26. Wind

6.2K 792 38
                                        

Pukul 8 malam, Jungkook baru saja menginjakkan kakinya di kediaman mewah miliknya. Dia pulang sendirian karena dia tidak tau kemana Ahreum pergi. Tadi, Jungkook memang tertidur di ruang rawat Jihan lalu setelah dia bangun, Ahreum sudah tidak ada di sana. Berkali-kali Jungkook mencoba menelfon ponsel Ahreum tapi ponsel istrinya itu mati. Pesan-pesannya juga tidak ada yang dibalas. Ada perasaan cemas dan gelisah, ditambah lagi Ahreum yang saat ini sedang mengandung. Tapi Jungkook harap, Ahreum sudah sampai rumah.

“ T... Tuan! ” Seorang pelayan berlari terbirit menghampiri Jungkook.

“ Ada apa? ” Jawab Jungkook malas, dia sudah sangat lelah dan letih.

“ Tuan muda demam tinggi. Daru tadi dia terus memanggil nama Nyonya. Tapi berkali-kali kuhubungi ponselnya tidak aktif. Tolong Tuan muda, Tuan. ” Saat itu, Jungkook berlari secepat mungkin.

Eunwoo adalah bagian dari hidupnya. Kalau sesuatu terjadi pada malaikat kecilnya, Jihan pasti marah besar. Dia segera menyeruak masuk ke kamar buah hatinya. Dan disambut oleh tangisan hebat sang buah hati.

Huwaaaaa~~ Eomma.. Eomma... Hiks... Eomma... ” Wajah Eunwoo kelihatan memerah, bibir mungilnya pucat pasi, dengan wajah berhiaskan air mata.

Jungkook segera meraih tubuh kecil itu, tubuhnya sangat panas. Eunwoo terus meronta dan memanggil nama Ahreum.

Appa isseo.... Gwenchana.. ” Jungkook mencoba menenangkan putranya tapi tetap saja. Dia terus meneriakkan nama Ibunya.

Eomma... Hiks... Eomma... ” Jungkook segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Ahreum.

Jawabannya nihil. Ponselnya mati, amarah Jungkook terpancing. Dia membanting ponselnya kesal lalu berdecak.

“ Cepat panggil dokter! ”

Entah karena efek banyak pikiran atau lelah, belakangan ini Jungkook berubah menjadi emosian tapi semua itu dia lampiaskan pada Ahreum. Sementara dia tidak tau, kalau sebenarnya Ahreum sedang tersenyum di tengah tangisannya.

🎵 The Truth Untold 🎵

Pukul 1 dini hari, Ahreum berhasil mendaratkan tungkainya di rumah dengan tubuh basah kuyup. Rumahnya sangat sepi, lampu-lampu juga sudah paham. Ahreum tebak, semua pegawainya pasti sudah ke paviliun dan Eunwoo, pasti sudah tidur dengan Jungkook. Ahreum melangkahkan kakinya perlahan menuju kamarnya. Sebelum secara tiba-tiba semua lampu yang ada di bangunan mewah itu menyala. Jungkook berdiri di bawah anak tangga, memandang Ahreum datar dan dingin.

“ Kau belum tidur? ” Tanya Ahreum.

“ Dari mana kau? ” Tanya Jungkook balik.

“ Aku? Dari butik. ”

“ Kenapa ponselmu mati? ”

“ Bateraiku habis. ”

“ Kenapa kau tidak bilang kalau kau pergi ke butik? Kenapa kau tidak menghubungiku? Kau tau?! Eunwoo demam tinggi! Dan dia mencarimu! Puluhan kali aku menghubungimu tapi ponselmu mati?! Kenapa kau seenaknya sendiri memperlakukan putraku seperti itu?! Aku tau dia bukan dari rahimmu!! Tapi Eunwoo menyayangimu!! Kenapa kau tidak memperdulikannya?! ” Baru kali ini Jungkook membentaknya. Dia marah karena alasan yang tidak masuk akal.

Setetes air mata Ahreum berhasil lolos. Ahreum mencoba tetap tenang, dia hanya menyeka air matanya lalu berjalan melewati Jungkook. Jungkook tentu tidak tinggal diam, dia menarik lengan Ahreum, membuat empunya berdiri tepat di depannya.

“ Kenapa kau diam saja?! Jawab aku!! ” Marah Jungkook.

“ LALU APA YANG KAU HARAPKAN?! ” Teriak Ahreum diiringi isakan.

