Tiga hari berlalu setelah kejadian itu, bahkan Hanun yang selalu gugup di depan Sam, kini semakin canggung. Sam memang selalu mengantarkan Hanun pulang, hanya ingin memastikan Hanun aman. Hanun memang tidak menolaknya, namun hampir tidak ada pembicataan diantara mereka.
Hanun dan sahabat-sahabatnya sedang berada di kantin, seperti biasa Hanun dipaksa oleh sahabat-sahabatnya.
Kantin cukup ramai, tapi Hanun sama sekali tidak melihat Sam. Ke mana pentolan Garuda itu? Biasanya dia dan teman-temannya selalu menjadi penghuni tetap kantin.
Hanun ingin memesan makanan untuknya dan sahabat-sahabatnya.
"Aw!" Pekik Hanun ketika dia terjatuh karena ada kaki yang menyelempan.
Hanun mencoba berdiri, dan menatap pemilik kaki itu. Seorang wanita dengan rambut hitam yang dikuncir kuda, dan bedak tipis diwajahnya namun tetap terkesan cantik. Jujur, wanita itu cantik.
"Lo pikir lo siapa?" Dia tersenyum remeh.
Hanun membalas senyum remeh.
Wanita itu menyengkeram lengan Hanun dengan kasar, bahkan Hanun sampai meringis dibuatnya.
"Aishh.."
"Gue bahkan nggak tahu sama sekali kalau ada cewek kaya lo di sekolah ini. Tapi yang perlu lo tahu, Sam punya gue! Jadi jangan deketin dia!"
"Gue nggak deketin Sam. Dia yang deketin gue." Jawab Hanun tenang.
"Jadi maksud lo, lo cantik sampai Sam deketin lo?!" Emosinya semakin memuncak, cengkeraman itu semakin kuat.
"Ini peringatan pertama!" Dia melepas tangannya dengan kasar.
"Hanun, lo nggak papa?" Tanya Airin saat wanita itu pergi.
Hanun tersenyum.
Baru saja Hanun ingin bertanya siapa wanita itu, tapi bel masuk telah berbunyi. Bahkan Hanun belum menyantap apapun hari ini. Selama pelajaran Hanun terus memikirkan ucapan wanita itu. Siapa dia? Hanun belum pernah bertemu dengannya selama ini, Hanun baru sadar jika dia terlalu menutup diri, bahkan dia tidak mengenal teman satu sekolahnya ... payah.
Bel pulang sekolah berbunyi, Hanun bergegas untuk keluar kelas.
"Bunda pengen lo ke rumah." Suara bariton itu terdengar saat Hanun sampai di depan pintu kelas.
Hanun hanya diam dan terus berjalan menuju motor RX King yang selalu mengantarnya pulang. Sam, pemilik motor sekaligus suara bariton itu berjalan di belakang Hanun. Hanun yang kecil mungil, diikuti oleh Sam yang jangkung dan kekar di belakangnya.
Sam dan Hanun membelah jalanan Jakarta dalam keheningan, Hanun masih tidak terima dengan perlakuan Sam kepada Gavin yang sudah mencoba baik kepada Hanun. Seharusnya Sam tidak perlu marah-marah, menghajar Gavin dan membuat Hanun takut seperti itu. Hampir 30menit mereka menempuh perjalanan dalam diam.
Hanun tiba di rumah Sam, Hanun mengekori Sam untuk masuk ke rumahnya. Terlihat Maya tengah sibuk dengan majalahnya ketika Sam membuka pintu.
"Abang udah pulang? Mana Hanun?"
Senyum Maya merekah ketika Hanun beringsut dari belakang tubuh anak sulungnya yang tinggi besar. Hanun selalu terlihat kecil ketika di dekat Sam.
"Hanun, ya ampun, Bunda kangen." Maya meletakkan majalahnya dan mendekati Hanun.
"Lebay." Cibir Sam yang dihadiahi lirikan tajam oleh Maya.
"Hanun juga kangen sama Bunda." Hanun membalas pelukan Maya.
Hanun selalu suka saat Maya memeluknya. Jujur, Hanun sangat merindukan pelukan seorang ibu, bahkan dia tidak pernah merasakan pelukan ibu kandungnya.
"Ayo makan siang, Bunda udah masakin buat Hanun."
"Hanun, em, itu, mau ke toilet, Bun." Hanun tersenyum canggung.
"Ah, ya ampun, kamu itu." Maya terkekeh.
"Abang, antar Hanun."
"Meja makan lurus, pintu warna biru." Jelas Sam cuek.
"Abang,"
Hanun hanya tersenyum dan pergi ke toilet.
Saat Hanun keluar dari toilet, Maya dan Sam sudah di meja makan, juga Sem dan Anna. Hanun segera menyusul dan bergabung. Dia duduk di samping Anna, di depan Sam. Sem ada di samping Sam. Rasanya Hanun seperti melihat ada dua Sam di depannya. Hanya saja Sem lebih imut dan santai. Sedangkan Maya duduk di ujung meja, antara Sem dan Anna.
"Abang, Bunda nggak suka ya kalau kamu pakai lo-gue waktu bicara sama Hanun. Jangan kasar, dong. Malu-maluin aja." Ucap Maya saat selesai makan, dan sudah berkumpul di depan televisi.
Sam hanya diam dan terus memainkan ponselnya.
"Abang?!"
"Iya." Jawab Sam singkat.
Mereka larut dalam pembicaraan panjang. Hanun jadi tahu kalau Sam memang selalu dipanggil Abang, Hanun tahu kalau ternyata Sem dan Sam sangat bertolak belakang.
Hanun menyukai keluarga ini, Hanun menyukainya. Hanun bahkan baru dua kali bertemu mereka, tapi mereka menerima Hanun dengan sangat baik dan manis. Hanun suka kelembutan dan keibuan Maya, setidaknya mengobati sedikit rasa rindunya kepada Praswati. Hanun suka Anna, dia partner ngobrol yang pas, dengan Anna, membicarakan apapun selalu menyenangkan, bahkan Hanun bukan Hanun yang pendiam ketika berhadapan dengan Anna. Hanun juga menyukai Sem, dia cukup lucu dan sangat menghibur. Hanun belum pernah bertemu dengan Angkasa, Ayah Sam. Hanun harap jika suatu saat nanti mereka bertemu, Angkasa juga dapat menerima Hanun.
"Sam?" Panggil Hanun pelan.
Sam yang duduk di sampingnya pun menoleh, Hanun menunjukan arloji yang melingkar di tangan kirinya.
"Udah sore, Hanun harus pulang." Ucap Sam.
"Ah, ya sudah. Hati-hati, ya, Hanun. Bunda selalu kanngen sama kamu." Maya mencium Hanun.
Hanun terkekeh, sedangkan Sam justru keluar lebih dulu.
"Kak, nanti ke sini lagi, ya." Ucap Anna.
"Kak, nanti Sem ke sana, ya." Ucap Sem yang mengundang gelak tawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
K I N G [Completed]
Teen FictionSamudera. Lelaki jangkung bermata elang, siswa paling disegani di sekolah. Penunggang RX King yang tidak pernah jatuh cinta. Samudera lelaki berhati dingin yang suka tawuran. Hidupnya jadi berantakan sejak dia bertemu dengan Hanun. Selalu ada keada...
![K I N G [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/164029624-64-k503908.jpg)