20. Pelajaran

6.2K 414 26
                                        

Adel terus saja berdecak sebal selama perjalanan pulang, membuat Faldi yang sedari tadi mendengarnya tak tahan untuk mencibir.

"Udah sih, cil. Salah sendiri bandel, tau kan sekarang akibatnya." kata Faldi enteng dengan pandangan lurus ke depan fokus memegang kemudi.

Adel mencebikkan bibirnya sebal mendengar perkataan Faldi. "Abang aja yang lebay. Selalu gini, dikhawatirin terus, Adel kan jadi gak bebas!"

Faldi melirik Adel heran, tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis mungil itu. "Dikhawatirin kok gak seneng, itu tandanya sodara lo sayang sama lo! Duh pinter banget sih jadi bocah."

"Tapi ini tuh berlebihan! Aku bisa jaga diri aku sendiri kok!"

Faldi terkekeh meremehkan. "Ada emang buktinya lo bisa jaga diri?"

Adel membuka mulutnya hendak membalas, namun kemudian tertutup kembali. Bingung harus membalas apa sekarang.

"Gak ada kan? Emang gak ada! Lo itu selalu ceroboh cil, jaga barang aja gak bisa apalagi jaga diri."

Adel mendengkus, menyandarkan tubuhnya di kursi sembari memandang keluar jendela. Namun semua yang Faldi katakan memang benar adanya, Adel selalu ceroboh dalam segala hal. Membuat keempat saudaranya begitu mengkhawatirkannya.

Kejadian yang paling Adel ingat adalah ketika berumur dia belajar naik motor dan berujung menabrak pohon. Adel harus di rawat di rumah sakit selama 1 minggu karena kaki kirinya patah. Itu sebabnya Adel tidak diizini untuk membawa motor sendiri ke sekolah.

Adel menghela napas pelan meratapi itu semua. Tangannya sibuk memainkan sabuk pengaman. "Tapi aku pengen kayak temen-temen aku, bang. Main bebas kemana-mana."

"Lo kan masih bisa main sama kakak-kakak lo."

"Adel selalu minta untuk pergi liburan, tapi mereka yang gak pernah ada waktu."

Faldi menghela napas, mengulurkan tangannya mengacak rambut Adel. "Lo harus ngertiin keadaan mereka juga, cil. Mereka kan punya tanggung jawab di organisasi."

"Terus lupain Adel gitu aja?" Adel menatap Faldi, membiarkan tangan kiri pemuda itu memainkan rambut Adel dengan tangan kanannya memegang kemudi.

"Kalo mereka lupain lo gak bakal mungkin nyari-nyari lo di hutan semaleman, cil. Lo tau? Abang lo sampai pingsan, dia lagi sakit tapi maksain dirinya buat nyari lo. Apa itu yang namanya dilupain?"

Adel terkejut. Benarkah bang Satya pingsan? Perasaan bersalah seketika menghantuinya sekarang.

Adel mengerjap, "Abang tadi kelihatan marah banget sama Adel. Dia pasti kecewa banget ya, bang." lirihnya.

"Iyalah, jelas kecewa. Lo udah dikasih kepercayaan buat ikut camping, malah dihancurin gini. Gue pastiin lo gak akan dibolehin ikut beginian lagi." balas Faldi tegas.

Adel mengangguk lemah. "Itu mah pasti. Mungkin juga aku gak dijinin keluar dulu. Pasti dihukum."

"Gak takut kalo semisal dihukum?"

"Itu risiko Adel. Harus diterima." cicit Adel menunduk memainkan jari-jarinya.

Faldi yang tak tega pun mengusap bahunya, menenangkan Adel agar tidak menangis. "Udah, semarah-marahnya Satya dia tetep sayang sama lo kok, cil. Tadi juga dia gak marahin lo kan. Jangan sedih gini, bocilnya Bang Fal kok sedih. Jelek."

Adel mendengus sebal dan menyingkirkan tangan Faldi dari kepalanya. Ia kembali menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, memandang indahnya perbukitan dari kaca jendela.

Faldi kembali mengusap kepalanya lembut, membuat Adel dengan sekejap tertidur pulas keenakan.

Faldi terkekeh melihatnya, beralih mengusap pipi bulat Adel gemas tanpa mengalihkan fokusnya ke depan.

"Lo itu berharga buat Auriga, cil. Jangan buat mereka kecewa dan khawatir lagi, dek."

***

Tepat di belakang kamar mandi, Ken terus memberikan pukulan bertubi-tubi pada Aksa, tidak membiarkan pemuda itu beristirahat sejenak.

"Kalau sampai Adel kenapa-napa, lo mati di tangan gue!" murka Ken menarik kaos hitam yang Aksa kenakan. Aksa sendiri tak dapat menjawab karena sibuk mengambil napas. Ken mendorong Aksa membuat pemuda itu tersungkur di tanah karena kehabisan tenaga. Siku Aksa dipenuhi oleh goresan luka akibat menahan tubuhnya di atas tanah.

Aksa menunduk, mengusap kasar bibirnya yang berdarah, lalu mendongak membalas tatapan marah dari Ken. "Gue gak sentuh Adel sedikit pun. Lo bisa tanyain Adel langsung." jawabnya ngos-ngosan.

Nevan diam saja memperhatikan mereka, berdiri tak jauh dari sana membiarkan Ken yang memberi pelajaran pada adik kelasnya ini. Meskipun terlihat tenang, sebenarnya dalam dirinya ia tengah menahan amarah.

Tak lama kemudian Satya datang, menarik Ken untuk berhenti karena ia rasa pelajaran itu sudah cukup. "Kalian berdua balik ke perkemahan, gue masih ada urusan sama nih bocah."

Ken yang hendak memerotes segera ditahan oleh Nevan. "Gak usah buang-buang waktu. Kita percayain semua sama abang."

Ken pun melengos, pasrah saja ditarik Nevan menuju perkemahan. Karena memang inilah yang mestinya dilakukan.

Menjadi kakak tertua membuat keempat Auriga selalu bergantung pada Satya setiap kali ada masalah, dan nantinya Satya lah yang akan menyelesaikan semua. Mereka selalu mempercayai Satya bahwa tindakan dan keputusan Satya adalah yang terbaik.

Satya beralih memperhatikan Aksa yang tertunduk lemas, ia menarik kerah kaos Aksa kasar membuat pemuda itu mendongak paksa.

Satya jongkok di depan Aksa menatap pemuda itu tajam. "Apa tujuan lo bawa Adel ke tengah hutan sampai pagi gini?" tanyanya tanpa basa-basi.

Aksa terengah, merasakan sakit di bagian dadanya. Tapi sebisa mungkin ia tahan, bagaimana pun Aksa harus memberikan penjelasan rinci pada Satya.

"Gue bermaksud melindungi Adel," Aksa mengernyit menahan sakit di dadanya. "ada seseorang yang akan mencelakai Adel di hutan tadi malem."

Satya menautkan alisnya, menatap Aksa dalam mencoba mencari kebohongan dari matanya, namun yang ia lihat hanya sorot mata Aksa yang meredup seiring tubuhnya yang melemah, Satya tidak menemukan kebohongan disana.

"Siapa dan darimana lo bisa tau hal itu?" tanya Satya dingin.

Aksa menyingkirkan tangan Satya dari kerah kaosnya, ia merogoh saku triningnya mengeluarkan ponsel dan mengotak-atiknya sejenak. Kemudian menyodorkan ponselnya pada Satya, menampilkan pesan yang Aksa terima kemarin malam.

Bang Dafien:

Gue lagi di hutan tempat perkemahan lo. Ada jebakan di jalan menuju pos 3. Lo ikutin petunjuk yang gue kirim agar lo dan Adel selamat. Hati-hati, dia lagi ngincer Adel, Sa.

Satya men-scroll room chat itu dan mendapati foto petunjuk jalan yang Dafien kirimkan.

Satya tertegun, jantungnya seakan terlepas keluar dari tempatnya. Aksa yang melihat ekspresi itu pun melanjutkan penjelasannya. Ia mengerti apa yang Satya rasakan sekarang.

"Kalo aja gue tetep lanjutin penjelajahan, Adel akan celaka dan mungkin aja nyawanya gak tertolong." jelas Aksa dengan napas yang masih tersenggal.

Satya masih mematung, terkejut mengetahui adik bungsunya yang menjadi incaran. Satya berusaha mengaitkan itu semua dengan teror yang didapatnya tak jauh-jauh ini. Ia kembali menatap Aksa ingin lebih tahu semuanya.

"Lo tau siapa dia?"

Aksa mengangguk pelan, matanya seketika berubah sayu, rasa penyesalan sekaligus bersalah yang bersarang lama menguar kembali dihatinya.

































































"Dia kakak gue sendiri."

***

Kaget gak? Kok bisa gitu kan? Hmmm stay tune yaaa!

AURIGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang