Chapter 54

10.2K 248 17
                                        

5 tahun lebih 2 bulan kemudian...

Sudah lima tahun lebih, Ferra dengan Aland LDR, seharusnya Aland sudah kembali ke Indonesia, tapi kenapa sampai saat ini Aland belum terlihat batang hidungnya, jangankan melihat, menghubungi Ferra untuk sekedar memberi kabar saja tidak.

Satu tetes air mata lolos dari kelopak mata Ferra, sudah cukup. Ia tidak sanggup lagi. "Ferra, mamah mau bicara serius sama kamu. Ikut mamah ke atas," suruh Lavina.

Ferra dibuat bingung sekarang, tumben-tumbennya Lavina berucap seserius ini, apa ada suatu hal yang membuatnya marah? Apa dirinya melakukan suatu kesalahan sehingga membuat Lavina marah? Entahlah, yang jelas ia akan mengetahuinya setelah mendengar penjelasan Lavinan nanti.

Ferra terus mengekori Lavina dari belakang, hingga tibalah mereka berdua di kamar Ferra, lebih tepatnya balkon kamar. Lavina menatap manik mata Ferra dalam membuat Ferra gelagapan dengan apa yang akan Lavina lakukan setelahnya.

"Fer. To the point aja. Mamah sama Papah udah setuju buat ... "

Lavina menggantung ucapannya membuat Ferra tegang menunggu kelanjutannya. Apa ia akan dikirim ke luar negeri? Jika iya, ia ingin ke Australia saja agar ia dengan cepat bertemu Aland. Atau ia akan dijodohkan dengan teman orang tuanya? Semoga saja tidak terjadi.

"Mamah sama Papah udah sepakat buat jodohin kamu sama anaknya temen mamah papah," ujar Lavina cepat.

Jdwaarrr

Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Ferra menegang, apakah ia tidak salah mendengar? Semoga saja Ferra memang salah mendengar. Apa-apaan ini? Ia tidak mau dijodohkan, ia sudah memilih dengan siapa ia akan bersama. Ia hanya mencintai Aland. Aland Freddy Wijaya.

"Mamah kenapa sih mah, mamah sama papah tau sendiri kalo aku cuma cinta sama Kak Aland. Dan dengan entengnya mamah bilang mau jodohin aku sama anaknya temen mamah itu?" bantah Ferra dengan nafas yang menggebu gebu, bilang saja Ferra keterlaluan.

Tidak seharusnya ia berkata demikian kepada orang tuanya, apalagi Lavina yang sudah melahirkan sekaligus membesarkannya sampai sekarang ini. Tapi, ia tidak suka jika dijodohkan dengan orang yang tidak ia suka apalagi cinta.

"Tidak ada bantahan. Mamah nggak mau terima penolakan. Besok, acara pertunangan kalian akan diadakan jam 10."

Setelah mengucapkan itu, Lavina bergegas keluar kamar Ferra yang masih mematung di tempat.

Satu demi satu butiran air mata Ferra keluar dari tempat persembunyiannya. Cobaan apa lagi yang sedang menimpa Ferra saat ini? Bagaimana kalau Aland tahu? Apa yang harus ia lakukan? Melawan orang tua tapi tetap bersama Aland ataukah menuruti orang tua tapi berpisah dengan Aland? Sungguh ia berada di ambang bingung sekarang, ia sudah tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan?

Sudah dua bulan Aland tidak menghubunginya. Tidak memberinya kabar, dan seharusnya juga Aland saat ini sudah kembali ke Indonesia.

Dia harus menanyakan ini dengan orang tua Aland. Yah ia harus bertanya.

Ferra kembali ke dalam, mencari keberadaan ponselnya, sampa akhirnya dapat. Dengan segera ia mencari contact Marizta, dan syukurnya, Marizta mengangkatnya

"Hallo, Tante."

'Ya hallo'

"Tante, Ferra boleh nanya nggak?"

'Boleh, mau nanya apa?'

"Gini, Tante. Ferra mau nanya, Kak Aland kapan pulang ya?"

'1 tahun ke depan, Aland baru akan pulang ke Indonesia.'

Start From You [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang