Ahreum berdiri di ambang pintu, mengamati Jungkook dari jauh. Dia masih tidak percaya kalau dia akan membagi panas tubuhnya dengan Jungkook. Ahreum menutup pintu perlahan lalu menyalakan pemanas ruangan. Dia menarik selimut tebal hingga menutupi sebatas leher Jungkook. Dia mendekat sesaat pada Jungkook, nafasnya normal, tidak selemah tadi.
Ahreum segera mengambil sebuah piyama tidur berbentuk kimono dan mengganti pakaiannya dengan piyama itu. Setelah selesai, Ahreum mengambil posisi di samping Jungkook dan menghadapnya. Dia melihat wajah Jungkook yang masih sangat pucat. Tangan halusnya menyentuh kedua pipi Jungkook. Dingin, sedingin es.
Tangan Ahreum terulur menuju kancing kemeja Jungkook. Perlahan tapi pasti, dia mulai membuka kancing itu.
“ Maafkan aku... Aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini.. Maafkan aku... Maaf telah lancang... Maaf... Maafkan aku.. Aku benar-benar minta maaf.. ” Mantra itu terus keluar dari bibir Ahreum sampai dia berhasil membuat Jungkook telanjang dada.
Ahreum menghela nafas saat berhasil melepas kemeja Jungkook, kini tugasnya tinggal satu. His pants! Ahreum menelan salivanya pelan lalu tangannya bergerak menuju resleting. Matanya terpejam erat bersamaan resleting itu yang mulai turun.
“ Aku tidak melihatnya... Sungguh... Aku tidak melihat apapun.. Maafkan aku... Aku tidak lihat... Aku benar-benar tidak melihat... ” Ahreum segera menutup tubuh polos Jungkook dengan selimut tebal itu, rasanya butuh bertahun-tahun untuk melakukan hal sekecil itu.
Kalau saja Jungkook tidak dalam keadaan lemah seperti ini. Ahreum bersumpah tidak akan mau melakukan hal mengerikan ini. Ahreum melepas tali piyamanya, menanggalkan baju tipisnya dan ikut masuk ke dalam selimut. Tapi dia hanya diam, tidak memeluk Jungkook.
“ Kau juga bisa berbagi panas tubuh dengan pasien, misalkan dengan memeluknya secara hati-hati, kontak langsung dari kulit ke kulit akan jauh lebih efektif. ”
“ memeluknya secara hati-hati, kontak langsung dari kulit ke kulit akan jauh lebih efektif. ”
“ memeluknya. ”
“ memeluknya. ”
“ MEMELUKNYA. ”
Tangan Ahreum bergerak melingkari perut Jungkook, dia maju lagi agar Jungkook bisa merasakan panas tubuh Ahreum. Ahreum dibuat terkejut setengah mati karena mata Jungkook tiba-tiba terbuka dan menatapnya. Lagi-lagi Ahreum memasang ekspresi bodohnya.
“ Apa yang kau lakukan? ” Tanya Jungkook dengan suara paraunya.
“ A... Aku... Aku... A... Ak— ” Bagai tersambar petir, bibir Ahreum terkatup seketika saat Jungkook tiba-tiba memiringkan tubuhnya hingga menghadap Ahreum.
Menarik Ahreum agar lebih tenggelam dalam rengkuhannya. Rasanya jantung Ahreum akan segera melompat keluar. Jungkook mengikis jarak di antara mereka hingga sekarang kulit mereka benar-benar menempel sempurna.
“ Tubuhmu hangat. ” Ucap Jungkook sambil memejamkan matanya.
Ahreum masih tidak bergerak karena terkejut, satu tangannya masih melingkari pinggang Jungkook dan tangan yang lain sudah bertengger manis di dada telanjang Jungkook. Ahreum bersumpah, sebentar lagi. Dia pasti akan pingsan kalau Jungkook tidak segera melepaskannya.
“ J.. Jungkook ak— ”
Perkataan Ahreum terhenti saat dia mendengar dengkuran halus keluar dari bibir Jungkook. Akhirnya dia pasrah, Ahreum membiarkan kepalanya bersandar di dada Jungkook dan menyusulnya ke dalam dunia mimpi.
🎉 The Truth Untold 🎉
Pagi harinya, Ahreum bangun lebih dulu tapi dia tetap tidak bisa bergerak karena Jungkook masih merengkuhnya. Tangan Ahreum terulur menyentuh wajah Jungkook yang sudah tidak pucat. Suhu tubuhnya sudah normal, nafasnya juga sudah teratur. Ahreum tersenyum lembut lalu menyentuh bibir Jungkook yang tidak sepucat kemarin.
“ Kau menggodaku? Hm? ” Ahreum segera menarik tangannya dan kembali memasang wajah dungunya.
“ M... Menggoda? A... Aku tidak.. Aku— ”
“ Ahahahahaha.... ” Suara tawa Jungkook memenuhi kamar yang luas itu.
“ Aku suka ekspresi wajahmu yang seperti keledai bodoh itu.. ” Ejek Jungkook.
Ahreum terpaku, selama berbulan-bulan tinggal dengan Jungkook. Baru hari ini, Ahreum melihat Jungkook tertawa lepas seperti itu. Ahreum mengira Jungkook tidak akan pernah bisa tertawa tapi dia salah. Jungkook adalah manusia biasa yang bisa tertawa juga.
“ Kau tertawa? ” Tanya Ahreum ragu. Seketika itu ekspresi Jungkook kembali datar.
“ Tidak. Aku menangis. ” Bisik Jungkook yang mampu membuat Ahreum tersenyum lega.
“ Bangunlah. Aku akan siapkan sarapan untukmu. ” Ahreum sedikit menjauh hingga selimutnya terbentang lebar.
Dia mencoba menggapai piyama tidurnya yang tergeletak di lantai. Tangannya terus berusaha menggapai piyama itu. Tapi yang ada malah..
BRUGH... BRUGH...
Tubuh Ahreum jatuh terlentang di lantai otomatis Jungkook tertarik dan ikut jatuh menimpa tubuh kecil Ahreum. Beruntung selimutnya masih melilit tubuh mereka, jadi tubuh polos mereka tidak terekspos.
Ahreum benar-benar beku sekarang, matanya terpenjara oleh manik hitam pekat milik Jungkook. Tubuh Jungkookpun meremang saat nafas Ahreum menyapu kulit lehernya. Begitu juga sebaliknya, Jungkook bahkan hampir menerkam Ahreum kalau saja dia lupa bahwa kepalanya sedang sakit.
Ceklek...
“ Selamat pa— Woah~ ” Jungkook segera menjatuhkan tubuhnya ke samping Ahreum saat seseorang berhasil masuk ke kamarnya.
Nyonya Somi dan Nyonya Sooyoung memandang kedua buah hatinya dengan mata berbinar. Sementara Jungkook dan Ahreum tengah memasang ekspresi bodoh mereka, sangat menyebalkan.
“ Eomma~~ ” Rengek Ahreum antara malu dan— entahlah dia juga bingung.
“ Ah arraseo.. Selesaikan dulu pekerjaanmu Jungkook. Setelah itu temui kami di ruang makan. ” Kata Nyonya Somi sambil terkikik dan pergi dari sana.
“ P... Pekerjaan? Aish... Aku benar-benar akan gila! ” Kata Jungkook frustasi.
“ Yaakk!! Kalau saja kau tidak menimpaku, mereka tidak akan salah paham. ” Omel Ahreum.
“ Kau yang menariknya, bodoh! ” Kata Jungkook lalu berdiri dan membawa selimutnya ke kamar mandi.
Membuat tubuh polos Ahreum terekspos dengan bebasnya.
“ Yaakk!! Jeon Jungkook!! ”
To Be Continued~~
Good night guys
Vomment yuk
Sebelum bobok baca dulu biar kebawa mimpi 😁😁
KAMU SEDANG MEMBACA
The Truth Untold
FanfictionPenuh kesepian, kebun ini mekar penuh duri. Dan aku tau, semua kehangatanmu benar. Aku ingin memegang tanganmu. Ini takdirku, jangan tersenyum padaku, terangi aku. Karena aku tidak bisa datang padamu. Tidak ada nama yang bisa kau hubungi. Kau tau, a...
