Sinar mentari mulai memasuki kamar Ferra melalui celah celah gorden. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi namun Ferra masih berada di balik selimut, tidak mendengar bunyi alarm yang terus berdering.
Farrel yang tidak tahan mendengar bunyi alarm yang menurutnya sangat bising itu mulai berjalan menuju kamar Ferra. Keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya, pintu kamar Ferra tidak terkunci atau mungkin Ferra lupa untuk menguncinya semalam, entah lah. Yang pasti, Farrel bisa masuk ke dalam kamar Ferra tanpa harus mengeluarkan teriakkannya.
Farrel menggeleng melihat tubuh Ferra yang masih dibalut selimut, gorden masih tertutup padahal cahaya matahari sudah berusaha masuk ke dalam kamar Ferra melalui celah-celah gorden.
Farrel berjalan menuju gorden untuk membukanya. Dia menoleh pada Ferra, tidak ada perubahan. Ferra belum saja bangun dari tidurnya, padahal cahaya matahari sudah memancar mengenai wajahnya.
Farrel menghela nafas gusar lalu bejalan menuju kasur Ferra, Farrel mengambil satu bantal dan bersiap digunakan untuk membangunkan adik kesayangannya itu.
Bukkkk
Bukkkk
"Bangun."
Bukkk
"Fer bangun!"
Farrel membuang bantal yang tadi di pegangnya ke sembarang arah dengan perasaan kesal karena Ferra tak kunjung bangun. Farrel berjalan menuruni tangga, dia melihat Aland sudah berada di ruang tengah. Pasti Aland mau menjemput Ferra.
"Anak gue yang satu mana?" tanya Lavina.
"Mamah ini kalo bicara suka ngawur. Inget umur mah, mamah udah tua, udah punya anak dua, udah nggak pantes bicara lo-gue kayak tadi," protes Aldrich.
"Farrel nyerah," ujar Ferra angkat tangan.
"Land. Coba lo bangunin Ferra gih sana," suruh Farrel yang diangguki oleh Aland.
Aland berjalan menuju kamar Ferra, dia langsung masuk karena Farrel keluar tanpa menutupnya kembali. Aland berjalan menuju kasur Ferra lalu duduk di tepi kasur, tangannya terulur mengusap pucuk kepala Ferra. Ferra menggeliat kecil lalu merubah posisi jadi membelakangi Aland.
"Bentar lagi bang," lenguh Ferra tanpa menyadari bahwa orang yang mengusapnya tadi adalah Aland bukan Farrel.
"Aku bukan Farrel," bisik Aland tepat di telinga Ferra.
"Hm."
Awalnya Ferra sekedar berdeham untuk membalasnya karena memang tidak terlalu peduli. Namun sedetik kemudian, mata Ferra terbuka lebar. Ferra memukul Aland dengan menggunakan bantal tanpa ampun sampai Aland mengadu kesakitan. Ferra masih tidak menyadari bahwa itu Aland.
"Ferra ini aku," ucap Aland di sela-sela ringisannya membuat aksi Ferra terhenti.
"Loh kakak, ko disini?" polos Ferra.
"Menurut kamu? Kan emang dari tadi aku di sini," geram Aland.
"Hehe kirain siapa," kekeh Ferra.
"Mandi sana," suruh Aland yang diangguki Ferra. Ferra berjalan malas ke arah kamar mandi, langkahnya terhenti kala mengingat sesuatu. Dia berbalik, menatap tajam Aland. Aland yang seolah mengerti tatapan itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal guna menyembunyikan kegugupannya.
Dengan segera, Aland berjalan dengan gaya coolnya untuk menutupi salah tingkahnya di depan Ferra. Ferra terkekeh melihat sikap Aland yang menurutnya sangat lucu itu.
Aland duduk di sofa ruang tengah dengan disuguhkan beberapa cemilan juga minuman yang bisa Aland santap seraya menunggu Ferra. Sedangkan Farrel, Lavina dan juga Aldrich berada di meja makan untuk sarapan pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Start From You [Completed]
Teen FictionJudul sebelumnya Fake Nerd vs Cool Boy. (Part masih lengkap) Hidup bukan soal bagaimana cara nya berjuang untuk mendapat kenikmatan dunia. Tetapi bagaimana caranya berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Perjalanan hidup bukan semua perkar...
![Start From You [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/181688143-64-k547747.jpg)