36. Bimbang

5.4K 376 31
                                        

Selepas dari ruang basket, Auriga bersama-sama menuju kantin untuk meminta pajak jadian pada Nevan. Nevan pasrah saja, ia paham ini akan terjadi, karena saat Ken jadian kemarin juga memberi pajak, jadi ia sudah menyiapkan uang untuk mentraktir mereka.

Waktu masih menunjukkan pukul 08.30, untungnya kelas dibebaskan karena ada acara pertemuan guru-guru di aula. Hal itu membuat kantin begitu ramai akan murid yang ingin mengisi perut atau sekadar nongkrong.

Kelima Auriga memutuskan duduk di meja pojok kantin. Karena berita di mading tadi, tak sedikit orang yang mencibiri mereka. Bahkan ada yang menambah-nambahkan cerita agar nama Nevan semakin jelek di SMA Wanabakti.

Adel jadi mencebikkan bibir sebal, tangannya sudah mengepal kuat siap meninju mulut lemes mereka yang seenaknya menghina Nevan. Parahnya ada sekumpulan cewek yang sengaja berhenti di depan meja Auriga hanya untuk memberi tatapan merendahkan pada Nevan seakan dia makhluk paling berdosa di dunia ini.

Adel masih maklum dengan para cewek itu, namun tidak dengan gerombolan cowok yang nongkrong di meja dekat mereka.

"Pinter emang si Nevan nyari tempatnya. Gak nanggung di gudang sekolah yang emang jarang dilewatin."

"Iyalah, hotel udah gak jaman lagi sekarang."

Mereka tertawa berbarengan. Kemudian ada seorang cowok yang berdiri dan menunjuk Nevan.

"Gimana, Van? Enak semalem? Sampe mana aja?" lantangnya mengejek. Membuat seisi kantin yang tadinya hening seketika dipenuhi gelak tawa.

Nevan sendiri tak acuh, memilih menghabiskan makannya dalam diam daripada meladeni mereka yang sikapnya sangat kekanak-kanakkan.

Adel yang semakin geram dengan tingkah mereka sudah nyaris berdiri memberi balasan, namun langsung ditahan Satya yang duduk di sampingnya. Abangnya itu meraih tangan Adel, mengusap lembut punggung tangannya dan menatapnya teduh meminta untuk tidak menanggapi mereka.

Adel lantas melengos, mencoba bersabar dengan membangun kembali tembok tebal yang tadinya hancur karena cemoohan mereka.

"Bocah banget, cowok kok mulut cewek." gerutu Adel yang hanya bisa didengar keempat sepupunya.

"Dan akan lebih bocah lagi kalo lo ladenin mereka." balas Ken tajam pada Adel membuat gadis itu mendengus dan menyelesaikan makannya.

***

Foto Nevan dan Alivia di gudang itu memang menjadi berita paling menggemparkan di semua warga sekolah. Menjadi bahan obrolan di sepanjang minggu.

Ada yang memercayai cerita sesungguhnya, dan ada pula yang terpengaruh dengan berita simpang siur yang tidak benar adanya membuat nama Auriga semakin jelek di mata mereka.

Namun kelima Auriga tidak memperdulikan itu. Meskipun Adel sempat dongkol karena cemoohan mereka, ia bisa mengerti jika meladeni mereka justru akan semakin menjatuhkan harga diri Auriga. Karenanya diam yang dibutuhkan sekarang.

Tak peduli dengan reputasi yang turun, toh dari awal Auriga tidak meminta untuk disanjung sebegitunya. Mereka saja yang terlalu berlebihan memandang Auriga, memberi predikat bahwa Auriga tidak bisa diusik. Namun memang begitu kenyataannya, siapa pun juga akan kesal jika diusik. Dan itulah yang membuat Auriga mempunyai tameng, menjadi disegani setiap orang.

Tapi bukan berarti Auriga bersikap angkuh pada seluruh warga sekolah, justru karena keramahannya yang membuat mereka semakin digemari.

Dan lambat laun, berita itu berangsur menghilang selama 2 minggu. Banyak dari warga sekolah yang percaya dengan berita aslinya, bahwa Nevan hanya memeluk Alivia, tidak melakukan hal lebih.

AURIGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang