"Woi lo kenapa? Ngelamun aja dari tadi kesambet mbak kunti baru tahu rasa lo," Rio menepuk pundak David yang sedari tadi diam melamun.
Saat ini kelas mereka sedang tidak belajar di karenakan guru-guru sedang rapat untuk mempersiapkan ulangan kenaikan kelas yang akan di laksanakan sekitar tiga bulan lagi.
Karena merasa sumpek di kelas akhirnya David, Rio dan Rian memilih berada di rooftop dan menghabiskan waktu untuk bersantai di sana.
Selama mereka bertiga berada di rooftop tersebut David selalu diam dan melamun entah apa yang di pikirkannya. Rio dan Rian sudah berkali-kali berusaha untuk memancing agar David berbicara tapi itu tidak begitu berhasil.
"Gue nggak apa-apa," jawab David.
"Ailah, jawaban lo kayak cewek aja. Setiap di tanya kenapa pasti jawabannya selalu nggak apa-apa," Rian memutar bola mata jengah. "Kalau nggak ada apa-apa nggak mungkin lo sampai ngelamun dan diam macam orang nggak ada kerjaan. Ingat Vid, kita itu sahabat lo. Walaupun kita grasak-grusuk nggak jelas tapi kita tetap care sama lo, jadi lo jangan sungkan cerita kalau ada masalah atau lagi ada beban pikiran."
"Cie'elah beban pikiran. Nggak sekalian beban perasaan di tinggal mantan gebetan?" celetuk Rio.
"Lihat situasi dan kondisi ogeb! Tuh mulut asal nyeplos aja kayak kenalpot bocor."
Rio mengelus kepalanya yang barusan di gampar oleh Rian.
David tersenyum melihat kelakuan kedua sahabatnya itu. Mereka benar seperti apapun sikap mereka bertiga tapi mereka tetaplah sahabat.
"Makasih. Kalau nggak ada lo berdua mungkin hari-hari gue nggak akan seindah ini," ucap David dengan tulus.
"Aneh nggak sih kalau gue tersentuh sama ucapan lo, Vid?" Rio memegang dadanya seakan menghayati ucapan David.
"Ck, kok gue ngerasa suasananya jadi mellow gini sih?"
"Yan, lo itu tahu situasi dan kondisi nggak? Ngerusak suasana aja," Rio membalikkan ucapan yang sempat di katakan Rian tadi kepadanya.
"Lo nggak ada inspirasi lain apa sampai copas ucapan gue barusan."
Rio mengangkat bahu acuh mendengar protes dari Rian. Sedangkan David menggelengkan kepala melihat kedua sahabatnya yang selalu beradu mulut namun selalu menempel satu sama lain.
*****
Di taman belakang Aliya sedang duduk beralaskan rumput sambil di temani Zio. Sebelumnya Aliya sempat mengajak Vallen namun Vallen menolak karena ingin ke perpustakaan untuk menumpang wifi agar bisa menonton drakor kesukaannya.
"Gimana kondisi lo sekarang? Lebih baik dari kemarin?" tanya Zio yang duduk di samping Aliya.
Aliya yang sedang menggambar menoleh kepada Zio dan menutup buku gambarnya.
"Aku nggak bisa perkirakan Kak, karena menurut aku setiap harinya tidak ada bedanya," Aliya mengalihkan pandangannya agar tidak menatap mata Zio. Dia tidak ingin menjadi lemah dan membuat khawatir orang di sekitarnya.
"Lo harus semangat ngejalanin ini semua. Gue yakin lo kuat karena kalau lo nggak kuat lo nggak akan bertahan sampai sejauh ini," Zio tersenyum untuk menyemangati Aliya.
Aliya mengangguk dan ikut tersenyum. "Aku percaya itu. Aku harus kuat karena banyak orang yang sayang sama aku. Aku nggak mau buat mereka sedih termasuk Kak Zio."
Kalimat terakhir Aliya sukses membuat hati Zio menghangat. Andai saja Aliya melihatnya bukanlah sebagai sosok kakak laki-laki dan bisa mengerti akan perasaannya mungkin Zio akan lebih bahagia melebihi pada saat ini. Tapi Zio sadar dia tidak boleh egois, berada di samping Aliya saja sudah cukup membuatnya bahagia.
"Itu baru Yaya-nya aku," Zio mengacak poni Aliya dengan gemas.
Aliya sedikit tertegun mendengar Zio menggunakan kata 'aku' kepadanya namun Aliya berusaha tidak memikirkannya. Sedangkan Zio sama sekali tidak menyadari apa yang barusan dia katakan, dia spontan mengatakan hal itu.
"Oh iya, tiga bulan dari sekarang udah mau ulangan kenaikan kelas berarti nggak lama lagi Kak Zio bakal tamat dari SMA terus aku nggak ada teman lagi kalau mau ke taman belakang ini," Aliya menunduk. Rasanya baru kemarin dia bertemu dengan Zio dan sekarang tinggal tiga bulan lagi Zio akan lulus.
Zio sedikit menghela napas dan memandang lurus kedepan. "Iya ya? Rasanya baru kemarin kita kenalan tahunya udah mau pisah aja. Gue agak nggak ikhlas sih kalau bakal jauh dari lo."
Aliya mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Maksud Kak Zio apa?"
"Setelah lulus kemungkinan besar gue bakal lanjut kuliah di Jerman, Ayah gue yang usulin dan gue juga minat buat sekolah di sana."
Aliya menunduk, entah kenapa dia seperti merasa akan kehilangan sosok Zio nantinya apabila Zio pergi. "Ah, jadi Kak Zio bakal kuliah di Jerman ya? Kalau gitu semoga kuliah Kakak di sana nanti lancar. Aliya pasti bakal rindu sama Kak Zio."
"Gue juga pasti bakal rindu sama lo dan Jakarta. Di sini banyak banget kenangan gue." "Termasuk kenangan gue bareng lo, Aliya. Gue nggak sanggup untuk tinggalin itu semua," lanjut Zio dalam hati.
"Ya udah. Sekarang kita balik ke kelas. 10 menit lagi bel masuk. Yah walaupun guru belum tentu bakal masuk kelas."
Aliya mengangguk dan mulai berdiri dari duduknya. Belum sempurna Aliya berdiri Aliya kembali terjatuh ke tanah.
"Yaya, lo baik-baik aja?" tanya Zio panik.
"Kaki aku mati rasa dan nggak bisa di gerakin."
Aliya memukul-mukul kakinya berharap kakinya bisa di gerakan lagi.
"Jangan di pukul-pukul. Sini biar gue yang lurusin mungkin aja itu cuma keram karena lo kelamaan duduk."
Zio membantu Aliya untuk meluruskan kakinya. Sekitar 15 menit berlalu akhirnya kaki Aliya sudah mulai kembali bisa di gerakkan.
"Coba kakinya lo gerakin pelan-pelan dulu."
Aliya mengikuti instruksi yang di ucapkan Zio dan dengan perlahan Aliya menggerakkan kakinya.
"Udah mendingan?"
Aliya mengangguk. "Makasih ya, Kak. Untung aja ada Kakak. Belakangan hari ini memang kaki aku suka tiba-tiba mati rasa dan susah di gerakin. Mungkin karena aku terlalu lelah. Tapi aku baik-baik aja kok," Senyum Aliya mengembang di kedua sudut bibirnya seakan yang barusan dia katakan hanyalah hal kecil yang tidak penting.
"Lain kali kalau tiba-tiba kaki lo mati rasa lagi tunggu aja beberpa menit jangan di paksakan untuk di gerakin."
"Siap calon Pak dokter."
Zio tersenyum mendengar ucapan Aliya. Entah sihir apa yang di gunakan Aliya sampai Zio sendiri terkadang tidak sadar berapa banyak dia tersenyum saat berada di samping Aliya.
Dengan perlahan Zio membantu Aliya untuk kembali berdiri. Zio mengantar Aliya terlebih dahulu sebelum pergi ke kelasnya.
Aliya berterimakasih dan tersenyum ke arah Zio setelah sampai di depan kelas. Senyum yang menyembunyikan segalanya menjadi satu, senyum yang menyamarkan semua luka menjadi suka, dan senyum yang menjadi topeng untuk menutupi semua rasa sakit yang ia rasakan secara diam-diam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
KAMU SEDANG MEMBACA
Smile in the pain
Teen FictionAku tersenyum untuk menyembunyikan sakit ku. Aku tertawa untuk meredam jeritan ku. Aliya. Kita sama-sama menyembunyikan banyak hal. Banyak hal yang menyatukan kita tapi kita terlalu bodoh untuk menyadarinya. David. Permainan takdir memang lu...
