Chapter 50

10.3K 249 13
                                        

Sejak semalam, dia terus memikirkan Aland. Nanti malam adalah acara promnight, paginya mereka akan pergi ke pantai sesuai janji Aland setelah ujian kemarin, dan besoknya lagi adalah hari dimana hati Ferra akan diuji, Aland akan berangkat ke Australia untuk meneruskan kuliahnya.

Tok tok tok

"Masuk."

Seseorang masuk ke dalam kamar Ferra, ia melihat adiknya sedang duduk menatap ke luar jendela kamar. Seseorang itu adalah Farrel. Farrel tahu adiknya ini pasti memikirkan tentang Aland.

"Fer?" Ferra menoleh ke belakang dan mendapati Farrel yang tengah tersenyum manis dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.

"Kenapa hm?" kali ini Farrel duduk di sofa panjang yang ada di hadapan Ferra. Ferra menggeleng lemah, matanya mulai berkaca kaca. Ia benci situasi seperti ini. Kenapa ia harus berada di situasi seperti ini?

"Lo pasti mikirin Aland ya?" tanya Farrel yang tepat disebut pernyataan.

Ferra langsung memeluk tubuh Farrel yang ada di depannya, tangan Farrel terulur untuk membalas pelukan adik semata wayangnya ini. Dengan mudahnya, air mata Ferra lolos dari tempat persembunyiannya, pelukannya semakin erat. Farrel yang merasakan itu pun ikut merasakan apa yang adiknya rasakan.

"Nggak usah nangis, apaan dah lo. Udah gede juga masih cengeng," ejek Farrel. Namun dia tidak ada niat sama sekali untuk mengejek Ferra, ia hanya ingin menenangkan hati Ferra saja yang saat ini sedang bergemuruh.

Farrel melepas pelukan tersebut, mencengkeram kedua bahu Ferra, Ferra mendongak dengan mata yang masih berkaca-kaca, jejak air mata ada menguasai pipinya.

"Gue saranin, lo harus ngasih apa kek ke dia, baju kek, jam tangan kek atau apalah itu buat dia pake di sana, jadi dia bisa inget lo terus," saran Farrel.

"Gue udah beli."

"Serius? Kapan lo belinya? Beli apa?" heboh Farrel dengan mata yang membulat, bahkan cengkeraman di bahu Ferra semakin erat.

Ferra mengangguk mantap. "Pas lo ujian, gue ngajak Belva ke mall, beli jam tangan."

"Waw. Kenapa lo nggak bilang?" geram Farrel.

"Nggak penting." Farrel menghela nafas gusar, selalu saja seperti ini.

"Udah udah, terus kapan lo ngasih itu?"

"Besok."

"Yaudah sih, nggak usah sedih gitu, ngaca noh muka udah kayak monster."

Farrel langsung berlari keluar kamar Ferra sambil tertawa terpingkal pingkal.

"Awas aja lo!" teriak Ferra.

"Fer!" panggil Farrel menyembulkan kepalanya di pintu kamar Ferra.

"Apa," sinis Ferra.

"Gue mau minta saran sama lo," cicit Farrel yang diangguki Ferra. Setelah mendapat jawaban dari adiknya itu, Farrel melangkah mendekat ke arah Ferra yang tengah duduk di tepi kasur.

"Gue suka sama Belva," cicit Farrel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ferra terbahak bahak mendengar kata kata yang dilontarkan Farrel dari mulutnya.

"Gue udah tau. Jadi, lo mau saran apa?"

"Menurut lo, kalo gue nembak Belva di acara promnight nanti, gimana?"

"Gue setuju!" pekik Ferra sambil meloncat naik ke kasurnya.

"Untung gue nggak jantungan," gumam Farrel.

"Gue setuju bang, lo punya rencana kayak gimana?" tanya Ferra. Farrel mendekat ke arah Ferra lalu membisikkan sesuatu di telinga Ferra. Hembusan nafas Farrel membuatnya geli saja.

"Jadi tugas lo bikin Belva mau ke titik lokasi. Alasannya terserah lo."

"Oke, deal."

Mereka berdua berjabat tangan. Ferra berharap, usaha Farrel tidak sia-sia nanti malam, Ferra sudah menduganya dari lama kalau mereka berdua pasti punya perasaan lebih. Mereka juga akhir-akhir ini semakin dekat. Jadi apa salahnya kalau mereka berdua pacaran bukan? Lagi pula Belva itu perempuan. Perempuan paling tidak suka kalau perasaannya digantungin kayak jemuran. Rasanya itu sakit. Pikir Ferra.

Setelah mendiskusikan rencana, mereka berdua menuruni tangga. Mereka berdua berpisah di tangga terakhir, Ferra berjalan menuju dapur menghampiri mamahnya di sana. Sedangkan Farrel, dia berjalan menuju taman belakang rumah sambil membawa gitar kesayangannya.

Farrel memangku gitarnya lalu mulai memetik senar gitar tersebut. Alunan gitar yang Farrel mainkan sampai terdengar ke dalam rumah. Ferra yang sedang membantu Lavina memasak jadi lebih bersemangat setelah mendengar alunan gitar tersebut. Farrel memang pandai bermain gitar, dari kecil dia sudah belajar bermain gitar.

¤¤¤¤¤

Kini, jam menunjukkan pukul 18.00 WIB, semua keluarga kecil Aldrich tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara promnight yang diadakan pukul 20.00 WIB. Ferra mengenakan dress lengan pendek berwarna putih selutut dengan bagian belakang yang memanjang. Rambutnya Ferra gelung dengan membiarkan sedikit anak rambutnya tergerai.

Ferra duduk di depan meja rias, memoles sedikit make up untuk mempercantik wajahnya. Ferra menatap pantulan dirinya di cermin, ia tersenyum manis melihat penampilannya sendiri.

"Fer udah be-

"Gila, cantik banget lo!" puji Farrel menatap takjub Ferra.

Dilihatnya Farrel berada di ambang pintu sambil membenarkan jasnya. Farrel memakai kemeja berwarna putih yang dilapisi jas berwarna hitam, celana hitam juga sepatu hitam.

"Ferra. Buruan turun. Ada Aland di sini!" teriak Lavina dari lantai bawah.

"Pangeran lo udah dateng cieee," goda Farrel. Ferra terkekeh lalu mengambil high heels berwarna putih. Saat melewati pintu, tiba-tiba Farrel mencekal pergelangan tangannya.

"Apa sih bang?" kesal Ferra.

"Inget rencana kita siang tadi," kekeh Farrel.

Ferra mengangguk. Baru selangkah ia maju, Farrel kembali mencekal tangannya.

"Apa lagi?" geram Ferra.

"Jangan sampe gagal."

"Iya, bawel banget lo. Cowo apa cewe?" sinis Ferra langsung berlari menuju lantai bawah dengan menenteng high heels berwarna putih yang ia ambil di dalam kamar.

"Loh. Ko sepi? Perasaan tadi ada suara mamah?" tanya Ferra pada Aland.

"Mamah sama papah kamu tadi pamit berangkat dulu," jawab Aland. Tangannya terulur mengambil high heels yang di tenteng Ferra. Memakaikannya di kedua kaki Ferra. Ferra speechless, kedua pipinya merona, perasaan senang muncul dalam benaknya.

Aland mendongak, mata mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama. Aland berdiri, menarik Ferra ke dalam dekapannya. Ferra merasakan posisi ternyaman di pelukan Aland. Pelukan mereka terlepas saat seseorang berdeham.

"Ekhem."

"Gue jemput Belva dulu. Lo berdua cepetan berangkat atau bakal kena amukan mamah."

"Iya bang iya."

Saat Farrel melewati Ferra juga Aland, dengan sengaja, Farrel menyenggol bahu adiknya dengan gaya angkuh.

"Idih," gumam Ferra.

Setelah Farrel keluar, Aland juga Ferra pun ikut keluar, mengunci pintu utama rumah Ferra. Aland tancap gas menuju sekolahnya.

Di dalam mobil, Ferra terus-terusan tersenyum, merasakan lembutnya genggaman Aland yang begitu lembut di tangan Ferra. Aland juga ikut tersenyum melihat Ferra tersenyum seperti ini.

Besok, Aland harus menghabiskan waktunya bersama sahabat-sahabatnya maupun kekasihnya sendiri. Karena lusa, Aland harus berangkat ke Australia untuk mengurus kuliahnya. Aland harap, setelah ia pergi ke Australia, Ferra akan tetap menampakan senyuman manisnya, bukan senyuman hambarnya.

TBC!!
Start From You
By. Arindabm

Start From You [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang