Sam sudah ada di kamarnya. Kamar bernuansa hitam putih itu terlihat sangat rapi. Jika kalian masuk, yang kalian cium pertama kali adalah wangi maskulin seorang Samudera. Sam tidur terlentang di atas kasur berukuran single-nya dengan sprei putih dan selimut juga sarung bantal dan guling warna hitam. Sam menatap langit-langit kamar yang didesain kotak catur.
Sam diam. Dia sedang menikmati desiran-desiran aneh dalam dirinya. Sudah beberapa kali Sam merasa seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Seorang Samudera baru pertama kali merasakan itu semua, baginya itu aneh.. dan lucu.
Diam-diam bibir Sam terus terangkat ketika mengingat semuanya.
"Kenapa harus segugup itu? Kurcaci, lucu, cantik. Kenapa selama ini lo sembunyi?"
Di tempat lain, Hanun juga merasakan hal yang sama. Hanun sedang berada di dalam kamarnya. Kamar minimalis yang selalu tertata rapi. Kamar Hanun bernuansa putih hijau. Kamar adalah tempat favoritnya, dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana, tentu saja untuk tidur.
Hanun sedang duduk di meja belajar. Berkali-kali bibir Hanun menyunggingkan senyum. Terlebih ketika melihat boneka panda yang memenuhi kasurnya. Sepertinya Hanun harus rela berbagi kasur kecil itu dengannya, mungkin sebaiknya Hanun tidur di bawah.
Mata Hanun terkunci ketika melihat sebuah foto dengan figura berbentuk boneka taddy bear. Hanun meraihnya. Di sana terlihat jelas Hanun sedang tertawa di atas gendongan lelaki yang selalu dia rindukan kehadirannya. Pikirannya melayang pada kapan dan di mana foto itu di ambil.
"Aku kangen kamu, kamu tahu aku bakal terus kangen sama kamu. Aku kemarin hampir celaka, tapi ada orang yang nolongin aku. Dia terus mastiin aku aman dengan jaketnya. Dia kuat, kamu bilang cuma orang yang terkuat yang bisa jaga aku. Kalau ternyata dia orangnya, apa kamu marah? Aku takut kamu marah.. aku takut.." Tiba-tiba Hanun menangis.
"Halo?"
"..."
"Ke rumah, ya."
Hanun masih terus menangis sampai Bi Inah mengetuk pintu kamarnya.
"Non, ada temannya di luar."
"Bentar lagi Hanun turun, Bi."
Hanun turun dan menemui seseorang yang Hanun telepon. Hanun turun membawa jaket jeans yang sekarang menjadi jaket favoritnya.
"Hanun, lo oke?" Tanya orang itu.
Hanun terduduk lemas disampingnya, dan temannya. Mereka adalah Tomy dan Ganang, Hanun tidak tahu lagi harus bercerita dengan siapa selain mereka. Hanun menyerahkan jaket itu kepada Tomy. Benar saja, Tomy membelalakkan matanya.
"Jaket-"
"Sam." Potong Hanun.
"Kok bisa di lo?" Tanya Ganang.
Hanun menceritakan bagaimana jaket itu bisa bersamanya. Hanun menceritakan tentang Sam yang beberapa kali mengantar jemputnya. Hanun menceritakan semuanya, termasuk ketakutannya.
Tomy mengelus punggung Hanun, menenangkan.
"Hanun,"
"Tugas kita ngejaga lo, lo itu berlian di sini, di antara kita. Kita semua sayang sama lo karena Diego sayang sama lo." Beberapa kata terakhir yang keluar dari bibir Tomy membuat Hanun semakin menangis.
"Sebelumnya thanks lo udah mau cerita ke kita. Gue seneng, tetep kaya gini. Tetep cerita sama kita, apapun itu."
"Gue inget, Diego berkali-kali nyuruh kita buat jaga lo. Dia juga bilang buat terus dukung apa yang buat lo bahagia walau kita benci itu semua."
"Lo benci?" Tanya Hanun parau.
"Sssttt. Nggak Hanun. Kita emang nggak suka. Tapi itu cuma berlaku di medan perang. Di tempat lain, apa lagi di sisi lo, kita nggak benci." Terdengar jelas Tomy mengatakannya dengan setengah hati.
"Gue takut, gue takut Diego marah."
Kali ini Ganang membawa Hanun ke pelukannya.
"Nggak. Diego nggak mungkin marah. Diego nggak pernah bisa marah sama lo, bahkan waktu lo makan semua apelnya." Ganang terkekeh mengingat hal itu, begitu juga Hanun.
Diego memang sangat menyukai apel. Dia akan marah ketika apelnya di makan oleh sahabat-sahabatnya, tentu saja tidak benar-benar marah. Tapi ketika Hanun yang memakannya, Diego justru membeli lebih banyak apel untuk Hanun.
"Gue seneng lo cerita, jadi kalau gue ngeliat lo jalan sama Sam, gue nggak bakal ngira kalau lo diculik." Hanun terkekeh mendengar ucapan Ganang.
"Putri Tidurnya Bos, jangan nangis." Ganang mengusap air mata Hanun.
Tomy mengambil jaket yang berada di pangkuan Hanun.
"Kalau lo ngrasa tenang dan aman dengan jaket ini, jangan di lepas." Dia memakaikan jaket itu ke pundak kecil Hanun.
Sebuah senyum terukir di bibir kedua lelaki itu. Betapa beruntungnya Hanun dijaga oleh banyak orang, orang-orang hebat dan kuat. Betapa beruntungnya Diego memiliki sahabat yang sangat setia seperti mereka, bahkan saat Diego sudah tidak adapun, mereka tetap menjalankan tugasnya dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
K I N G [Completed]
Teen FictionSamudera. Lelaki jangkung bermata elang, siswa paling disegani di sekolah. Penunggang RX King yang tidak pernah jatuh cinta. Samudera lelaki berhati dingin yang suka tawuran. Hidupnya jadi berantakan sejak dia bertemu dengan Hanun. Selalu ada keada...
![K I N G [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/164029624-64-k503908.jpg)