Chapter 46

10.3K 259 9
                                        

Ini adalah hari kedua Ujian Nasional berlangsung. Aland menuruni tangga untuk sarapan bersama kedua orang tuanya juga Alura. Semenjak kemarin, Aland memfokuskan untuk belajar, belajar dan belajar.

Ponselnya pun dibiarkan tergeletak di atas nakas, sesekali Alura menggunakan ponsel Aland hanya sekedar menonton drama korea di ponsel laki-laki itu. Sayang kalau memakai ponsel sendiri, takut paketan habis.

Bukan Aland yang sengaja mengunduh aplikasi dengan sekumpulan drama korea di dalamnya. Aland tidak menyukai drama korea. Alura yang mengunduhnya, dan tidak membiarkan Aland menghapusnya.

"Kak, gue pinjem ponsel lo lagi ya?"

"Hm."

"Kamu ini, selalu saja pinjem punya kakak kamu. Kasian kan dia," ujar Jaya membela Aland.

Wajah ceria Alura berubah cemberut, Marizta terkekeh melihatnya. Begitu juga dengan Aland yang ikut terkekeh, semenjak Aland mengenal Ferra, hidupnya banyak mengalami perubahan. Bahkan Aland sendiri merasa bahwa dirinya tidak pernah sebahagia ini, seceria ini.

Semua orang terdekatnya pun mengakui bahwa Ferra membawa banyak perubahan di kehidupan Aland. Aland yang dulunya dingin, sekarang es yang ada di dalam tubuhnya perlahan mencair.

"Yaudah. Kamu berangkat sana," suruh Marizta pada Aland.

Aland mengangguk lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya,  diusapnya lembut pucuk kepala Alura membuat Alura senang bukan main. Ini adalah kali pertamanya Aland memperlakukan dirinya seperti tadi. Itu adalah hal yang diimpikan oleh seorang adik pada kakaknya.

¤¤¤¤¤

"Pagi yuhuu. Ferra hadir disini!" teriak Ferra dari arah tangga.

"Berisik kamu ini, pagi pagi juga. Buruan makan, nanti papah ajak jalan-jalan."

Mata Ferra berbinar.

"Serius pah? Kapan? Hari ini? Emang papah nggak ke kantor?" tanya Ferra bertubi tubi.

"Ribet banget sih hidup lo. Lama lama gue jitak lo," timpal Farrel.

"Siapa yang ngomong sama lo sih. PD banget. Orang gue ngomong sama papah kok. Ya kan pah?"

Aldrich mengangguk mengiyakan sebelum terjadi perang dunia ke dua di rumah ini.

"Yaudah Farrel berangkat dulu mah, pah." pamit Farrel mencium punggung tangan kedua orang tuanya lalu melirik Ferra dari ekor matanya.

"Apa! Udah sana sana pergi," sinis Ferra. Farrel terbahak sambil berjalan menuju pintu.

Setelah makan, Aldrich menyuruh Ferra agar bersiap. Karena hari ini, tidak ada pekerjaan di kantor, jadi dia memilih untuk menghabiskan waktunya bersama Ferra.

Ferra memilih baju yang menurutnya pas untuk pergi hari ini. Setelah menemukan bajunya, Ferra segera berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.

Ferra duduk di depan meja rias, dia menghembuskan nafas kasar sambil menatap cermin dengan tatapan kosong. Satu hal yang Ferra rasakan sekarang. Rindu. Dia ingin bertemu Aland. Tapi, dia juga tidak mau mengganggu konsentrasi belajar Aland.

Dia harap, kekasihnya itu bisa lulus dengan nilai yang memuaskan sehingga bisa mewujudkan kuliahnya di UNSW nanti. Baru dua hari tidak bertemu saja sudah rindu. Apa kabar nanti kalau tidak bertemu selama bertahun tahun? Entahlah. Kita lihat saja nanti.

"Ferra. Cepetan!" teriak Lavina membuyarkan lamunan Ferra.

"Iya mah, bentar!" teriak Ferra tak kalah nyaring.

Ferra cepat-cepat menyisir rambutnya yang dibiarkan tergerai. Ferra memoleskan bedak sedikit. Perfect. Dengan make up ataupun tanpa make up, Ferra tetap cantik.

Start From You [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang