Penuh kesepian, kebun ini mekar penuh duri. Dan aku tau, semua kehangatanmu benar. Aku ingin memegang tanganmu. Ini takdirku, jangan tersenyum padaku, terangi aku. Karena aku tidak bisa datang padamu. Tidak ada nama yang bisa kau hubungi.
Kau tau, a...
Waktu berjalan begitu cepat, kini usia kehamilan Ahreum menginjak 8 bulan. Akhir-akhir ini dia sibuk dengan butiknya sampai melupakan jadwal cuci darahnya. Jungkook juga jarang melihatnya, sangat berbeda dengan awal kehamilannya dulu. Jimin dan Taehyung juga jarang bermain ke apartemennya, saat Ahreum menanyakan mereka pasti jawaban mereka sama saja. ‘ Sibuk. ’
Jadi Ahreum juga memutuskan untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Akhir-akhir ini pula, rasanya semakin hari penyakit Ahreum semakin parah. Dia bahkan kerap kali muntah dan merasa lemas, tapi dia menutupinya dari semua orang.
Terkadang, sesekali Ibu dan mertuanya menengok Ahreum tapi bsberapa minggu ini mereka hanya bisa berbicara lewat telfon. Kesepian? Tentu saja iya, Ahreum butuh seseorang untuk menguatkannya. Ditambah lagi dia sedang sakit dan hamil tua.
Pagi ini, rasanya Ahreum sedang malas kemana-mana. Ditambah lagi, 2 hari ini Ahreum merasakan mulas luas biasa pada perutnya, diikuti dengan flek yang dia keluarkan secara tiba-tiba. Dia mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Menyalakan televisi dan menonton acara musik. Ahreum mengelus perutnya pelan saat merasa sedikit mulas di sana.
“ Kenapa sayang? Kau ingin sesuatu? ” Tanya Ahreum pada calon bayinya.
Rasa mulas itu malah semakin parah dan datang setiap 2 menit sekali. Apa mungkin bayinya lapar? Bisa jadi! Ahreum berdiri perlahan dan berjalan menuju pantry.
Belum sempat Ahreum mencapai lemari es, sesuatu memaksa keluar dari kemaluannya. Ahreum berhenti sejenak dan berpegangan pada meja, rasa mulasnya semakin menjadi, seperti ingin buang air. Ahreum heran dengan cairan yang keluar dari kemaluannya.
“ ASTAGA!! Ketubanku pecah!! ” Pekiknya lalu berjalan pelan menuju sofa lagi, mendudukkan tubuhnya dan meraih ponselnya untuk menghubungi Jungkook.
⌛ The Truth Untold ⌛
Jungkook menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya, tangan kekarnya bergerak melonggarkan dasinya. Kedua obsidiannya menatap ke arah foto Ahreum, dia tersenyum mengingat istrinya itu sedang hamil tua.
Setelah kelahiran anak pertama mereka, Jungkook berniat mengajak Ahreum untuk kembali ke rumahnya, tinggal bersamanya. Entahlah, mendadak Jungkook sangat merindukan wanita itu dan calon bayinya.
JDERR!!!
Suara gelegar guntur menyapa gendang telinga Jungkook diikuti suara gemericik air hujan yang turun. Jungkook kembali menyandarkan punggungnya setelah sempat terkejut selama beberapa sekon.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
Jungkook segera meraih ponselnya, dia tersenyum saat melihat nama Ahreum tertera di sana.
“ Ya sayang? Ada apa? ”
“ Huh... Huh... Jungkook... Tolong.... Ketubanku pecah... Enggghhh... Aku tidak tahan lagi... Huh... Huh... ”
“ APA?! KETUBANMU PECAH?! T... Tapi bagaimana bisa, usianya baru 8 bulan. ”
“ Aku tidak tau!! Cepat kemari dan jangan cerewet kelinci bodoh!! Enggghhh... Huh... Huh... Cepat!! ”
“ Baiklah.. Baiklah, katakan padanya jangan keluar dulu. ” Kata Jungkook lalu segera berlari terbirit-birit, dia bahkan lupa tidak memakai jas kerja sementara di luar hujan.
Yang terpenting baginya adalah, anaknya harus lahir dengan selamat.
Tidak sampai 1 jam, akhirnya Jungkook mencapai gedung pencakar langit itu. Tanpa menghiraukan tubuhnya yang basah kuyup, dia segera memasuki bangunan itu dan menuju apartemen Ahreum.
“ Sayang? ” Jungkook menyeruak masuk dan melihat istrinya yang sudah mulai mengejan dengan keringat di sekujur tubuhnya.
“ Hah... Hah... Arrrgghhh... ” Pekik Ahreum yang makin membuat Jungkook panik.
Dengan sigap, dia segera meraih tubuh Ahreum dan membawanya menuju Rumah Sakit terdekat.
“ Tahan sebentar sayang, semuanya akan baik-baik saja. ” Ucap Jungkook yang segera menancap mobilnya dengan kecepatan tinggi.
⌛ The Truth Untold ⌛
Setengah jam berlalu sejak mereka memasuki ruang persalinan dan Jungkook terus mendampingi Ahreum melakukan proses kelahiran.
“ Tarik nafas.... Buang... ” Kata sang dokter memberi aba-aba.
“ AAARRRGGGHHH..... Huh... Huh.... ENGGGHHHH..... Huh... Huh... ” Susah payah, Ahreum mengejan saat dia rasa kepala bayinya sudah berada di ujung jalan lahir.
Tangan Ahreum yang berkeringat menggenggam erat tangan Jungkook. Jungkook setia menemaninya, mengelus puncak kepala Ahreum untuk sekedar menenangkannya.