"Hanun, lo nggak apa-apa, kan?"
"Lo kemarin ke mana? Kita panik nyariin lo."
"Lo oke, kan?"
"Terus kemarin Sam nyari lo, ketemu?"
"Ketemu di mana? Lo lagi di mana? Ngapain?"
Begitulah kira-kira rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabat-sahabat Hanun. Tidak ada pilihan lain selain menceritakan semuanya. Hanun bercerita mulai dari ada adik kelas yang mengatakan jika Sam menunggunya di belakang sekolah sampai Sam yang menemukan Hanun dalam keadaan kacau.
Benar saja, cerita Hanun berhasil menyulut emosi sahabat-sahabatnya.
"Anjir! Tuh cewek emang nggak tahu diri!"
"Kita harus kasih pelajaran."
"La, udah. Nanti jadi tambah ribet." Hanun melarang.
"Nggak bisa gitu dong, Han. Ini udah keterlaluan. Lagi lo salah apa sampai digituin? Bahkan lo nggak pernah buat masalah sama siapa-siapa." Lala masih menggebu-gebu.
"Ayo, Rin! Kita abisin tuh anak!" Lala menarik Airin kasar.
Airin hanya menatap Hanun, seakan berkata "Sorry, tapi Lala benar."
Hanun menghela nafas pasrah dan mengikutinya.
Lala dan Airin terus berjalan menyusuri deretan kelas XII IPS. Mereka berhenti di depan kelas XII IPS 5. Hanun bahkan baru pertama kali menginjakan kaki di bumi IPS. Hanun benar-benar asing dengan tempat juga anak-anaknya, mereka melihat Hanun berbeda.
"Anak baru, ya?"
"Emang anak Garuda ada yang kaya dia?"
"Siapa? Baru tahu."
Kurang lebih begitu bisikan-bisikan yang berhasil tertangkap oleh telinga Hanun.
Brak!!
"Mana Desi!" Lala menggebrak meja depan dekat pintu dengan sangat kwras.
"Apa-apaan, nih?! Bikin onar di kelas orang." Ucap salah satu siswa kelas itu.
"Gue nggak ada urusan sama lo, mana Desi?!" Lala semakin tersulut.
"Woy! Jangan nyolot dong!" Bentak siswa lainnya.
Hanun bergidik, apakah seluruh siswa IPS seliar ini?
"Bacot lo emang! Gue tanya mana Desi!" Lala tidak gentar sedikitpun.
"Gue Desi." Ucap gadis yang baru masuk kelas.
Airin yang sejak tadi menunggu di luar pun ikut masuk.
Byur!
"Aw! Sorry, sengaja." Airin menyiramkan air mineral dari dalam botol ke puncak kepala Desi.
Airin ini, diam-diam menghanyutkan. Airin sudah geram dengan kelakuan Desi. Cara dia memperlakukan Hanun sangat keterlaluan.
"Lo apa-apaan, sih?!" Desi memekik.
Seluruh orang di sana dibuag melongo dengan aksi Airin. Baru dia yang berani melakukan ini kepada Desi.
Lala menyudutkan Desi ke tembok samping pintj.
"Ini masih nggak seberapa dibanding apa yang lo lakuin ke sahabat gue. Heran gue, kenapa tukang bully kek lo bisa sekolah di sini." Remeh Lala.
"Oh, jadi sahabat lo itu ngadu?" Cibir Desi.
Lala semakin menekan pundak Desi ke tembok.
"Terus masalahnya sama lo apa? Harusnya lo malu udah ditolak Sam, kalau gue jadi lo, gue udah pindah sekolah." Cecar Lala.
"Lancang lo, ya!" Emosi Desi terpancing karena Lala membawa nama Sam.
"Gue cuma ngomong apa adanya. Dasar cewek bar-bar!"
Plak!
Desi menampae Lala tepat saat Lala menyelesaikan ucapannya.
Plak!
Lala menampar Desi lebih keras.
"Lo denger baik-baik. Gue nggak bakal diem aja sampai lo macam-macam sama Hanun. Yang perlu lo catet, gue nggak pernah takut sama lo, Desi Ambarwati." Lala menepuk pipi Desi pelan.
