KEMBALI TERINGAT

980 16 1
                                        

Di belakang panggung Aliya dan Zio sedang mengobrol mengenai rencana Zio yang akan kuliah di Jerman namun harus terhenti ketika Zia berlari kearah mereka dengan ayahnya yang berada di belakang Zia.

Aliya yang melihat Zia berlari sambil memanggil namanya tersenyum kemudian merentangkan tangan dan membawa Zia ke gendongannya.

"Kak Aliya, Jia kangen Kakak. Kakak kapan main ke lumah Jia lagi?"

Dengan gemas Aliya menduselkan hidungnya kearah pipi tembam Zia sedangkan Zia tertawa karena geli.

"Kalau ada waktu Kakak bakal main lagi ke rumah Zia. Kak Aliya juga kangen banget sama Zia."

"Kak, Abang Jio jahat. Masa nggak bolehin Jia ikut ke lumah Kakak tadi," Zia mengadu dengan muka cemberut kepada Aliya. Zio hanya mengangkat alisnya karena adiknya yang mengadukannya kepada Aliya seakan dia lah yang bersalah di sini.

"Lah, Abang kan cuman nurutin Bunda. Kalau Zia nanti nangis di tengah jalan gimana?" Zio membela dirinya sendiri dan menggoda adiknya.

"Jia udah besal, Abang. Jia nggak akan nangis. "

"Trus kemarin yang nangis gara-gara sayap ayam gorengnya patah siapa?"

"Itu Abang Jio yang nakal. Itu kan punya Jia tapi Abang lebut. Jadi Jia talik tapi malah patah."

Aliya terkekeh mendengar perkataan Zia yang menyalahkan Zio dengan berapi-api.

"Udah Zio. Kamu ini suka banget godain adik kamu. Ntar nangis gimana?" ucap ayah Zio.

"Ayah! Jia nggak nangis!" teriak Zia kesal dan mengundang perhatian orang-orang yang berada di belakang panggung sejenak sebelum kemudian terkekeh dan melanjutkan aktivitas mereka.

"Iya iya, Zia nggak cengeng," ayah Zio mengambil alih Zia dari gendongan Aliya karena badan Zia yang bisa dibilang tidak ringan.

"Bunda mana, Yah?" tanya Zio.

"Di depan, Ayah ke sini karena Zia yang ngerengek minta ketemu Aliya jadi Ayah tanya dan katanya kalian di sini."

Ayah Zio mengalihkan tatapannya kearah Aliya, "Oh, iya. Aliya kenapa minggu ini belum periksa ke Om lagi? Kamu udah harus cuci darah seharusnya."

Zio menatap Aliya penuh selidik dan Aliya hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Ah itu.. Aliya lupa, Om."

"Kamu ini kok bisanya lupa sama jadwal periksa rutin kamu. Om sempat hubungi Mama kamu tapi dia lagi ada di luar kota."

"Iya, Om. Bunda barusan pulang kemarin, dan ponsel Aliya juga sempat mati karena ikut kerendam pas cuci tas."

Ayah Zio menggelengkan kepala dan pamit kembali ke depan panggung karena sudah saatnya Aliya dan Zio tampil.

"Lo kok bisa lupa gitu, Ya? Jangan sampe itu keulang lagi. Lo rajin minum obat lo kan?"

"I-iya kok," Aliya menundukkan kepalanya menghindari tatapan Zio.

Zio menghela napas dan mengusap kepala Aliya lembut, "Ya udah nggak usah di pikirin. Gue cuma khawatir aja denger lo nggak masuk pemeriksaan minggu ini. Gue merasa bersalah mungkin karena latihan untuk persiapan ini lo jadi lupa trus gue juga yang lagi sibuk urus dokumen gue jadi nggak bisa ngingetin lo."

"Udah, sekarang lupain itu dan fokus sama penampilan kita, oke?" Aliya mengangkat kepalanya dan tersenyum kemudian menerima uluran tangan Zio ketika nama mereka dipanggil keatas panggung.

*****

Seorang MC yang berada di panggung memanggil penampilan selanjutnya dan perhatian para undangan beralih kembali melihat kearah panggung.

Smile in the painCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang