Satya, Lya, Nevan, serta Faldi masih berdiri di pinggir koridor utama. Adel dan Ken baru saja pergi ke kelas mereka.
Nevan memandangi ketiga remaja itu, mereka sedang asyik mengobrol, membicarakan hal seru apa saja yang datang ketika liburan kemarin.
Nevan beralih mengecek jam, lalu mendongak kembali menatap ketiga remaja berbeda gender itu. "Gue ke ruang OSIS deh, teh, bang."
Lya, Satya, serta Faldi seketika menghentikan obrolan dan menoleh. Menatap Nevan yang baru mereka sadari terabaikan dari tadi. Mereka pun mengangguk bersamaan menanggapi Nevan.
"Hati-hati. Jangan lupa senyum. Datar-datar wae," Faldi menepuk bahu Nevan bercanda. Nevan membalas dengan kekehan ringan.
"Gue doain lancar MPLS nya. Yang galak dikit sama adek kelas biar mereka gak manja." nasihat Satya yang ditanggapi Nevan dengan anggukan pelan.
"Semangat, dek! Jangan lembek! Lebih teges dikit dong!" Nevan tertawa kecil merespon ucapan riang Lya. Kakak perempuannya itu menjinjit mengulurkan tangan mengacak puncak kepala Nevan.
"Dadah."
Tersenyum singkat kepada ketiganya, Nevan berlalu ke ruang osis dengan raut wajah tanpa ekspresi seperti biasa.
"Nevan!"
Seseorang memanggilnya. Nevan berbalik, menatap gadis berambut sebahu yang sedang berlari ke arahnya. Ia menaikkan sebelah alisnya tanpa kata.
"Udah jam 7, gerbang mau ditutup sekarang?" tanya gadis itu dengan napas terengah akibat berlari dari gerbang depan ke gedung utama.
Nevan mengangguk singkat. "Pastiin sie keamanan tetep menjaga diluar waktu PDB udah kumpul di lapangan."
Gadis itu balas mengangguk patuh.
Ia hendak berbalik melanjutkan tugasnya, tapi Nevan lebih dulu menahan tangannya.
"Al,"
"Ya?" Alivia kembali menghadap Nevan sepenuhnya sembari mengernyit samar.
Nevan tidak langsung menjawab. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sekotak susu coklat.
"Minum dulu biar semangat." Nevan mengambil tangan Alivia dan meletakkan kotak susu itu di telapak tangannya.
Alivia memandangi kotak kecil di tangannya itu sejenak, kemudian terkekeh memukul pelan bahu Nevan. "Lo mah nyuruh semangat tapi lo nya sendiri tetep lempeng-lempeng gitu,"
Nevan mengusap bahu bekas pukulan Alivia yang bahkan tidak ada sakit-sakitnya. Lalu tersenyum samar menatap manik mata Alivia sambil mengedikkan bahu.
"Gue emang gini."
Alivia tertawa, matanya menyipit membuatnya terlihat sangat manis, senyuman Nevan tanpa sadar semakin mengembang, matanya berbinar samar menatap Alivia lekat.
"Oke deh. Makasih ya, Nepaann...." Alivia tersenyum lembut, ia menepuk bahu Nevan sejenak lalu berbalik kembali melangkah ke gerbang utama.
Nevan terus memandangi punggung Alivia sampai gadis itu benar-benar hilang dari pandangannya, masih dengan senyuman yang entah kenapa tidak juga hilang dari bibirnya.
***
AN:
Singkat ya? Hehe.
Bukan gimana sih, ini mencerminkan Nevan yang emang sedatar dan semisterius itu. Dia juga gak gampang ditebak. Jadi siap-siap aja terima kejutan Nevan selanjutnya.
Oke oke oke??
Oke dong,
Hehe...
Jangan lupa vote dan comment guys. Karena dengan menghargai karya penulis itu udah lebih dari cukup buat ngasih semangat mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURIGA
Fiksi RemajaMungkin Adel termasuk gadis beruntung di dunia ini, memiliki keempat sepupu yang begitu menyayanginya. Satu sekolah menyebut mereka, Auriga. Setiap keinginan selalu Adel dapatkan dengan mudahnya, namun ada satu yang sulit Adel wujudkan, kasih sayan...
