Tasalia sedang memijat pelipisnya yang terasa oening saat seseorang mengetuk pintu rumahnya.
Akhirnya Tasalia berjalan gontai ke arah pintu rumahnya kemudian membukakannya.
"Paman? Rafa?" Tasalia mengernyit heran saat melihat dua manusia itu di depan pintu rumahnya. Menatap Tasalia dengan tatapan sulit diartikan.
Lalu tanpa aba-aba Jhon memeluk Tasalia dengan erat. Membuat Tasalia terhuyung ke belakang.
"Maafin, Paman... Harusnya Paman gak ngasih kamu izin, Ya..." bisik Jhon. Ia menetrskan air matanya.
Tasalia terdiam. Ia mengerti ke mana arah pembicaraan Jhon. Kemudian dengan sangat perlahan ia membalas pelukan Jhon. Tasalia seketika menumpahkan air matanya. Terisak di dalam pelukan Jhon.
"Paman..." isakan Tasalia semakin mengeras.
Rafa yang melihat itu seketika berlari sejauh mungkin dari halaman rumah Tasalia.
Ia mengusap air matanya yang jatuh saat mengingat betapa beratnya beban yang harus Tasalia tanggung.
"Sialan!" Rafa menendang pohon di hadapannya. Tidak peduli jika 'penunggu' pohon tersebut akan marah.
Sedangkan di sisi lain, Tasalia tengah mengusap air matanya. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Jhon walau pada kenyataannya Jhon sudah tau apa yang terjadi pada dirinya.
"Kamu bakal sembuh, Ya." lirih Jhon sambil tersenyum sendu.
"Sembuh? Bahkan kematian aku tinggal menghitung waktu, Paman." Tasalia terkekeh miris.
Jhon seketika menggeleng. "Enggak, kita harus usaha dulu." ujarnya begitu yakin.
"Usaha? Untuk apa, Paman? Untuk apa?!" Tasalia berkata frustasi. Ia menumpahkan air matanya lagi. Rasanya ia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selagi kita berusaha dan berdoa pada Tuhan, pasti kita akan mendapat petunjuk-Nya."
Tasalia masih diam terisak. Ia tidak menyahuti perkataan Jhon.
"Yaya, kita ke Bandung, ya? Kita cek ulang di sana." ajak Jhon dengan lembut. Ia mengusap-usap puncak kepala Tasalia dengan lembut.
"Buat apa? Hasilnya akan sama," sahut Tasalia lirih. "Ini adalah jawaban atas segala rasa sakit yang sering aku rasain akhir-akhir ini, Paman." lanjutnya.
"Apa salahnya kita coba untuk cek ulang? Paman takutnya itu salah." Jhon masih berusaha membujuk Tasalia.
"Gak usah, Paman. Karena satu hasil saja sudah cukup."
"Kita harus cek ulang," Jhon masih berdiri teguh pada ucapannya. "Bahkan kalau perlu kita ke luar negeri, Ya." lanjutnya.
"Aku bilang gak perlu." ujar Tasalia pelan namun tajam.
"Yaya, Paman mohon..." lirih Jhon. "Paman yakin kalau semua hasil itu salah." lanjutnya.
Tasalia diam. Ia menatap Jhon dengan pandangan sulit diartikan.
"Mau, ya? Kita berangkat sekarang." ujar Jhon.
"Terserah Paman aja." sahutnya mengalah.
"Ya udah, kamu siap-siap. Urusan sekolah kamu, biar Paman yang urus."
[ NOT SAME ]
Deva menatap papan absensi kelasnya dengan pandangan tidak bisa diartikan. Di sana tertulis nama Tasalia.
"Udah lah, Dev, gak usah direnungin begitu. Tasalia cuman izin, Bro!" ujar Sandi sambil menepuk bahu Deva beberapa kali.
"Izin ke mana? Kok gak bilang dulu sama gue?" balas Deva.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not Same
أدب المراهقينNamanya Tasalia. Cewek yang memiliki banyak rahasia yang tidak orang lain ketahui. Ia selalu menyimpan semuanya sendirian. Namun, rahasia terbesar yang ia sembunyikan secara rapat-rapat akhirnya terbongkar juga. Disaat semua orang menjauhi Tasalia...
