“ ARRGGHHH!!! ”
Suara teriakan nyaring disertai suara pecahan barang terdengar memenuhi rumah Jungkook. Pertengkaran kemarin sepertinya tidak cukup untuk pasangan suami istri itu. Kemarahan Jihan tidak pernah habis, dia terus memaki Ahreum. Sampai kemarahannya sampai pada puncak tertinggi. Dia meraih semua foto Ahreum yang ada di rumahnya, begitu juga barang-barang Ahreum yang masih tersisa. Dia memasukkan semua itu dalam kardus, membawanya ke halaman depan dan berniat membakarnya. Tapi, tangannya dicengkram erat oleh Jungkook. Jungkook menatap Jihan nyalang, sebelum menghempaskan tangan itu kasar.
“ Cukup kau seperti ini, Jihan! ” Bentak Jungkook.
Jihan yang tertegun, hanya memandang suaminya dengan mata berhiaskan air mata.
“ Aku sudah diam saat kau dengan seenakmu mengusir Ahreum! Memaki Ahreum! Mengatakan dia jalang! Wanita murahan! Tapi sekarang aku tidak bisa diam lagi!! Cukup kau menyakitinya!! Dan asal kau tau, dia baru saja keguguran! Ya, bayiku meninggal! Kau puas?! Sekarang suka atau tidak!! Kau harus bisa menerimanya sebagai istriku!! ” Marah Jungkook, memang sudah cukup diamnya selama ini.
“ Kenapa kau membelanya? ” Isak Jihan.
“ Karena dia wanita baik! Selama kau pergi! Dia yang merawat Eunwoo!! Bukan hanya Eunwoo tapi aku, juga rumah ini. Dia bekerja sebagai Ibu dan istri yang baik! Dan sekali lagi kuingatkan! Dia bukan seorang jalang tapi istriku! ” Jungkook membawa kardus besar berisi barang-barang Ahreum lalu masuk, meninggalkan Jihan sendirian.
Jihan menatap punggung lebar itu yang makin menjauh dengan isakan keluar dari bibirnya. Seumur hidup, baru kali ini Jungkook bersikap kasar padanya, hanya karena seorang Ahreum.
💜 The Truth Untold 💜
Ku selalu mencoba untuk menguatkan hati...
Dari kamu yang belum juga kembali...
Ada satu keyakinan
yang membuatku bertahan
penantian ini kan terbayar pasti...
Lihat aku sayang...
Yang sudah berjuang...
Menunggumu datang...
Menjemputmu pulang...
Ingat slalu sayang...
Hati ku kau genggam...
Aku tak kan pergi...
Menunggu kamu di sini...
Tetap di sini...
Jika bukan kepadamu...
Aku tidak tau lagi...
Pada siapa rindu ini kan ku beri...
Itulah yang terjadi pada Ahreum, selama ini seperti hanya Ahreum yang berjuang. Hanya Ahreum yang mencoba mempertahankan hubungan pernikahan mereka, hanya Ahreum, tanpa Jungkook.
Wanita 25 tahun itu tengah termenung di dalam kamar, setelah Jimin pergi ke kantor, dia hanya mengurung diri di kamar Jimin. Tubuhnya memang di sana tapi rohnya, sedang berkelana ke tempat lain yang sangat jauh.
Ahreum putus asa, dia merasa kalau dirinya sudah tidak berguna lagi. Bayinya meninggal dan dia mengidap gagal ginjal. Benar-benar tidak berguna kan? Sesekali Ahreum menghela nafas karena dia terlalu lelah. Lelah merasakan sakit di luka bekas operasinya juga hatinya. Dia lelah menjalani skenario ini. Rasanya Ahreum ingin mati saja kalau dia lupa, bahwa masih ada seseorang yang membutuhkannya, Eunwoonya. Bayi kecilnya.
