Chapter 41

11.5K 253 0
                                        

Jam sekolah sudah berakhir. Mereka berbondong bondong untuk keluar gerbang sekolah.

Termasuk juga Aland dengan Ferra yang kini satu mobil bersama untuk pulang ke rumah. Tapi sepertinya, mereka tidak pulang ke rumah langsung melainkan pergi ke sebuah danau.

Sesampainya di sana, mereka berdua langsung duduk di bawah pohon yang rindang dengan beralaskan rumput. Pemandangan di danau tersebut sangat indah membuat siapapun betah berlama-lama di danau tersebut.

"Fer?" panggil Aland membuat yang dipanggil menolehkan pandangannya.

"Kamu sanggup nggak kalau kita LDR-an?"

Ferra yang mendengar kalimat tersebut langsung mengalihkan padangannya dari Aland. Hatinya seakan tersayat oleh sebilah pisau. Satu kata terakhir membuat dirinya terdiam. Matanya mulai memanas bersiap untuk meluncurkan butiran bening dari tempat persembunyiannya.

LDR. Kata-kata itu terus terngiang di kepala Ferra, haruskah dirinya LDR dengan Aland? Yang notabenenya adalah kekasihnya.

Ferra menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia memberanikan diri menatap Aland.

"Emang mau kemana?"

"Papah nyuruh aku buat nerusin kuliah di Australia."

"Univ mana?" tanya Ferra yang sudah mati-matian menahan isak tangisnya.

"UNSW." Ferra mengernyit bingung.

"University of New South Wales," sambung Aland, Ferra mengangguk mengerti.

"Ngambil jurusan apa?"

"Kedokteran. Ya awalnya sih papah nyuruh aku buat kuliah di jurusan bisnis. Tapi aku nolak, karena cita-cita aku itu mau jadi seorang dokter, bukan bisnismen. Akhirnya semuanya setuju aku ngambil jurusan kedokteran."

Kedokteran? Berarti lama dong? -batin Ferra.

"Berapa tahun?" tanya Ferra dengan suara yang sudah bergetar.

"sekitar 5-10 tahunan."

Ferra mengangguk paham. 5-10 tahun, Ferra juga mengerti bahwa orang yang mengambil jurusan kedokteran pasti akan bertahun-tahun lamanya. Apakah ia sanggup menjalani Long Distance Relationship?

"Fer?"

Ferra tidak menjawab, bahkan rasanya ia enggan untuk membuka mulut. Ia masih memikirkan bagaimana nasibnya jika menjalani hubungan jarak jauh dengan Aland. Ia sudah benar-benar mencintainya.

Ia tidak masalah jika kekasihnya itu melanjutkan kuliahnya di sana. Tapi yang ia takuti adalah bagaimana kalau Aland sampai tertarik dengan perempuan di sana?

"Fer?" panggil Aland sekali lagi.

Ferra masih enggan untuk bicara. Bahkan menolehnya pun tidak. Ia benar-benar bingung sekarang. Bahkan buliran-buliran bening yang sedari tadi ia tahan lolos begitu saja dari tempat persembunyiannya. Ia tidak sanggup menahan tangisnya. Semakin ia tahan, semakin sesak nafasnya.

Dapat Aland lihat bahu gadisnya itu bergetar, apakah dia menangis? Tentu saja ia menangis. Dia pasti memikirkan ucapannya barusan. Jujur saja, dirinya juga berat untuk menjalani Long Distance Relationship dengan Ferra. Ia ingin selalu berada di sampingnya, menemani kemanapun dia pergi.

Tapi, masa depan Aland juga penting, ia harus melanjutkan kuliahnya di sana. Lagi pula UNSW juga adalah univ impiannya sedari kecil. Jadi dia harus pergi kesana.

"Fer. Hei dont cry," ujar Aland dengan sangat lembut sambil memegang bahu Ferra dan membalikkannya hingga berhadapan dengannya.

"Dont cry," ujar Aland menghapus air mata Ferra dengan kedua ibu jarinya. Aland juga tersenyum manis pada Ferra-nya itu.

Start From You [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang