BERTAHAN ATAU MERELAKAN?

1.2K 33 33
                                        

“Gue nggak suka saat tahu kenyataannya bukan gue yang selalu buat lo tersenyum. Tapi nggak salahkan kalau gue berharap lo bakal bahagia karena gue suatu saat nanti?”

David baru saja memasuki halaman sekolah dan segera memarkirkan motornya. Bersamaan dengan itu Rio dan Rian datang tidak lama setelahnya.

Letak rumah Rio dan Rian memang bersebelahan jadi setiap hari Rian akan nebeng untuk berangkat sekolah bareng dengan Rio.

“Wuishh.. Datangnya barengan. Pertanda apakah ini ya Allah.” Rio langsung saja berlari ke arah David dan disusul oleh Rian.

“Berisik.” Ketus David dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan menggunakan jari-jari tangannya.

“Sambutan yang sangat luar biasa.” Rian geleng-geleng kepala melihat prilaku David yang selalu ketus seperti ini.

David hanya mengangkat bahu acuh kemudian berlalu terlebih dahulu meninggalkan Rio dan Rian di parkiran. Merasa di tinggal mereka pun menyusul David yang sudah menjauh dari area parkir.

Saat berjalan di koridor banyak siswi yang bersikap centil untuk menarik perhatian David. Ada pula yang berlaga seperti adegan sinetron dengan menyerahkan bingkisan kepada David tapi David sama sekali tidak menghiraukannya.

Lain halnya dengan Rio dan Rian. Berjalan bersama David di koridor merupakan rejeki nomplok bagi mereka. Bagaimana tidak setiap ada siswi yang memberikan bingkisan maka Rio dan Rian dengan senang hati mengambil bingkisan tersebut. Bahkan dengan tidak tahu malunya mereka masih menyempatkan diri untuk menggoda siswi tersebut.

Karena terlalu banyak bingkisan yang di berikan, Rio dan Rian harus memasukkannya ke dalam tas mereka.

“Hai David!”

Ketahuilah walaupun Rio dan Rian termasuk cowok tengil yang sering menggoda gadis-gadis tapi mereka bahkan enek untuk melihat gadis di depan mereka ini.

Bagaimana tidak sekarang Sofie sedang berdiri di hadapan mereka dengan gaya centilnya. Wajah yang dipoles sedemikian rupa, baju yang dikecilkan sekecil-kecilnya seakan tidak pantas dipakai untuk ke sekolah.

“Hai saudaranya ondel-ondel!” Balas Rio yang sengaja menjahili Sofie.

“Gue nggak ngomong sama lo!” Sofie mengibaskan rambutnya dan menunjuk ke arah Rio.

Rian yang melihat kelakuan Sofie hanya bisa menghela nafas.

“Lo bisa minggir nggak? Ngehalangin jalan aja lo.”

Sofie mengalihkan pandangannya ke arah Rian. “Lo diem. Gue nggak ada perlu sama lo.”

Sofie berjalan mendekat ke arah David dan mengarahkan tangannya ke leher David untuk memperbaiki dasinya.

“David ntar malam kamu ada waktu nggak? Jalan bareng yuk!”

David sebenarnya risih dengan kelakuan Sofie. Apakah Sofie sama sekali tidak malu melakukan ini semua di depan banyak orang. Bahkan sekarang mereka menjadi tontonan.

Aliya yang baru saja keluar dari ruang guru tidak sengaja melihat kejadian tersebut. Ntah kenapa hatinya sakit saat melihat David yang malah membiarkan Sofie tetap mendekatinya.

“Aliya. Apaan sih terserah David lah mau dekat sama siapa aja. Perasaan seperti ini nggak seharusnya kamu rasain. Kamu dan David nggak lebih dari sekedar teman.” Aliya berusaha menenangkan hatinya yang mendadak sesak melihat itu semua.

Karena tidak ingin rasa sesak itu semakin menjadi Aliya memilih menjauh dari koridor. Ntahlah ke mana dia akan pergi yang terpenting dia bisa menjauh dari itu semua.

Smile in the painCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang