Di sebuah rumah yang bisa terbilang mewah, terdapat sosok pemuda laki-laki yang sedang bermain ponsel di sofa ruang tengah, kegiatannya terhenti ketika adiknya mengagetinya dari belakang. Tentu saja itu membuat dirinya kesal.
"Kak!"
"Hm."
"Is kakak mah, ngomong sama adik sendiri singkat banget, giliran sama Ferra aja panjang," cibir Alura.
"Apa?!" ketus Aland.
"Minjem hp nya dong," rengek Alura.
Aland mengangkat sebelah alisnya seolah berkata 'untuk apa?'.
"Pinjem boleh ya? kuota gue abis kak," pinta Alura lagi.
Aland yang memang sangat menyayangi adiknya itu langsung memberikan ponselnya ke Alura. Tentu saja Alura menerimanya dengan senang hati.
"Gue pinjem ya?"
"Hm."
Setelah menerimanya, gadis itu mulai mengotak atik ponsel kakaknya itu.
"Kak, ke supermarket gih. Beli keperluan rumah sekalian bumbu dapur juga mau abis," ujar Marizta.
Aland hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya. Ia menerima daftar belanja kepada Aland sekaligus beberapa lembar uang berwarna merah.
"Kak, Beliin snack," pinta Alura tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel Aland.
"Hm."
Aland keluar rumah menuju mobil kemudian menancapkan gasnya keluar area pekarangan rumahnya.
Ia memang menggunakan mobil. Alasanya agar ia tak repot membawa barang belajaannya.
Ia juga sudah terbiasa pergi ke supermarket untuk membeli keperluan yang Marizta suruh. Malu? Aland tak malu sama sekali. Ia senang karena ia bisa membantu mamahnya. Penurut memang, beda dengan Alura yang kadang bisa disuruh kadang juga tak bisa.
¤¤¤¤¤
Sedangkan di tempat lain, seorang remaja putri sedang memasak sarapan untuk ia dan abangnya makan. Orang tuanya masih berada di luar kota.
Dulu, ia selalu di ajari Lavina untuk memasak. Karena Lavina ingin agar putrinya bisa memasak untuk menggantikan dirinya jika pergi keluar kota. Jadilah sekarang gadis itu bisa memasak berkat dari mamahnya.
"Makanan sudah siap!" girang Ferra.
"Wihhh, enak nih," ujar Farrel.
Ferra duduk di samping Farrel dan mengambil makanan demi makanan yang ada di meja untuk dimakan.
Mereka makan dengan keadaan hening. Kedua nya diajarkan agar tidak membuka suara di saat sedang makan.
"Uhh, kenyang!" girang Farrel mengusap usap perutnya.
"Gila. Enak banget masakan lo dek," sambung Farrel.
"Biasa aja kali bang. Kayak baru pertama kali aja lo makan masakan gue," dengus Ferra.
"Bang!" panggil Ferra.
Farrel menoleh, manik matanya menangkap puppy eyes yang ditunjukkan gadis itu.
"Apa?"
"Gue pengen ke supermarket. Snack sama es krim udah abis."
Seperti anak kecil memang. Tapi, sikap seperti itu lah yang membuat Farrel semakin menyayangi adiknya itu. Dia akan berusaha membuat adiknya terus bahagia. Kalaupun ada orang yang menyakitinya, orang itu akan berurusan dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Start From You [Completed]
Teen FictionJudul sebelumnya Fake Nerd vs Cool Boy. (Part masih lengkap) Hidup bukan soal bagaimana cara nya berjuang untuk mendapat kenikmatan dunia. Tetapi bagaimana caranya berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Perjalanan hidup bukan semua perkar...
![Start From You [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/181688143-64-k547747.jpg)