Pukul 12 malam, Jungkook masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas di ruangan kerjanya. Sesekali bibirnya tertarik menjadi sebuah senyuman saat matanya menatap foto mendiang istrinya yang bersebelahan dengan foto Ahreum.
Tangannya masih setiap membolak-balik puluhan lembar kertas dan maniknya masih setia menyusuri setiap kata yang ada di kertas itu. Sampai suara ponselnya mampu merebut seluruh atensinya. Jungkook menautkan alisnya saat melihat nomor tidak dikenal tertera di layar ponselnya.
“ Yeobseyo? Nugu? ”
“ ....... ” Jungkook menegang mendengar suara dari sebrang sana.
“ A... Ada apa? ”
“ ....... ”
“ B... Benarkah?! ”
“ ....... ”
“ Baiklah, aku kesana sekarang. Jangan beritahu siapapun selain aku! ”
“ ....... ”
“ Baik. ”
Jungkook segera berdiri, menyambar mantel yang tersampir di kursi kerjanya lalu berlari keluar dan pergi dengan mobilnya. Dan kalian harus percaya, now something gonna happen.
🍃 The Truth Untold 🍃
Hari ini, Ahreum masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membuka matanya. Manik cantiknya mengerjap beberapa kali, sebelum matanya fokus pada sisi ranjang di sampingnya. Seprainya masih rapi, itu tandanya Jungkook tidak tidur di sana semalam. Ahreum tau, Jungkook pasti tertidur di ruang kerjanya.
Wanita yang tengah mengandung 3 minggu itu tersenyum lalu beranjak turun dari ranjang. Tidak biasanya Jungkook tertidur di ruang kerja. Tapi Ahreum pikir, mungkin suaminya itu sedang memiliki banyak pekerjaan sampai dia tertidur di ruang kerjanya.
Jemari lentik Ahreum bergerak memutar knop pintu sebelum pintunya terbuka dan Ahreum tidak menemukan siapapun di sana. Kalau Jungkook tidak ada di kamar maupun di ruang kerja, lalu kemana dia? Ahreum melihat masih banyak berkas berserakan di meja juga laptop masih dalam keadaan terbuka.
Eunwoo, ya suaminya pasti ada di kamar Eunwoo kecilnya kan? Memang semalam, setelah pulang dari pesta Namjoon. Ahreum segera tidur karena di kehamilan pertamanya ini dia mudah lelah, jadi Ahreum meninggalkan Jungkook yang tengah memeriksa laporan bulanan anak buahnya.
Saat Ahreum membuka pintu kamar Eunwoo, dia mendapatkan hasil yang sama. Tidak ada siapapun kecuali Eunwoo yang masih terlelap sambil mengulum jempolnya. Akhirnya Ahreum keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan seorang pelayan wanita.
“ Bibi, apa kau melihat Jungkook? ” Tanya Ahreum tanpa basa-basi.
“ Ya Nyonya, semalam beliau keluar dan lari terburu-buru tanpa mengarakan apapun, Nyonya. Dan belum kembali sampai pagi ini. ” Jelas wanita paruh baya itu.
“ Jungkook! ” Seru Ahreum saat maniknya menatap kedatangan Jungkook.
Pria itu terlihat sangat murung dan lelah, wajahnya kembali berubah dingin dan datar, sama seperti saat Ahreum bertemu dengannya dulu.
“ Kau dari mana? ” Tanya Ahreum menatapnya sendu.
“ A... Aku, ada sedikit pekerjaan di kantor. Semalam klienku komplain dan mereka memintaku datang semalam. ” Jungkook menatap Ahreum lekat, matanya memancarkan cahaya lain.
Tidak seperti biasanya, kalau biasanya Jungkook selalu menatap Ahreum penuh cinta dan kelembutan. Tapi hari ini, Jungkook seperti memancarkan sebuah luka. Dan Ahreum sepenuhnya tau itu.
“ Naiklah, aku akan siapkan sarapan. ” Ahreum menghindar dari tatapan mata itu lalu melangkah melewati Jungkook.
Tapi langkahnya terhenti saat dia merasakan kehangatan melingkupi pergelangan tangannya. Jungkook menariknya dalam dekapan erat. Entah kenapa, pagi ini Jungkook menunjukkan perubahan yang aneh.
“ Maafkan aku, sayang. ” Bisik Jungkook sarat akan penyesalan.
Ahreum tersenyum lalu menepuk punggung Jungkook pelan.
“ Tidak apa, aku tau semalam kau buru-buru. Jadi tidak sempat berpamitan kan? ” Ahreum menciba meyakinkan suaminya bahwa dia baik-baik saja.
“ Istirahat saja hari ini. Kau pasti lelah. ” Tambah Ahreum lalu melepaskan pelukannya.
Ponsel Jungkook terdengar berdering, dia segera merogoh sakunya, mengambil benda persegi itu lalu mengangkat panggilan telfonnya sambil berjalan menaiki anak tangga tanpa menghiraukan Ahreum yang menatapnya penuh tanya.
“ Kuharap ketakutanku tidak sedang terjadi, Jeon. ”
🍃 The Truth Untold 🍃
Ahreum selesai menyiapkan makanan kesukaan Jungkook. Dia senang sekali karena hari ini Jungkook bersedia untuk libur sehari dan nenemaninya 24 jam. Sementara menunggu Jungkook untuk sarapan, Ahreum tengah bermain bersama Eunwoo kecil yang kini sibuk memainkan helaian rambut Ibunya sambil sesekali tertawa senang.
“ Eomma menyayangimu, Eunwoo. ” Kata Ahreum sambil mengecup pipi bulat bocah 1 tahun lebih itu.
“ Eunwoo cayang Eomma.. ” Balasnya sambil menyandarkan kepalanya di dada Ahreum.
Ahreum terkikik pelan saat mendengar pernyataan dari mulut jagoan kecilnya. Sepasang Ibu dan anak itu terus bermain dan sesekali tertawa senang sampai suara derap kaki yang terdengar nyaring mampu merebut perhatian Ahreum.
Jungkook berlari terburu-buru dengan pakaian yang sudah rapi. Ahreum sedikit bingung karena tadi Jungkook bersedia libur tapu sekarang dia sudah berpakaian rapi.
“ Jungkook? Kau bilang— ”
“ Maaf sayang, ada rapat penting mendadak. Aku harus segera ke kantor. ” Jawabnya cepat sambil memakai jas kerjanya.
“ Tapi aku sudah terlanjur memasak untukmu. ” Kata Ahreum kecewa.
“ Begini saja, nanti malam kita makan di luar. Kau bisa pilih tempatnya dan tunggu aku di sana. ” Jungkook mengecup kening Ahreum sebelum berlari terburu-buru.
“ Huwaaaa... Appa.... Appa.... Hiks... Appa.. ” Tiba-tiba saja, Eunwoo yang tadinya diam dipangkuan Ahreum, menangis histetis.
Dan yang membuat Ahreum kecewa, biasanya ssst Jungkook mendengar tangisan putranya. Dia akan segera kembali dan memeluknya. Tapi kali ini, jangankan memeluk, dia bahkan tidak menoleh barang sedikitpun.
“ Sssttt.... Sayang... Tenanglah, ada Eomma. Mungkin Appa sedang sibuk. ” Ahreum menepuk punggung kecil yang bergetar itu.
Sudah berhari-hari ini, Eunwoo sangat rewel. Kadang dia juga menjadi sangat manja pada Ahreum. Entah itu karena efek kehamilan Ahreum atau— sesuatu yang akan segera terjadi.
To Be Continued~~
Sorry baru bisa update sore.
Baru pulang kerja 😅
Vomment juseyo^^
KAMU SEDANG MEMBACA
The Truth Untold
FanfictionPenuh kesepian, kebun ini mekar penuh duri. Dan aku tau, semua kehangatanmu benar. Aku ingin memegang tanganmu. Ini takdirku, jangan tersenyum padaku, terangi aku. Karena aku tidak bisa datang padamu. Tidak ada nama yang bisa kau hubungi. Kau tau, a...
