Happy reading!
***
'Cucu Opah Rendra'
Satya: Yok, kantin bareng.
Lya: Bang Sat ke kelas aja berangkat bareng.
Satya: Yo
Ken: @nevan jemput gue ya, beb:*
Nevan: Najis.
Lya: Ew, kesian banget gue sama Shelia dapet cowo kek lo, Ken.
Satya: Udah buruan. @adel yuk, dek.
Sambil terus berjalan cepat menuju gedung kelas 12, Adel mengetik balasan di grup chat.
Adel: Ada tugas, gak ngantin dulu.
Langkah kecil itu semakin terburu-buru menaiki tangga, Adel menahan napas dan bersembunyi di bawah tangga kala melihat Satya dan Lya melewati koridor yang akan dilaluinya.
"Ru keliatan menjauh dari kita, deh. Dia masih gak suka sama gue, ya, bang?" tanya Lya pada Satya yang dapat Adel dengar samar.
"Hush, kelas 10 mungkin lagi banyak-banyaknya tugas."
"Apa om Andra nyuruh Ru buat jauhin kita? Bisa aja dia mau bawa Ru ke Banten, 'kan."
Adel menahan napas mendengar obrolan itu.
"Ya gak 'lah, Ya. Lo mikir apa sih. Udah buruan keburu kantin rame."
Mendengar langkah semakin menjauh, Adel melongokkan kepala mengintip situasi. Kedua sepupunya itu sudah menghilang, dengan segera Adel lanjut menaiki tangga menuju rooftop.
Napas Adel terengah ketika menginjak atap gedung kelas 12. Matanya mengarah pada satu titik, seorang pemuda di dekat tembok setinggi perut yang merupakan pembatas rooftop.
"Apa lagi, bang?" tanya Adel langsung seraya mendekat dan berdiri tepat di hadapan pemuda itu.
Pemuda itu mendongak, tersenyum miring sejenak dan kembali memusatkan perhatiannya pada pupuk di pot tanah liat yang ia pindahkan ke dalam pot plastik.
"Bisa bantu gue, Del?"
Adel melengos muak. "Jangan buang-buang waktu!"
Pemuda itu menaikkan alisnya berlagak terkejut dengan sentakan Adel. Ia berdiri dari posisinya yang semula jongkok dan mengibaskan kedua tangannya menghilangkan butiran tanah yang menempel.
"Radellya makin galak ternyata."
"Bang!"
Pemuda itu memasang tampang tenangnya. "Oke-oke, gue cuma mau nekanin ke lo untuk jauhin Auriga kok, itu aja." ucapnya santai.
Alis Adel menukik penuh selidik. "Untuk apa? Kasih gue alasan kenapa gue harus jauhin mereka."
Tangan pemuda itu terulur, mencengkeram pundak Adel dengan tatapan bengisnya.
"Karena gue benci liat lo bahagia."
Napas Adel tersendat, menahan ringisan karena cengkeraman yang terlalu kuat.
Pemuda itu semakin mendekatkan wajahnya, membuat Adel refleks mundur menatap awas.
"Dan gue mau, lo kehilangan kebahagiaan seperti apa yang gue rasain, Del."
Pemuda itu mendorong Adel dan mengambil pot berukuran sedang yang terbuat dari tanah liat. Ia melongok ke pembatas rooftop, melihat targetnya tengah membenahi tali sepatu di pinggir lapangan tepat di bawahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURIGA
Ficção AdolescenteMungkin Adel termasuk gadis beruntung di dunia ini, memiliki keempat sepupu yang begitu menyayanginya. Satu sekolah menyebut mereka, Auriga. Setiap keinginan selalu Adel dapatkan dengan mudahnya, namun ada satu yang sulit Adel wujudkan, kasih sayan...