Ahreum memekik keras saat bagian rongga perutnya terasa sangat sakit. Ahreum mencengkram kuat seprai ranjang Jimin. Kali ini rasa sakitnya bukan main, sangat menyakitkan sampai Ahreum memuntahkan semua isi perutnya di lantai dan memaksanya untuk mengeluarkan air mata. Dengan tangan bergetar, Ahreum meraih ponselnya di nakas. Mencari nomor Taehyung dan menghubunginya. Ahreum terisak dengan tubuh yang makin melemah, sebelum kesadarannya menghilang. Dia berujar dengan lirih.
“ Jungkook, tolong aku. ”
💜 The Truth Untold 💜
Kedua kaki Jungkook melangkah pasti memasuki gedung pencakar langit milik Taehyung. Dari kemarin, sejak Ahreum pergi pikirannya tidak pernah berhenti memikirkan istri keduanya itu. Rasa cemas, gelisah, dan takut terus memenuhi otaknya. Mengingat keadaan Ahreum pasti sedang drop karena dia baru saja kehilangan janinnya.
“ Mau apa kau di sini? ” Bukan sambutan hangat yang Jungkook dapatkan, tapi sebuah serangan mulus di wajahnya.
Taehyung yang tidak bisa mengendalikan emosinya, segera menyerbu Jungkook brutal. Sampai beberapa pegawai harus menenangkan bosnya itu. Jungkook menerima setiap pukulan itu, tidak berniat mengelak atau membalas karena dia memang pantas mendapatkannya.
“ Di mana Ahreum? ” Kata Jungkook sambil menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.
“ Bukan urusanmu! ” Jawab Taehyung sambil menghempaskan tangan-tangan ana buahnya yang meeganginya agar tidak menyerang Jungkook lagi.
“ Aku harus bersamanya, dia membutuhkanku. ” Jawab Jungkook mantap.
“ Cih! Kau pikir baru hari ini dia membutuhkanmu! Kemana saja kau saat dia dirawat?! ” Ya! Taehyung mengatakannya.
“ Dirawat? Kenapa? ” Jungkook mengernyit.
Taehyung kelabakan, dia bingung harus menjawab apa.
“ Kau lupa? Dia baru saja keguguran, selama beberapa hari dia dirawat di Rumah Sakit Paris. Saat itu dia menelfonku. ” Elak Taehyung dengan wajah seserius mungkin.
Jungkook merasa ada yang aneh dengan Taehyung. Detik itu juga wajah Ahreum terbayang dibenak Taehyung.
“ Aku akan membiarkannya pulang ke rumah lamanya. Tapi aku, akan tetap berdiri di tempat yang sama. ” Kata-kata Ahreum beterbangan di kepala Taehyung.
Dia menghela nafas panjang lalu...
“ Dia ada di apartemen Jimin. ” Jungkook terkejut bukan main. Kenapa harus Jimin?
“ Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran. Dan, jaga adik kandungku baik-baik. ” Jungkook mengangguk lalu berlari, menghiraukan luka pada wajahnya. Yang terpenting hanyalah Ahreum.
Selang beberapa detik, ponsel Taehyung berdering. Kim Ahreum, nama itu yang tertera. Dia segera mengangkat panggilan itu. Tapi yang dia dapati hanya kesunyian, sebelum suara yang begitu lirih terdengar.
“ Jungkook, tolong aku. ”
Taehyung mengerti, sesuatu pasti sedang terjadi. Dia segera bergegas, menghubungi Jimin. Memintanya agar cepat kembali ke apartemennya sebelum Jungkook membawa Ahreum ke Rumah Sakit dan rahasia mereka terbongkar. Taehyung berlari menuju tempat parkir. Memacu mobilnya menuju apartemen Jimin dengan kecepatan tinggi.
Adiknya harus baik-baik saja.
To Be Continued~~
Ada yang merasa janggal gak? Aku ninggalin sebuah clue loh 😂
Ketchup cuyung dari aku... Muach 💋💋
KAMU SEDANG MEMBACA
The Truth Untold
FanfictionPenuh kesepian, kebun ini mekar penuh duri. Dan aku tau, semua kehangatanmu benar. Aku ingin memegang tanganmu. Ini takdirku, jangan tersenyum padaku, terangi aku. Karena aku tidak bisa datang padamu. Tidak ada nama yang bisa kau hubungi. Kau tau, a...