Hiks... Jawaban apa yang kau minta?! Dengan seenakmu kau bilang aku tidak perduli pada Eunwoo?! Lelucon apa yang ingin kau katakan?! Hiks... Kalau aku memang tidak perduli pada putramu, aku tidak akan sudi menikah dengan duda beranak sepertimu!! Kau bilang aku menyakiti Eunwoo?! Hiks... Lalu kau? Apa kau tidak meyakitiku?! Kau menyakitiku terlalu banyak, Jeon!! Hiks... Kau terlalu sering menyakitiku!! Lalu sekarang apa maumu?! ” Ahreum mengusap kasar air matanya.

“ Apa aku harus mati dulu agar kau berhenti menyakitiku? ” Suara Ahreum terdengar sarat akan kelelahan.

“ Lakukan. ” Ahreum terkejut bukan main menddngar jawaban yang keluar dari bibir Jungkook.

Ahreum tersenyum miris bersama air matanya yang makin deras, dia mengangguk lalu menatap Jungkook lagi.

“ Kalau begitu jangan menyesal. Kau yang memintaku. ” Ahreum berjalan melewati Jungkook dan masuk ke kamar Eunwoo.

Setelah Ahreum mengunci pintu kamar si kecil. Dia bersandar dan menangis, tubuhnya merosot begitu saja. Hatinya benar-benar sakit mengingat perkataan Jungkook tadi. Dia kembali pada wujud aslinya, kasar, dingin, kejam, arogan, dan tidak memiliki perasaan.

Hiks... Appa...

🎵 The Truth Untold 🎵


Esok harinya, pagi-pagi sekali Ahreum sudah siap. Dia harus pergi ke butik untuk menyelesaikan pesanan gaunnya. Pagi buta seperti itu Ahreum sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Eunwoo dan Jungkook. Dia segera bergegas setelah mengecup kening Eunwoo yang masih tertidur.

“ Anda ingin pergi ke butik, Nyonya? ” Tanya seorang pelayan.

“ Ya, jaga Eunwoo, demamnya sudah turun. Kalau dia mencariku, hubungi saja aku. ” Kata Ahreum sambil tersenyum.

“ Lalu kalau Tuan besar bertanya? ” Tanya pelayan itu lagi.

Ahreum nampak berpikir sejenak lalu berujar dengan senyuman.

“ Dia tidak akan bertanya. Sudah, aku berangkat. ” Kata Ahreum lalu pergi begitu saja.

Kalau dia boleh jujur, sebenarnya hari ini tubuhnya sedang tidak sehat. Perutnya terasa mulas, seperti di aduk belum lagi kepalanya yang sangat pening. Tapi dia harus profesional, pekerjaannya tetap harus berjalan. Ahreum mengelus perutnya pelan.

“ Kau harus kuat, sayang. Kita berjuang bersama, ya? ” Kata Ahreum.

Setelah itu dia berangkat bersama supir pribadinya. Dalam perjalanan menuju butik, Ahreum berkutat dengan ponselnya, dia melihat koleksi foto-fotonya dan Jungkook, juga Eunwoo.



“ Apa kau bisa menjamin nyawa Jihan? ”


“ Apa aku harus mati dulu agar kau berhenti menyakitiku? ”


“ Lakukan. ”

“ Lakukan. ”

“ Lakukan. ”

Perdebatan mereka kemarin terus berputar di kepala Ahreum, hingga setetes air mata mulai jatuh membasahi layar ponselnya. Semalaman, Ahreum sudah menghubungi teman-temannya yang berprofesi sebagai dokter. Ahreum meminta bantuan donor ginjal, tapi semua temannya menjawab. Tidak ada stok donor ginjal yang bisa diberikan untuk Jihan. Dia menarik nafas berat. Ahreum tidak boleh menyerah sekarang. Wajah sedih Jungkook tergambar jelas di kepala Ahreum, kalau dia menyerah itu berarti dia ingkar janji pada Jungkook.

Ahjussi.

“ Ya Nyonya? ” Jawab supir Ahreum.

“ Apa kau tau apartemen tempat Jungkook dan teman-temannya berkumpul? ” Tanya Ahreum.

“ Ya, Nyonya. ”

“ Bisa kau antar aku ke sana? ”









To Be Continued~~

Boleh tanya gak?
Menurut kalian, ff ini kurang apa ya? Jawab ya^^

The Truth UntoldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang