Adel menaiki tangga menuju lantai dua sendirian. Setelah kejadian Ken menoyornya tadi, Adel langsung pamit ke kelasnya.
Sampai lantai dua, Adel celingukan mencari dimana kelas X MIPA 2. Ia membaca papan-papan tulisan kecil di atas pintu. Setelah menemukannya, Adel kembali melangkah.
Kelasnya lumayan jauh dari tangga, sebelum kelas X MIPA 1 yang letaknya di paling pojok.
Adel memasuki kelas yang akan ia tempati satu tahun. Kelas sudah lumayan ramai, teman barunya nampak saling berkenalan dan memilih tempat duduk. Untungnya, ada satu bangku depan yang kosong dekat jendela. Dengan senyum sumringah, Adel melangkah menuju bangku itu.
Tapi sepertinya Adel kurang sigap, seseorang melewatinya dan lebih dulu duduk dibangku dekat jendela, menyisahkan kursi kosong di sebelah kanan.
Adel merengut, bagaimana pun juga kursi itu harus jadi tempatnya. Karena kalau tidak di belakang, Adel harus dekat jendela, begitu prinsipnya.
"He,"
Cowok yang sibuk bermain ponsel itu mendongak merasa ada tepukan dibangkunya, ia menaikkan sebelah alisnya menatap Adel bertanya.
"Gue mau duduk situ," Adel menggerakkan dahunya pada kursi yang sedang cowok itu duduki.
"Hm?" cowok itu mengernyit tak paham.
"Gue mau duduk di kursi yang lo dudukin sekarang, gue mau disitu. Lo bisa pindah 'kan?" Adel berkacak pinggang menatap cowok itu sengak.
"Lah, gue duluan. Lo duduk sini aja," cowok itu dengan kalem menunjuk kursi sebelahnya.
"Tapi gue maunya deket jendela! Ngalah ngapa susah amat," gadis itu berdecak.
Cowok itu menyipitkan matanya memandangi Adel, lalu menggeleng tenang. "Gak, siapa cepat dia dapat."
"Tapi 'kan gue yang lihat duluan! Elo aja seenaknya nyelip! Gak mau tau pokoknya sekarang lo pindah."
Gadis menyebalkan.
Cowok itu menghela napas sabar. Baru hari pertama sudah diberi cobaan cewek tengil macam ini. Semoga hanya cewek ini saja yang aneh di kelasnya.
"Jadi lo mau duduk sini?"
"Ya!" Adel mengangguk semangat.
Cowok itu mengangguk. "Oke, lo boleh duduk sini, tapi ada syarat."
"Gue benci itu." ucap Adel datar.
Cowok itu mengedikkan bahunya. "Oh, ya udah kalo gak mau."
Adel melengos, menatap cowok itu penuh kesabaran.
Adel harus sabar kalo gak mau makan sayur satu bulan.
"Iya iya mauu.. Apa syaratnya?"
"Jangan ikut campur urusan pribadi gue."
Adel menaikkan sebelah alisnya, "Gitu aja? Oke." gadis itu mengangguk setuju.
Lagian siapa juga yang mau ikut-ikut urusan lo, kek gak ada kerjaan aja. Begitu agaknya ucap Adel dalam hati.
Cowok itu menggeserkan tasnya, lalu duduk di kursi sebelah. Cowok itu memiringkan tubuhnya agar Adel bisa masuk. Adel sedang senang hati lewat di sela kursi dan meja.
Cowok yang, ya, menurut Adel dia lumayan tinggi dan putih. Dia kelihatan tenang memainkan ponselnya. Adel sedikit mengintip, tanpa sadar mendekatkan diri melihat game apa yang sedang dimainkan cowok itu.
Adel mengernyit mengamati. "Main pabji juga?"
Cowok itu melirik sekilas. "Namanya PUBG." ucapnya singkat.
Adel mencibir, sepertinya cowok ini sejenis Ken, yang sok cuek.
"Terserah gue bilangnya apa."
"Emang kenapa? Lo maen? Tapi gak mungkin banget sih." cowok itu masih fokus ke layar ponselnya enggan menatap gadis menyebalkan di sebelahnya yang sibuk mengintip.
"Kenapa gak mungkin? Gue main kok."
"Iya? Oh." cowok itu menoleh singkat lalu kembali bermain. Membuat Adel mendelik kecil.
"Ngeremehin?"
"Enggak."
"Dari cara lo lihat gue, lo kayak ngeremehin gue." kesalnya.
"Terus?"
Adel semakin terpancing emosi. "One match sama gue. Banyak-banyakan nge-kill. Gimana?"
Cowok itu kembali meliriknya sekilas, lalu terkekeh kecil. "Lo yakin?"
"Tuh 'kan lo ngeremehin." raut wajah Adel berubah datar.
Cowok itu meletakkan ponselnya, ia menoleh menaruh perhatian pada Adel yang balas menatapnya.
"Kalo lo berani, ayo. Tapi harus ada hadiah untuk yang menang." tantangnya.
Adel tertawa palsu. "Yakin bisa menang??"
"Seratus persen yakin. Tapi sebelumnya, kita harus tau nama masing-masing."
Cowok itu mengulurkan tangannya.
"Gue Aksa."
Adel membalas dengan tatapan tengilnya seperti biasa, seakan minta ditampol.
"Gue Adel."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
AURIGA
Teen FictionMungkin Adel termasuk gadis beruntung di dunia ini, memiliki keempat sepupu yang begitu menyayanginya. Satu sekolah menyebut mereka, Auriga. Setiap keinginan selalu Adel dapatkan dengan mudahnya, namun ada satu yang sulit Adel wujudkan, kasih sayan...
