"Nanti gue jemput."
Sebuah pesan masuk melalui aplikasi chat.
Anna mendengus ketika membaca pesan yang hanya terdiri dari tiga kata itu.
Pesan singkat itu sangat berpengaruh. Bahkan Anna rela menunggu di pos satpam sekolahnya karena jam pulang sekolah Anna dan orang yang mengiriminya pesan singkat terpaut 45menit. Anna juga menolak ajakan teman-temannya, termasuk Sem, adiknya.
Motor trail berwarna hijau berhenti tepat di depan Anna.
"Gue balik sama Abang." Ucap Anna ketika sang empu motor membuka helm, yang tak lain adalah Sem
"Lo nggak lagi bohongin gue, kan?" Sem menyipit.
"Menurut lo, gue bakal bohong ngatas namain Abang?"
"Kali lo pengen bunuh diri." Kekeh Sem.
"Sialan. Udah sana balik!"
"Awas lo diculik om-om." Sem berlalu dengan menjitak kepala Anna.
"Anjir! Songong!" Teriak Anna yang dihadiahi tatapan aneh oleh orang-orang.
Tak butuh waktu lama, Sam, seseorang yang mengirimi Anna pesan singkat, tiba di sekolah Anna.
"Abang ngapain sih jemput Anna? Mana telat lagi." Anna mengomel tidak jelas.
Sam hanya diam dan mengacak rambut Anna gemas. Tidak berniat menjawabnya.
Anna sempat terkejut ketika Sam mengacak rambutnya. Sam hampir tidak pernah mengacak rambut Anna. Bahkan sampai membukakan pintu mobil untuk Anna seperti ini. Tidak pernah.
"Abang tumben bawa mobil." Tanya Anna saat di dalam.
"Pengen."
Anna hanya melirik Sam, malas. Abangnya ini sangat irit rupanya.
"Kita ngapain ke sini, Bang?" Tanya Anna.
Mereka berhenti di sebuah kafe kecil di dekat sekolah Anna. Terlihat banyak pasangan muda-mudi di sana, beberapa diantaranya adalah pelajar. Terlihat dengan seragam yang mereka kenakan.
Sam memilih kursi di dekat jendela.
"Bang, ngapain?" Ulang Anna.
"Makan. Abang laper."
Anna sedikit aneh mendengarnya. Jarang sekali Sam menyebut dirinya Abang selain kepada orangtuanya dan saat dia marah. Dia lebih sering menggunakan lo-gue, meskipun Bundanya sudah memperingatkan berkali-kali.
Apa lagi ini, Sam menjemput Anna. Biasanya sampai Anna merengek-rengekpun Sam tidak akan mau menjemputnya, malah menyuruhnya pulang dengan Sem. Dan sekarang Sam mengajak Anna makan di luar. Rasanya ini bukan Sam.
Bukan Abang gue. Batin Anna.
"To the point aja, deh, Bang."
Kalimat itu berhasil membuat Sam mengernyit.
"Abang kenapa jemput Anna? Sampai ngajakin makan di luar segala lagi."
"Baper lo?" Tanya Sam dengan raut wajah yang sangat datar.
Anna tersedak ludahnya sendiri.
"Dih, apaan dah. Baper sama kanebo kering? Kaya nggak ada makhluk hidup aja."
Sam hanya terkekeh pelan.
"Maafin Abang, ya?"
Anna terdiam.
"Abang tahu kemarin Abang keterlaluan. Abang larang-larang Anna buat dekat sama Rafa. Abang juga nggak tahu kalau efeknya sampai Anna diemin Abang kaya gini. Anna beneran suka sama Rafa?"
Anna membelalak sempurna, karena ini pertama kalinya Sam berkata panjang lebar dan tidak ketus, bahkan dia tidak menggunakan lo-gue.
"Kalau emang Anna beneran suka sama Rafa, ya udah." Ucap Sam sedikit tidak rela.
"Anna nggak suka sama Rafa, Bang."
Sam sempat terkejut. Bagaimana tidak, bahkan Anna selalu membelanya habis-habisan.
"Sejak kita ketemu di depan komplek itu, Rafa udah nggak pernah deketin Anna lagi. Bahkan dua hari setelahnya, dia udah jadian sama Tiara, teman sekelas Anna."
Sam tersenyum penuh arti.
