Adel membuka ponselnya, melihat hasil foto yang Vira kirim melalui whatsapp. Aksa mendekat, ikut melihat.
"Pos 3 gak jauh dari sini. Kita tinggal lewatin 3 arah panah lagi." ucap Adel sambil menutup ponsel dan menyimpannya ke dalam saku. Aksa kembali berdiri tegak dan berjalan tenang mengikuti langkah antusias Adel.
"Eh iya, barusan fotonya udah gue kirim ke lo, Sa. Hp gue lowbat tinggal 2%." Adel meringis. Aksa mengangguk singkat.
"Lo keliatan paling semangat. Sering ikut penjelajahan?" tanya Aksa.
Adel menggeleng seraya mengulas senyum manis. Ia mensejajarkan langkahnya di sebelah Aksa dengan pandangan ke depan.
"Ini justru pertama kalinya gue ikut jelajah. Selama gue masuk SD sampai SMA gak pernah dibolehin ikut kemah sama abang gue."
Sebelah alis Aksa terangkat. "Terus sekarang kok dikasih ijin?"
"Karena guenya maksa." gadis itu kembali meringis memamerkan gigi putihnya.
Aksa ikut tersenyum, tanpa sadar menatap Adel lekat menikmati senyuman manis gadis itu.
Lamunannya terbuyarkan ketika merasakan getaran di sakunya. Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Mendapati sebuah pesan yang berhasil membuatnya tertegun. Aksa buru-buru menutup ponsel, khawatir Adel melirik dan membaca pesan itu.
Aksa kemudian mengecek petunjuk yang Adel kirim. Alisnya bertautan, matanya menajam mencari sesuatu yang sesuai dengan pesan barusan.
Ketemu.
Aksa menyimpan kembali ponselnya dalam saku. Ia berjalan awas, memandangi sekeliling hutan.
Tangannya tiba-tiba mengamit dan menautkan jemarinya di sela-sela jemari Adel. Menggenggam erat tangan mungil itu.
Mendapat perlakuan itu membuat Adel mengernyit bingung, namun enggan bertanya melihat wajah datar Aksa yang sepertinya enggan untuk berbicara.
Pikiran Adel berkeliaran, membayangkan sesuatu hal buruk akan terjadi.
***
"Kelompok Adel udah jalan?" tanya Satya pada Elvian yang stay di tempat bersama beberapa panitia. Elvian hanya mengangguk menanggapi, karena sibuk dengan HT mengkoordinir acara agar tetap berjalan lancar.
"Oke, setiap kali kelompoknya sampai di pos, kabarin gue." ucap Satya yang bisa dibilang adalah sebuah perintah.
Elvian mengangguk lagi. Tak heran dengan sikap Satya yang begitu overprotektif pada adik bungsunya.
Elvian mengecek grup chat, mendapati kabar bahwa kelompok 9, kelompok Adel telah sampai di pos 1. Ia mengernyit mendapati kejanggalan. Segera berlari menghampiri Satya yang sedang memijat pelipisnya di tenda panitia merasa kurang enak badan.
"Kelompoknya Adel udah sampai di pos 1. Tapi cuma ada Vira dan Nico. Mereka ternyata mencar, Adel dan Aksa ke pos 3 dan 4."
Satya sontak melebarkan mata. Rasa cemas dan amarah bercampur menjadi satu.
"Cepet hubungin pos 3. Pastiin Adel udah sampai disana." titah Satya.
Elvian mengangguk patuh. Segera memberi pesan di grup chat panitia.
Satya mengusap wajahnya gusar. Perasaan itu kembali muncul. Napasnya memburu tanpa dicegah. Otaknya tanpa diminta bekerja memikirkan hal-hal negatif yang akan terjadi.
Tolong, jangan sekarang.
***
Adel dan Aksa terus melangkah melanjutkan perjalanan menuju pos 3 dengan keheningan yang menemani.
Tak beberapa lama, Aksa tiba-tiba berbelok, mengambil jalan yang berlawanan arah dengan anak panah yang disediakan panitia, membuat Adel semakin mengeryit heran dengan tingkah aneh Aksa sedari tadi.