"Oh iya, satu lagi, BH lo ngecap." Lala terbahak diikuti Airin yang terkikik geli.
Semua orang dibuat melongo dengan aksi Lala. Lala, walau tampilannya centil dan feminim, dia memang sangat buas saat marah. Seluruu pasang mata mengantarkan kepergian Hanun dan kedua sahabatnya. Mereka masih ternganga dengan apa yang dilakukan Lala, Lala memang sedikit dikenal di sekolah, tapi baru kali ini Lala melakukan hal seekstrim ith.
"Harusnya lo jangan gitu." Ucap Hanun saat tiba di kelas.
"Biarin apa sih, Han. Dia pantes digituin." Ujar Airin.
"Gila! Lo keren banget, La!" Agung mengacungkan jempolnya.
"Gue suka adegan pas lo nepuk-nepuk pipi Desi tuh." Agung menepuk-nepuk pipi Radit.
"Kalau gue suka pas BH-nya si Desi ngecap." Ucap Radit asal yang menimbulkan gelak tawa.
"Bener tuh. Gue juga suka. Merah, Bung!" Dukung Tomo.
Seluruh kelas tertawa mendengar ocehan Radit dan Tomo. Mereka memang paling bisa memperbaiki suasana.
"La, IG lo apa? Gue follow deh." Mulai Radit.
"Modus lo, simpanse!" Tomo menjitak Radit.
"Daripada gue modusin Hanun."
"Modusin aja kalo berani." Cibir Agung.
Radit mendengus.
"Eh, tapi ngomong-ngomong, itu pawangnya Hanun dateng." Tomo menunjuk Sam dan gengnya yang memasuki kelas Hanun.
Otomatis seluruh kerumunan di meja Hanun bubar, diganti oleh kerumunan Sam dan teman-temannya yang hampir 10orang.
"Kamu nggak papa?" Ada raut khawatir di wajah tampan Sam.
Hanun menggeleng.
"Lo, Lala, ya?" Tanya Ando.
"Ha? I-iya." Jawab Lala gugup.
Tiba-tiba Ando terbahak.
"Kok gue ragu ya, cewek semanis lo berubah jadi buas."
"Boleh minta ID Line?" Lanjut Ando.
"Si Ando gercep, anjay!" Gara berteriak.
"Lala, jangan mau, si Ando play boy. Mending sama Bang Daniel aja."
"Mending sama gue aja, dijamin ngakak terus sampai mampus." Gara percaya diri.
Sam sendiri hanya memjiat pangkal hidungnya.
Lala meraih ponsel yang Ando sodorkan, dan menambahkan kontak linenya di sana. Sontak kelas Hanun ricuh karena sorak sorai teman-teman Sam.
"Kamu benar nggak apa-apa?" Ulang Sam.
"Aku nggak apa-apa, Sam."
Sam mengacak rambut Hanun, "Nanti pulang sama aku."
Sam meninggalkan kelas Hanun, disusul teman-temannya.
"Nanti kalau gue chat, dibalas ya." Ucap Ando sebelum menyusul yang lain.
"Gila! Mimpi apa gue semalem?!" Lala kegirangan.
"Berarti selera Ando bukan yang cantik, tinggi, putih, nyatanya dia suka sama gue."
"Minta ID Line doang, elah." Cibir Airin.
"Ya ini mah awal. Nanti juga dia suka. Bang Ando, aku nggak jadi mundur. Akupuntur, Bang!"
"Sawan, anjir!" Airin menoyor kepala Lala, namun Lala tetap tersenyum-senyum sendiri sembari memeluk HP-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
K I N G [Completed]
Fiksi RemajaSamudera. Lelaki jangkung bermata elang, siswa paling disegani di sekolah. Penunggang RX King yang tidak pernah jatuh cinta. Samudera lelaki berhati dingin yang suka tawuran. Hidupnya jadi berantakan sejak dia bertemu dengan Hanun. Selalu ada keada...
![K I N G [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/164029624-64-k503908.jpg)