“ Apa aku harus mati dulu agar kau berhenti menyakitiku? ”
“ Lakukan. ”
“ Pergi. Pergilah sejauh mungkin sampai aku tidak bisa melihatmu. ”
“ Aku melepaskanmu. ”
“ Keputusanku untuk melepaskanmu itu ternyata benar... ”
“ Aku tidak menyangka kau semurahan ini, Ahreum-ssi. ”
Jungkook terus mengumpati dirinya sendiri saat memorinya secara random kembali memutar kata-kata kasar yang selama ini sering dia lontarkan pada Ahreum. Dia tidak pernah menyadari kalau selama ini, semua perkataannya begitu pahit.
Tapi Ahreum tetap kuat, dia menerima setiap kata-kata kasar itu dengan senyuman. Karena kata-kata yang mengatakan ‘ orang akan merasa kehilangan dan seseorang itu penting. Adalah saat di mana dia sudah pergi ’ rasanya kata-kata itu sangat pantas untuk menggambarkan Jungkook.
Dia terus berlari menyusuri koridor, meninghalkan Jimin yang juga berlari di belakangnya. Dia mempercepat langkahnya saat, kedua matanya berhasil menangkap keberadaan pintu gawat darurat. Dan dia berhenti tepat di depan pintu itu dengan nafas terengah dan keringat menghiasi keningnya.
“ Maaf Tuan, Anda harus mengenakan pakaian khusus dulu. ” Kata seorang suster yang sedang berjaga.
Setelah semua beres, Jungkook segera masuk ke ruangan itu. Matanya segera terfokus pada tubuh Ahreum yang sangat kelihatan semakin kurus. Dia terbaring lemah dengan infus di tangan kanannya, sementara tangan kirinya terpasang selang tipis yang terhubung dengan mesin cuci darah, belum lagi alat bantu pernafasan yang terpasang, dan beberapa alat yang menyerupai kabel yang tertempel di dadanya. Juga perutnya yang kelihatan sudah lebih besar dari yang Jungkook lihat tempo hari.
Saat itu, Jungkook merasa tidak berhasil menjadi seorang suami. Di mana dia saat Ahreum membutuhkannya? Saat Ahreum berada dalam titik terendahnya? Dia malah memperhatikan orang yang salah.
Jungkook duduk di kursi samping Ahreum, meraih tangan kanannya lalu mengecupnya pelan. Dia menempelkan tangan dingin Ahreum ke pipinya.
“ Kenapa kau selalu diam selama ini? Hm? Kenapa kau menyembunyikannya? ” Ucap Jungkook lalu menggenggam tangan Ahreum dengan kedua tangan besarnya.
Jungkook memejamkan matanya pelan sebelum menatap langsung ke wajah Ahreum. Tangan kananya bergerak mengelus perut berisi Ahreum, dia mendekatkan wajahnya ke sana dan mengecupnya pelan.
“ Hai sayang, ini Ayah. Maafkan Ayah karena sudah membuatmu sakit. Maaf Ayah tidak pernah menemanimu, Ayah percaya kau anak yang kuat. Ayah ingin memberimu sebuah tugas, tolong buat Ibumu bangun.. Minta pada Ibumu agar dia membuka mata. Beri Ayah kesempatan agar bisa melihatnya tersenyum, sekali saja. ” Jungkook kembali mengecup perut Ahreum dan memeluknya erat.
Tanpa terasa, setetes air mata berhasil menetes dia segera menyeka air matanya lalu menegakkan tubuhnya. Membelai puncak kepala Ahreum pelan. Dia tersenyum lalu menatap tangan putih itu.
“ Buka matamu, setelah kau bangun aku janji akan menuruti setiap permintaanmu. Kau boleh marah, memukulku, seperti ini. ” Jungkook meraih tangan Ahreum, memukulkannya ke kepala Jungkook berkali-kali.
“ Bodoh! Tidak berguna! Arogan! Kelinci! Terserah kata-kata apapun yang mau kau lontarkan. Tapi tolong, kau bangun untukku. ” Jungkook menggenggamnya lagi sebelum memeluk tubuhnya erat.
“ Kau harus bangun. Aku membutuhkanmu. ” Bisik Jungkook tepat di telinga Ahreum.
Dari luar pintu kaca itu, Jimin berdiri menatap mereka. Senyumannya kembali merekah, dia menghembuskan nafasnya keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Truth Untold
Fiksi PenggemarPenuh kesepian, kebun ini mekar penuh duri. Dan aku tau, semua kehangatanmu benar. Aku ingin memegang tanganmu. Ini takdirku, jangan tersenyum padaku, terangi aku. Karena aku tidak bisa datang padamu. Tidak ada nama yang bisa kau hubungi. Kau tau, a...