"Jalannya kesana, Sa. Kok malah kesini?" Adel menghentikan langkahnya dan menahan tangan Aksa. Ia menatap Aksa protes, pemuda itu malah tak menghiraukannya. Menarik Adel untuk kembali melangkah memasuki hutan lebih dalam. Kini mereka jauh dari jalur penjelajahan. Ranting-ranting pohon yang terjatuh menghalangi jalan membuat mereka harus berhati-hati dalam melangkah.
"Lo gak ada niat macam-macam kan, Sa?" ujar Adel makin takut melihat Aksa yang diam saja dengan ekspresinya seperti sedang menahan amarah.
Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah pohon besar yang rindang. Aksa mengambil sesuatu di dalam sakunya.
"Lo tunggu sini, jangan kemana-mana. Ini bawa, kalo semisal ada sesuatu." Aksa memberikan pisau lipatnya pada Adel.
Alis Adel menukik, menatap Aksa tajam. "'Sesuatu' apa yang lo maksud? Sa, lo gak waras kalo mau ninggalin gue sendiri disini. Lagian kita harus lanjutin penjelajahan!"
Aksa menghela napas berat. "Cuma sebentar, lo gak perlu takut. Disini aman. Dan terpaksa kita gak bisa lanjutin penjelajahan."
Adel menggeleng berulang kali. "Ok tapi gue ikut! Please, jangan tinggalin gue..." lirihnya.
Aksa mengusap rambut Adel menenangkan. "Gue janji bakal balik lagi. Lo bisa pegang omongan gue kan?"
Adel terdiam ragu. Antara ingin percaya atau tidak. Ia tidak bisa mempercayai Aksa begitu saja, bagaimana pun Adel belum lama mengenal Aksa. Bisa jadi nantinya Aksa menjebak Adel dengan tampang memohonnya lalu berbuat macam pada Adel.
"Del, please... Gue percaya lo itu pemberani." mohon Aksa.
Adel pun mengangguk ragu, semoga keputusannya ini menjadi jalan yang terbaik.
Aksa tersenyum, ia mengusap kepala Adel sejenak dan berlalu pergi.
***
"Masih belum ada kabar dari pos 3?" tanya Lya dengan nada cemas yang kentara.
Elvian menggeleng. "Mereka udah keliling di sekitar sana. Tetep gak ketemu."
Lya, Satya, serta Nevan menghela napas bersamaan. Sudah hampir tengah malam, mereka jelas khawatir dengan keadaan Adel sekarang. Ponsel Adel tidak dapat dihubungi, membuat amarah Satya semakin meningkat. Ia tidak akan lagi mengijinkan Adel mengikuti kemah. Seharusnya Satya mengantisipasi agar hal ini tidak terjadi.
Satya mendesah merasakan pusing di kepalanya. Cepat saja Satya menggeleng, berusaha untuk tetap terjaga. Ia pun berdiri, kemudian mengambil senter dalam tasnya.
"Abang mau kemana?" tanya Lya seraya menahan tangan Satya.
Satya berdecak, "Lo kira gue bisa duduk diam disini cuma nunggu kabar yang gak pasti?" balasnya sarkas. Jika sudah begini, semua akan kena amukan Satya sekalipun orang itu tidak bersalah.
Nevan ikut berdiri. "Abang disini aja, biar gue yang cari. Gue tau abang lagi gak enak badan. Abang tunggu aja kabar Adel disini."
Nevan mengambil alih senter yang Satya bawa. Ia menatap Satya, menepuk pundak Satya bermaksud menenangkan. Kemudian beralih menatap Lya, mendapati tatapan ragu darinya. Nevan pun mengangguk berusaha meyakinkan Lya.
"Gue pergi dulu. Nanti gue kabarin kalo ketemu Adel. Dan kalo udah ada kabar dari panitia lain jangan lupa hubungin gue, bang, teh."
Satya dan Lya mengangguk bersamaan. Berdoa agar tidak terjadi apa-apa antara Adel juga Nevan. Nevan pun berjalan keluar tenda panitia dan mulai mencari Adel bersama panitia lainnya.
***
Hayoloh tegang amat sih. Santai-santai. Perjalanan Auriga masih panjang. Tunggu aja kelanjutannya yaaa.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURIGA
Teen FictionMungkin Adel termasuk gadis beruntung di dunia ini, memiliki keempat sepupu yang begitu menyayanginya. Satu sekolah menyebut mereka, Auriga. Setiap keinginan selalu Adel dapatkan dengan mudahnya, namun ada satu yang sulit Adel wujudkan, kasih sayan...
