BASKET (1)

1K 23 0
                                        

"Janganlah menyimpan rasa dendam sebab dendam yang kau pendam hari ini akan menghancurkanmu di hari nanti."

Pagi ini kelas XI MIA 2 dan XII IPS 1 memiliki jadwal olahraga di waktu yang bersamaan yang berarti kelas Aliya dan kelas Sofie akan bergabung dikarenakan guru yang mengajar di kelas Aliya sedang berhalangan hadir.

Materi yang akan mereka pelajari sama yaitu basket. Seperti kebanyakan kasus saat jam pelajaran olahraga maka yang kebanyakan aktif hanyalah para murid laki-laki sedangkan murid perempuan hanya memperhatikan dan melakukannya ketika di perintah oleh guru.

PRITTTTT...

Peluit yang ditiup oleh pak Adit selaku guru penjaskes berbunyi yang menandakan kedua kelas untuk berbaris dan mendengarkan arahan sebelum melakukan praktek.

"Setiap kelas buat dua berbanjar, laki-laki di samping kanan barisan putri." Pak Adit mengarahkan kedua kelas untuk segera merapikan barisannya.

"Baik, karena hari ini Pak Somad tidak bisa hadir karena sedang ada urusan ke dinas maka untuk kelas XI MIA 2 bapak yang ambil alih, kebetulan materi kalian sama jadi bapak menggabungkan kelas kalian."

Pak Adit mulai memberikan sedikit arahan dan mengingatkan kembali tentang materi bola basket. Murid laki-laki selalu saja menjawab jika ada hal yang di tanyakan tentang basket tetapi ketika murid perempuan di tanya maka mereka hanya diam saja.

"Ish, lama banget sih. Make up gue luntur ntar. Ih mana ada David lagi kan nggak banget kalau make up gue luntur di depan David." Sofie mengeluh karena arahan yang di sampaikan pak Adit belum selesai padahal dia menjelaskan sudah sekitar 20 menit.

"Sin, ntar temenin gue dulu ya ke kamar mandi. Gue mau rapiin make up." Sofie berbalik ke arah Sindy yang berada di belakangnya dan dibalas anggukan kepala oleh Sindy.

"Kalau ada yang sakit silahkan memisahkan diri dan jangan di paksakan untuk mengikuti praktek."

Vallen membalikkan badannya ke belakang. "Aliya, lo yakin mau ikut praktek? Muka lo agak pucat tau, mana kemarin lo sempat pingsan."

Aliya tersenyum ke arah Vallen menandakan bahwa dia sanggup. "In syaa allah, aku kuat."

"Tapi kalau lo udah nggak kuat kasih tau gue ya! Biar gue antar ke UKS."

Aliya menganggukkan kepalanya dan mengacungkan ibu jarinya.

"Yang pertama main adalah putra sedangkan yang putri bisa ke pinggir lapangan dulu dan melihat bagaimana putranya bermain."

Vallen dan Aliya kembali memfokuskan perhatian mereka ke arah depan dimana Pak Adit sedang berdiri.

"Setiap kelas buat dua kelompok. Yang putra dua begitupun yang putrinya."

Dengan cepat mereka membentuk kelompok dan memilih anggota kelompok mereka masing-masing.

Sesuai arahan para siswi menuju ke pinggir lapangan sehingga hanya para siswa dan pak Adit lah yang ada di lapangan.

"Setiap ketua tim maju untuk mengambil nomor urut!" Instruksi Pak Adit.

Sudah di pastikan David, Rio, dan Rian satu kelompok dan David lah yang menjadi ketuanya. Kelompok David merupakan saingan yang sangat berat karena David yang notaben ketua tim basket di sekolahnya, begitupun Rio dan Rian yang merupakan anggota tim basket inti.

Dari kelas XI MIA 2 yang menjadi ketua tim yaitu David dan Azka yang merupakan ketua kelas mereka. Dan dari kelas XII IPS 1 yang menjadi ketua yaitu Hendra dan Rendy, mereka juga merupakan mantan anak basket yang bisa dibilang handal.

Smile in the painTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang