang di hotel ini?"

Baekhyun mengangguk, tak lupa akan hari di mana untuk pertama kalinya ia pernah menampar pipi seorang Byun Yena dengan tangannya sendiri. "Di hari aku menyuruhmu pergi karena tidak percaya padamu."

Belum sempat mulut Yena membalas ucapan ayahnya, suara bel kamar kemudian terdengar. Irene tampaknya tidak mau membiarkan dua insan berbeda jenis kelamin itu terus berlama-lama di sebuah kamar.

ELEVEN ELEVENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang