Bel pulang baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, guru yang mengajar di kelaspun sudah keluar menyisakan murid-murid yang tinggal mengemasi buku-buku mereka ke dalam tas.
"Aliya, gimana? Lo jadi nerima tawarannya Bu Femi?" tanya Vallen ketika berhenti di samping meja Aliya.
"Iya jadi kok. Aku juga udah dapat pasangan."
"Oh.... Jadi David udah mau jadi—" Aliya menutup mulut Vallen dengan telapak tangannya setelah Vallen menyebutkan nama David.
David yang masih duduk di samping Aliya sempat menatap penasaran kearah Aliya dan Vallen karena membawa namanya dalam percakapan mereka namun tidak lebih dari tiga detik dan kemudia David berdiri meninggalkan kelas dengan acuh.
"Buahhh... Lo kenapa bekap gue! Gue nggak bisa napas tau," Vallen menarik paksa tangan Aliya dan menghirup napas dalam-dalam.
Aliya dengan tampang berdosanya hanya terkekeh pelan melihat Vallen.
"Lo ngapain sih bekap gue. Kayak David nggak tahu aja soal tawaran Bu Femi."
"Emang."
"Loh? Trus yang jadi pasangan lo di acara kelulusan nanti siapa? Trus kenapa nggak lo kasih tahu David kan Bu Femi bilangnya lo due bareng David? Trus emang Bu Femi udah cariin lo pasangan baru? Kok bisa emang David kenapa?"
Aliya memutar bola matanya, "Kamu nanyanya satu-satu. Aku pusing mau jawab yang mana dulu."
"Bebas. Jawab yang mana aja sok atuh."
"Yang jadi pasangan duet aku itu Kak Zio, dia yang nawarin sendiri. Trus dia udah minta izin ke Bu Femi dan dibolehin. Dan soal David, David nggak kenapa-napa."
"Yah, kenapa nggak jadi sama David. Kan suaranya bagus banget. Tapi nggak papa deng David nggak bisa yang pokok Kak Zio masih bisa kan lumayan bisa lihat Kak Zio nyanyi. Ih, kok gue semangat banget ya, pengen lihat dia pas nyanyi nanti," Vallen tersenyum lebar dan mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangan.
"Udah jangan ngelantur kemana-mana. Pulang yuk!"
Aliya dan Vallen keluar dari kelas bersama namun saat melewati gerbang mereka berpapasan dengan Zio yang baru akan keluar dari gerbang juga.
"Butuh tumpangan?" tanya Zio.
"Ah.. Nggak perlu aku bareng Vall-"
"Aduh Aliya, gue lupa gue nggak langsung pulang soalnya mau mampir ke toko kue dulu hari ini adek gue ulang tahun. Gue duluan ya, dadah," Vallen berlari meninggalkan Aliya dan Zio yang menatap kepergiannya dengan bingung.
"Vallen punya adik? Kan dia pernah bilang kalau dia itu anak bungsu. Emang mamanya habis lahiran?" gumam Aliya pelan.
"Jadi gimana? Butuh tumpangan?" Suara Zio menyadarkan Aliya dari kebingungannya.
"Hah? Iya, aku bareng Kak Zio," Aliya menaiki motor sport Zio dan mereka keluar dari lingkungan sekolah.
Dari arah kejauhan ada sepasang mata yang memerhatikan adegan barusan dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
"Kalau suka itu dijagain bukan di mata-matain kaya lo."
David melihat sosok yang berdiri di sampingnya.
"Bukan urusan lo dan jangan sok tahu," jawab David datar.
"Lo salah. Itu masih urusan gue karena yang lo liatin itu Aliya-sepupu gue yang udah gue anggap kayak adik kandung gue sendiri," balas Raga. Ya, Raga lah yang berbicara dengan David. Mereka sekarang sedang berada di koridor sekolah yang sudah lumayan sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Smile in the pain
Fiksi RemajaAku tersenyum untuk menyembunyikan sakit ku. Aku tertawa untuk meredam jeritan ku. Aliya. Kita sama-sama menyembunyikan banyak hal. Banyak hal yang menyatukan kita tapi kita terlalu bodoh untuk menyadarinya. David. Permainan takdir memang lu...
