54. Hilang kesempatan

3.5K 627 225
                                        

Aku kombek lagi nih, hihi.

Happy reading 🎉

***

Pukulan demi pukulan penuh emosi terus dilayangkan, pemuda bermata tajam itu enggan peduli pada buku tangannya yang memerah karena tidak dilindungi sarung. Tujuannya hanya satu, mengalihkan rasa sakit yang menyiksa di dadanya.

"Kalo aja tuh samsak manusia, mungkin sekarang dia udah tinggal nama, Sat."

Indra pendengaran Satya seakan tak berfungsi lagi untuk mendengarkan cibiran barusan. Ia terus memukuli samsak tak bersalah itu tanpa ampun. Namun entah kenapa sesak itu tetap bersemayam, Satya tak bisa mengartikan rasa perih di hatinya saat ini. Begitu menganjal dan menyakitkan.

"Kenapa gak mukulin pipi lo sendiri deh? Kesian lama-lama gue sama tuh samsak."

Pemuda itu Dewa namanya, teman SMP Satya yang sampai sekarang masih menjalin pertemanan dengan Satya meskipun mereka berbeda sekolah saat SMA. Banyak yang tidak tahu pertemanan mereka berdua, karena sangat jarang keduanya nongkrong dan memperlihatkan kebersamaan. Hanya sering bertemu di tempat ini, sebuah apartemen milik Dewa yang kerap Satya datangi ketika butuh pelampiasan akan amarahnya.

Dari sofa tempatnya duduk, Dewa terus memperhatikan muka dingin Satya yang dipenuhi keringat. Di pipi kiri Satya terdapat lebam keunguan, merupakan hadiah dari Dewa atas hal bodoh yang telah Satya lakukan hari ini.

Masih tak mendapat respon, Dewa beranjak mengambil minuman soda di kulkas. "Gue masih gak nyangka lo bisa segoblok itu. Otak sama hati lo udah gak berfungsi?" sarkas Dewa untuk kesekian kalinya.

Dan sepertinya telinga Satya sudah tidak tersumbat lagi kali ini. Pemuda itu menghentikan gerakan tangannya, menatap gamblang samsak tak bersalah di depannya dengan napas terengah.

Dewa menghela napas lelah. Entah seperti apa batin Satya sekarang, baru membayangkan berada di posisi Satya saja Dewa sudah pusing bukan main.

"Terus lo mau gimana sekarang?" Dewa melempar 1 botol soda, yang langsung Satya tangkap dengan mudahnya.

Satya menggeleng singkat. Meneguk minuman itu hingga tandas dan meremukkan botol kosong di tangannya dengan sekali gerakan.

"Gue harap lo sadar siapa yang bersalah disini."

"Wa." Satya mengarahkan pandangan lelah pada Dewa. Satya kemari untuk melupakan sejenak masalahnya, namun Dewa sedari tadi terus saja mengungkit dan menyalahkannya membuat rasa sakit itu bukannya berkurang justru bertambah.

"Kenapa lo langsung percaya sama Faldi dan hakimin Adel gitu aja?"

"Wa-"

Dewa membalas tatapan Satya datar. "Biar gue jawab. Karena lo gak berani terima kenyataan kalo sahabat lo udah berkhianat."

Seketika Satya merasa ada sentakan telak di dadanya begitu kalimat itu terucap.

Tidak. Satya berteman dengan Faldi sejak lama, sahabatnya itu tidak mungkin menikam dari belakang. Lagi pun sudah menjadi rahasia umum bahwa Faldi menyimpan rasa lebih dari seorang sahabat pada Lya, maka tidak mungkin Faldi yang menyelakai Lya.

Ya, tidak mungkin.

Satya berdiri, meraih tasnya dan berniat pergi dari apartemen Dewa.

Namun sebelum Satya benar-benar keluar, ia mendengar Dewa berujar.

"Jangan sampe lo nyesel, Sat. Dengan lo membela Faldi dan menyalahkan Adel, lo juga harus siap kehilangan orang yang berarti dalam hidup lo."

Lagi-lagi Dewa berhasil memporak-porandakan pikirannya.

AURIGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang