Setelah berbaikan disertai momen menangis haru bersama Lya tadi siang, akhirnya Adel mau keluar kamar malam ini dan kumpul bersama dengan keempat sepupunya. Riana dan Indra sudah pulang sore tadi, sebelum pulang Riana menyiapkan makan malam untuk mereka.
Dan disinilah mereka sekarang, makan bersama di ruang makan. Sejak menduduki kursi di antara Satya dan Nevan, Adel lebih banyak diam dan anteng, tidak seperti biasanya yang selalu menyeletuk jahil atau banyak tingkah. Sesekali mereka mendapati gadis itu melamun, memainkan makanannya dengan pandangan kosong.
Ini semua karena perasaannya masih dipenuhi kekecewaan pada sang papa. Ia sibuk memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Bisakah Adel menerima semuanya? Bisakah Adel berlagak baik-baik saja disaat hatinya terluka berat? Semakin memikirkannya membuat napsu makan Adel hilang.
"Ru, mau nambah ayam lagi gak?" tawar Lya. Jika biasanya Adel akan semangat menerimanya sebab ayam teriyaki merupakan makanan favoritnya, kali ini tidak. Adel nampak tersentak karena ucapan Lya membuyarkan lamunannya, kemudian menggeleng pelan dengan senyum samar.
"Jangan banyak melamun." Satya yang duduk di samping kiri Adel mengusap pundak gadis itu.
Adel balas mengangguk tanpa menatap Satya dan melanjutkan makannya.
Lya hanya bisa menghela napas melihat itu. Adel terlihat tidak bersemangat, ucapannya memang kelewatan sampai membuat berubah Adel seperti ini. Lya ingin Adel kembali ceria seperti biasa, namun Lya tidak berhak menuntut lebih, Adel mau memaafkannya saja Lya sangat bersyukur.
***
Masih seperti kemarin, saat sekolah pun, Adel berubah total menjadi pendiam. Hanya membaringkan kepala di atas meja dengan lengan kiri sebagai bantalan, mengabaikan tatapan penasaran dari teman-teman sekelas akan sikapnya yang tidak biasa. Untungnya dari bel masuk sampai istirahat sekarang tidak ada pelajaran karena guru yang mengajar berhalangan hadir, jadi Adel bisa bebas tidur di mejanya.
Vira terus berusaha mengajak Adel berbicara, memancing gadis itu dengan berita-berita menyenangkan yang biasanya akan membuat Adel antusias mendengarkan, namun kali ini gadis bergigi kelinci itu tetap tak mengindahkan. Sama sekali.
"Terus ya Del, masa iya mereka berantem di lapangan sambil teriak dramatis gitu? Ih, menurut gue lebay banget, ya gak sih, Del?" oceh Vira tanpa lelah. Sesusah ini ternyata membujuk Adel untuk kembali ceria.
"Hm." lagi-lagi hanya balasan itu yang terdengar. Satu kata dua huruf yang tentunya bikin lawan bicaranya kesal, apalagi sambil memejamkan mata rapat seperti itu, membuat Vira gemas ingin menjawil pipi tembamnya dengan tang.
"Abis itu ya, mereka--"
"Ra, gue ngantuk. Lo gibahnya sama yang lain aja deh." Adel langsung memotong ocehan Vira dengan suara lesunya, membuat gadis bermata sipit itu memajukan bibirnya merajuk.
"Lo gak asik ah."
"Emang."
Sebal, Vira berdiri sembari menghentakkan kakinya, menghadap Aksa yang duduk anteng di bangkunya sedang bermain ponsel.
"Sa! Cewek lo nih kenapa sih?" teriaknya mengadu. Aksa hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada gamenya.
"Jangan diajak ngomong dulu." balas Aksa singkat.
"Dih, gak yang cewek gak yang cowok, sama aja!" dumel Vira tidak habis pikir melihat kedua temannya itu. Gadis itu pun mengajak teman depannya untuk ke kantin karena ini sudah memasuki waktu istirahat pertama.
"Lo ikut gak, Del?" Adel menggeleng menjawab ajakan Vira.
"Ke kantin sama sepupu lo?" lagi-lagi Adel menggeleng.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURIGA
Teen FictionMungkin Adel termasuk gadis beruntung di dunia ini, memiliki keempat sepupu yang begitu menyayanginya. Satu sekolah menyebut mereka, Auriga. Setiap keinginan selalu Adel dapatkan dengan mudahnya, namun ada satu yang sulit Adel wujudkan, kasih sayan...
