Chapter 25

12.6K 294 1
                                        

"Kak!"

Aland tidak menggubris panggilan Alura, bahkan Marizta sudah berkali kali memanggilnya namun tetap sama hasilnya.

"Kak jangan murung terus dong. Itu udah resiko kakak," jelas Alura.

Aland menoleh dengan ekspresi melasnya.

"Gue harus gimana?"

"Minta maaf lah kak. Masa iya diem aja, terus murung gini? masalah nggak akan selesai kak."

Alura ada benarnya juga. Pikir Aland.

¤¤¤¤¤

Saat Ferra menginjakkan kakinya di sekolah, perasaan tidak enak sudah menyelimuti dirinya.

Banyak pasang mata yang menatapnya sinis.

'Eh eh itu dia orangnya.'

'Dia nih biang keroknya.'

'Iyah bener. Dasar ngga tau diri!'

'Udah dibaikin ko nglunjak?!'

'Gara gara dia, Aland dipukul sama Farrel.'

Bang Farrel mukul kak Aland?-batin Ferra bertanya tanya.

Ferra mempercepat jalannya menuju kelas, bukan karena banyak yang mencibirnya, namun karena hal lain yang membuat Ferra harus segera mempercepat jalannya. Soal cibiran ia sudah terbiasa mendengarnya. Lihat saja nanti kalau dirinya membuka penyamarannya. Gimana reaksi semua orang.

Sesampainya di kelas, Ferra melempar tasnya ke arah Alura lalu langsung pergi menuju kelas abangnya.

"Permisi. Kak mau nanya. Kak Farrel nya ada?" tanya Ferra.

Seorang Ferra tunduk sama kakak kelas?-batin Ferra.

"Siapa lo? pergi sana!" usir seseorang yang di panggil 'kak' tadi.

Yee si nenek lampir, gue juga ogah nanya sama lu-batin Ferra berteriak.

Ferra pergi dengan perasaan kesal. Ia pun merogoh sakunya lalu mengeluarkan ponselnya. Ditekannya nama Farrel di sana.

"Bang keluar bentar dong!"

'Ngapain?'

"Keluar dulu. Gue mau nanya sama lo!"

'Oke.'

Tuttt tutt

Panggilan diputuskan sepihak oleh Farrel, tak lama setelah itu, Farrel sudah berada di samping Ferra.

"Mau nanya apaan?"

"Abang kemaren mukulin kak Aland?" tanya Ferra yang lebih tepat pada pernyataan.

Farrel diam. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Bang. Kenapa sih mesti mukulin dia segala?"

"Karena gue nggak mau lo sedih."

Ferra diam. Abangnya sunggug menyayanginya. Bolehkah ia mengatakan bahwa ia adalah orang yang paling beruntung?

¤¤¤¤¤

"Ferra. Kenapa kamu telat?!" tegas Bu Ratna.

"Dari rooftop, Bu."

Memang benar, setelah dari kelas Farrel, ia tidak langsung kembali ke kelas. Ia pergi ke rooftop untuk menjernihkan pikirannya.

"Silahkan kamu keluar. Bersihin toilet cewe sampai bersih!" tegas Bu Ratna dengan sorot mata tajam.

"Toilet?" tanya Ferra seakan akan ia tidak setuju dengan hukuman yang diberikan kepadanya.

Start From You [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang