Ara?

1K 30 5
                                        

"Ara goblok, kenapa kau memakai baju kesayanganku! " teriak Denis setelah masuk kedalam kamarnya.

"Diamlah Denis, ini hanya baju bukan pacarmu yang aku pakai. " Ara melontarkan kata-kata yang cukup ekstrim.

"Sialan kau! " umpat Denis kemudian masuk kedalam kamar mandi.

"Anak-anak ayo makan, dan Denis tolong sekalian panggil anak perempuan tadi untuk makan bersama. " Panggil Oma dari meja makan.

"Biar aku saja Oma. "

"Baiklah sayang. " Si Oma tersenyum menatap cucu kesayangannya yang terlihat lebih hidup dari biasanya.

Anak lelaki yang dipanggil Ara oleh Denis melangkah santai memasuki kamar yang ditempati Fani. Setelah menutup pintu kembali, terlihat Fani tengah duduk ditepian tempat tidur dengan pandangan menyapu seluruh isi ruangan.

"Mandilah, setelah itu ikut kami makan siang. Oma sudah menunggu diruang makan. " ujar anak lelaki itu.

"Aku tidak punya baju ganti. " cicit Fani.

"Kau bebas memakai apa pun yang ada diruang ini. "

"Benarkah? " Fani tampak kurang yakin.

"Emm.. "

"Tapi kamar ini tampaknya milik laki-laki. " gumam Fani yang masih terdengar jelas.

"Apa kau menyukainya? "

"Emm, suasananya menenangkan dan juga nyaman. "

"Baguslah, "

"Oy siapa namamu? "

"Kau boleh memanggilku Ara. "

"Ara? Terdengar seperti nama perempuan hahah apa karena itu kau tidak mau memberitahukan namamu? " Fani tertawa gemas mendengar jawaban dari Ara.

"Fani cepat mandi! " titah Ara tegas yang langsung dihadiahi muka bengong oleh Fani.

"Eh apa temanmu yang tadi baik-baik saja? "

"Kau tidak kuizinkan bertanya! "

"Baiklah." Fani melangkah malas menuju kamar mandi meninggalkan Ara yang masih betah berdiri didepan pintu.

Stelah mendengar kucuran air barulah Ara meninggalkan kamarnya menuju dapur dimana Oma nya berada. Tak lama kemudian Fani dan Denis datang bersamaan. Denis tampak kaget melihat Fani mengenakan pakaian milik Ara yang notabene sangat tempramen soal barang miliknya yang dipakai orang lain.

Namun saat ini orang yang bersangkutan tampak santai dan asik-asik saja. Terlebih Fani yang tampak tidak terjadi apa-apa seolah yang ada dihadapan mereka adalah orang yang cukup lama dikenalnya.

"Siapa namamu Nak? " Oma bertanya sambil menuntun Fani duduk dikursi meja makan.

"Fani em... " kalimat Fani menggantung karena bingung mau memanggil dengan sebutan apa pada wanita yang menanyainya itu.

Ara yang dari tadi memperhatikan Fani, langsung menuntun dengan berkata. "Oma" yang langsung diikuti oleh Fani sambil nyengir.

"Fani sekarang makan dulu, setelah itu jelaskan ke Oma apa yang terjadi sampai kalian bertiga pulang dengan luka lebab seperti sekarang. " Oma duduk disamping Fani sambil membagikan nasi kepiring Fani, Denis dan juga Ara.

Fani hanya nyegir cabe, tidak tahu mau bereaksi seperti apa. Dia tidak tahu bagaimana tersenyum dengan manis. Kebiasaannya hanya tertawa dan tertawa walau itu tidak lucu sekali pun.

Denis dan Oma nya makan dengan lahap sementara Fani makan sangat lambat seperti biasanya namun anehnya, Ara dengan santai memberikan kuning telur miliknya kepada Fani. Fani tanpa sungkan memakan kuning telur itu tanpa sadar tatapan aneh dari dua orang disamping mereka.

Strong WomenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang