Selesai sarapan bersama, keluarga kecil itu berkumpul bersama di ruang tengah. Berbincang santai dengan menyelipkan candaan di dalamnya. Namun 1 jam kemudian Adel ijin kembali ke kamar untuk membereskan pakaian karena tadi belum sempat. Arinda menawarkan diri untuk membantu, namun Adel menolak, sebab ia tahu wanita itu juga lelah karena berbenah dan membersihkan rumah.
Jujur, hati Adel merasa lega bisa menerima semua ini. Tidak mudah memang mengikhlaskan, namun setelah berhasil melakukan, beban di pundak akan terasa lebih ringan.
Adel menjadi merasa bersalah telah berpikiran buruk tentang Arinda, wanita itu ternyata memang baik dan tulus sayang padanya. Adel dan Arinda bahkan tertawa bersama tadi, wanita yang sekarang Adel panggil Bubun itu sangat ramah dan hangat, ia dengan mudahnya membuat orang nyaman dengan tutur lembutnya.
Adel meraih koper dari atas kasur dan meletakkannya di lantai depan lemari, menata ulang pakaiannya di lemari bajunya dulu. Adel terkikik, tatkala menemukan pakaiannya semasa kecil. Adel dibuat heran dengan seleranya dulu, pakaiannya dominan berwarna pink, dan semuanya cerah. Berbeda sekali dengan Adel sekarang yang mempunyai selera warna kalem.
Ponsel Adel yang ada di atas kasur berdering. Memunculkan panggilan video dari Aksa. Adel menaikkan alisnya, tumben sekali.
Refleks Adel merapihkan rambutnya, kemudian mengangkat panggilan. Seketika muncul wajah Aksa dengan raut tenangnya seperti biasa. Rambut pemuda itu terlihat sedikit basah dan acak-acakan, Adel dapat menduga Aksa baru selesai berolahraga, dari mukanya yang sedikit berkeringat.
"Hai!" Adel melambaikan tangannya ceria, membuat Aksa tersenyum kecil.
"Seneng banget keliatannya."
"Iya dong. Gue udah berani ngobrol sama mama sambung, dan dia baik banget, Sa! Tadi kita becanda bareng, masa katanya Aa'Gio aslinya manja banget, gak keliatan 'kan." cerita Adel dengan riang.
Aksa terkekeh geli melihat wajah Adel begitu menggemaskan dengan eye smile nya. "Sekarang lagi apa?"
"Beres-beres baju. Gue nemu baju gue pas kecil, banyak yang warna pink! Lucu deh selera gue dulu." Adel terkekeh.
"Coba sekarang pake pink, pasti lucu."
"Mana pantes 'lah."
"Coba dulu, gue pengin tahu."
"Ih, maksa. Lagian gue gak punya baju pink sekarang, ini juga gak tahu yang lama cukup apa nggak."
"Dicoba aja. Badan lo 'kan gak berubah, tetep kecil. Pasti cukup." canda Aksa.
Adel memicingkan mata jengkel. "Gue gak tahu lo lagi muji gue langsing atau ngejek gue gak gede-gede."
Aksa sontak tertawa, membuat Adel harus mengalihkan pandangan ke baju-baju di koper. Kalau lihat pemuda itu terus darahnya jadi berdesir, dan dalam sekejap pipinya pasti akan merona.
"Besok gue jemput?"
Adel kembali menatap layar, "Yah, nggak bisa. Papa udah bilang mau nganter, kapan-kapan aja deh."
"Pengen banget gue jemput, ya?" Aksa menaikkan kedua alisnya jahil.
"'Kan lo yang nawarin! Ih, untung lagi video call nih kalo nggak udah gue tempeleng."
"Oh, yaudah kalo gitu gue jemput Cecil aja deh." dengan usil Aksa menyebutkan salah satu teman sekelas mereka yang memiliki body goals.
Muka Adel langsung mengeruh, ia kembali lanjut merapikan baju acuh tak acuh. "Ya jemput aja."
"Dia lagi free, Del. Katanya baru putus."
Tanpa sadar Adel menumpuk bajunya asal-asalan dengan kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURIGA
Dla nastolatkówMungkin Adel termasuk gadis beruntung di dunia ini, memiliki keempat sepupu yang begitu menyayanginya. Satu sekolah menyebut mereka, Auriga. Setiap keinginan selalu Adel dapatkan dengan mudahnya, namun ada satu yang sulit Adel wujudkan, kasih sayan...
