Selepas menyelesaikan urusan di aula, dengan langkah cepat Nevan menuju ruang OSIS. Membuka pintu coklat itu dan mendapati Dian, Bella, dan Leo yang sedang fokus menatap layar dan tumpukan kertas di atas meja. Ia pun mendekat dan memeriksa hasil kerja mereka yang membuat susunan acara.
"Pembukaan acaranya terlalu lama. Bikin 20 menit aja." ralatnya.
Dian pun segera menuruti dan mengubahnya.
"Eh, Van. Princess Auriga ikut band loh. Jadi vokalisnya." ujar Bella antusias. Ia mengetahui hal itu dari daftar nama yang baru saja kelas Adel kumpulkan.
Nevan menoleh, mendengus pelan dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Heran, adik sepupunya sudah seterkenal itu ternyata.
"Baguslah. Biar ada bakatnya."
Bella dan Dian lantas tertawa geli. "Emang sejauh ini dia gak punya bakat? Parah lo ngatain sepupu sendiri." cibir Dian. Leo sendiri diam saja, ogah ikut-ikut kedua cewek ini yang mulai rempong.
"Bukan gak punya. Emang kurang diliatin. Dia anaknya cuek soal begituan, bakatnya cuma ngusilin orang aja." jawab Nevan kalem. Ia tiba-tiba menaikkan alisnya begitu teringat seseorang.
"Al mana? Tadi disini kan?" Nevan menyapu pandangan, namun tidak menemukan gadis berkulit sedikit pucat itu.
"Ke gudang ambil papan. Susulin deh, lama banget ambil papan doang, takutnya tuh anak nyasar lagi." gurau Dian.
Tanpa babibu, Nevan beranjak keluar ruangan menuju gudang.
***
Adel meluruskan kakinya, bersandar di dekat pintu kelas mengistirahatkan tubuhnya yang lelah sehabis mengelap kaca.
Tiba-tiba saja sebotol air mineral dingin diletakkan di dekat kakinya. Adel pun mendongak, memandangi punggung cowok itu yang menjauh dengan hati berdesir.
Adel menghela napas, lantas mengambil minuman itu dan meneguknya. Rezeki harus diterima, toh Aksa tidak mungkin mencampurkan sianida ke dalam minuman itu karena masih tersegel.
Regan yang tadinya duduk di bangku guru berjalan menghampirinya. Duduk di depan Adel dengan jarak 1 meter membuat Adel mengubah posisinya menjadi bersila.
"Kelompok band cepet kumpul sini!" teriak Regan lantang. Adel jadi menyipitkan matanya jengah, lagi-lagi Regan berulah. Manusia satu ini memang paling peka pada anggota kelasnya. Regan tahu kalau ada jarak di antara Adel dan Aksa, jadi ia berniat mendekatkan mereka kembali. Kejadian di perkemahan membuat seluruh teman kelas Adel gencar menjodoh-jodohannya dengan Aksa.
Menyebalkan sekali.
Nico, Dita, serta Aksa datang dan duduk di dekat mereka. Dita sebelah kiri Regan, Nico di sebelah kanan Adel, dan Aksa di sebelah Nico.
"Ck, Sa lo ngalangin jalan! Di sebelah kiri Adel tuh kosong. Sana-sana!" usir Nico. Aksa pun menurut meski dengan raut kesal yang tidak terlalu nampak. Adel sendiri melemparkan tatapan tajamnya pada Nico, namun bukannya takut cowok itu justru cengengesan.
Regan tersenyum sejenak menyaksikan itu. "Oke, langsung aja. Kita bisa latihannya kapan?"
Dita mengedikkan bahunya merespon. "Gue sih bisa kapan aja. Ngikut kalian."
"Sama gue juga." tambah Nico sambil mengangguk-angguk.
"Adel?"
"Gak tau. Gue aja belum tentu bisa ikut. Belum ijin ke kakak-kakak gue." balasnya sembari menunduk memainkan tutup botol.
"Lah kok gitu? Udahlah, pasti diijinin. Mereka pasti paham." bujuk Dita. Regan dan Nico mengangguk setuju. Lain dengan Aksa yang diam saja, ia sedang malas berbicara sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURIGA
Teen FictionMungkin Adel termasuk gadis beruntung di dunia ini, memiliki keempat sepupu yang begitu menyayanginya. Satu sekolah menyebut mereka, Auriga. Setiap keinginan selalu Adel dapatkan dengan mudahnya, namun ada satu yang sulit Adel wujudkan, kasih sayan...