"Semenjak itu, Anna jadi tahu kalau Rafa nggak baik. Anna terus keinget omongan Abang kalau Abang nggak perlu ngenal orang buat tahu dia baik atau enggak. Harusnya Anna dengerin Abang." Air mata Anna menetes.
Dengan sigap Sam langsung mengusapnya. Dia tidak akan membiarkan satu bulir air matapun menetes dari mata indah Anna.
"Abang nggak akan larang Anna, kalau itu baik. Abang ini Abangmu. Anna adik perempuan Abanh satu-satunya. Abang tahu, Abang lebih tahu dari Anna. Anna masih kecil. Lihat, baru digituin aja udah nangis." Sam terkekeh.
"Abang mati-matian jaga Anna sama Sem. Abang laki-laki kedua yang sayang sama Anna setelah Ayah dan sebelum Sem. Kalau Abang larang Anna, itu bukan tanpa alasan. Abang selalu mikirin keputusan Abang. Abang di sini pasang badan buat jaga Anna, terus ada orang yang seenaknya nyakitin Anna, Abang nggak bakal diem aja. Anna paham maksud Abang, kan?"
Anna semakin menangis. Bukan karena sakit hati atas perlakuan Rafa. Dia menangis karena ucapan Sam. Abangnya yang seperti es batu itu sangat menyayanginua, dan Anna justru mendiamkannya, pasti Sam sangat frustasi.
"Maafin Anna.."
"Iya. Anna bisa janji sama Abang?"
Anna mulai menatap serius mata elang milik Abang kesayangannya itu.
"Janji bakal nurut sama Abang. Nurut sama Ayah sama Bunda. Tanggungjawab Abang sama beratnya sama Ayah Bunda. Abang harus banggain mereka, ya meski Abang suka berantem. Abang juga harus jaga kalian berdua. Ayah nggak bakal bisa jaga kalian secara langsung, Ayah sibuk, dunia remaja jaman sekarang sama dulu juga udah beda. Yang Anna harus tahu, jaga adik perempuan itu lebih susah dibanding jaga adik laki-laki. Jadi nurut sama Abang. Jangan bikin Abang tambah susah. Bisa?"
Anna masih terus menangis, dia mengangguk pasti.
Sam tersenyum dan mengacak rambut Anna.
Sam melambaikan tangan untuk memanggil pelayan.
"Pesen, gue traktir."
"Yeay!"
Tapi apa ini? Kenapa lo-guenya kembali lagi?
Pesanan mereka datang. Anna memesan double chicken steak dan jus buah naga karena tidak dapat dipungkiri bahwa menunggu Sam untuk menjemputnya membuatnya lapar, apa lagi menangis seperti tadi, rasa laparnya berlipat ganda.
"Abang ngomong apa sama Rafa?" Tanya Anna disela-sela makannya.
Sam hanya mengedikkan bahunya.
"Bohong. Nggak mungkin Rafa langsung jauhin Anna gitu aja. Pasti Abang ngancam dia, kan?"
"Ngapain ngancam. Kurang kerjaan aja."
"Ya terus Abang bilang apa?"
Sam hanya diam dan terus melanjutkan makannya.
"Abaaaang!"
"Gue cuma bilang kalau gue Samudera."
Anna mendecak kesal dengan penuturan Sam.
"Itu mah sama aja."
"Tapi gue nggak ngancam."
Anna mendengus. Meskipun tidam mengancam secara langsung, tetap saja sama. Sam pikir siapa yang tidak mengenal Samudera? Dan siapa yang tidak takut jika seperti itu? Anna sendiri yakin, dia pasti bergidik ngeri jika dia di sana. Sam benar-benar keterlaluan. Sikap posesifnya benar-benar keterlaluan. Anna kesal bukan main dibuatnya.
"Abang harusnya nggak perlu kaya gitu."
"Perlu dan harus."
"Tapi Bang-"
"Cepet makan. Terus pulang."
Anna kembali mendengus dan melanjutkan makannya tanpa bertanya apapun lagi, bahkan sampai mereka tiba di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
K I N G [Completed]
Fiksyen RemajaSamudera. Lelaki jangkung bermata elang, siswa paling disegani di sekolah. Penunggang RX King yang tidak pernah jatuh cinta. Samudera lelaki berhati dingin yang suka tawuran. Hidupnya jadi berantakan sejak dia bertemu dengan Hanun. Selalu ada keada...
![K I N G [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/164029624-64-k503908.jpg)