Chapter 22

13.2K 337 4
                                        

Saat ini Farrel sedang menunggu teman-temannya di sofa ruang tamu. Ferra? dia lebih memilih untuk tetap berada di kamar.

Saat suara bel berbunyi, Farrel bangkit dan berjalan menuju pintu utama. Ia yakin bahwa yang memencet bel tersebut adalah teman-temannya yang sedari tadi ia tunggu.

"Lama!" kesal Farrel.

"Ngomelnya nanti aja, suruh kita masuk dulu," cerocos Akmal.

Mereka semua masuk kemudian duduk di karpet tebal yang tersedia di ruang keluarga.

"Ferra mana?" tanya Aland tiba tiba.

"Cieeee nyariin," goda Vano membuat yang lain ikut terkekeh. Aland hanya menatapnya datar. Vano yang ditatap seperti itu langsung terdiam.

"Ferra di kamar," ujar Farrel.

Aland ber-oh ria sambil menganggukan kepalanya.

¤¤¤¤¤

Drrrtt drttt

Ponsel Ferra bergetar, di layar ponselnya terpampang jelas nama Belva di sana.

'Woi Fer!'

Ferra menjauhkan ponselnya saat teriakan Belva begitu memekakan telinga.

'Lo masih hidup kan?'

"Kenapa?"

'Main ke rumah Leta yok!'

"Lain kali aja deh."

'Lo kenapa? sakit lo?'

"Badan gue nggak enak banget."

'Bonyok lo keluar kota kan? Bang Farrel kemana?'

"Hm. Di bawah sama temen temennya."

'Gue bilang Bang Farrel ya kalo lo sakit?'

"Eh eh jangan. Awas aja kalo bilang, udah lah gue mau tidur dulu."

'Yaudah sana lo tidur. GWS beb.'

Tutttt

Panggilan diputuskan sepihak oleh Belva.

Ferra memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di kasur kingsize kesayangannya.

¤¤¤¤¤

"Suruh Ferra ke bawah gih," ujar Akmal.

"Nah iya tuh. Liat noh si Aland diem diem bae," ujar Vano diakhiri gelak tawa.

Aland yang dibicarakan hanya diam tak berkutik.

"Oke oke. Gue ke atas dulu," pamit Farrel lalu berjalan menyusuri tangga menuju kamar Ferra yang berada di sebelah kamarnya.

"Udah tidur," gumam Farrel.

Farrel menutup pintu dan kembali menghampiri teman-temannya di bawah.

"Udah tidur dia," ujar Farrel begitu menginjak tangga terakhir.

"Yaudah. Kita balik dulu kalo gitu. Nggak ada Ferra ngga seru," timpal Akmal.

"Oke oke. Thanks udah dateng," ujar Farrel yang diangguki ketiganya.

Setelah ketiga temannya itu pulang ke rumahnya masing-masing. Farrel menutup pintu, kemudian menguncinya dan berjalan ke arah kamarnya sendiri.

¤¤¤¤¤

Sinar matahari memasuki kamar Ferra melalui celah celah gorden membuat pemilik kamar mengerang pelan.

Ia berjalan dengan gontai ke arah kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi, ia memoles sedikit lipgloss di bibir agar tidak terlihat pucat.

Start From You [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang