Happy 200k viewers!
ILY 3000 DOLAR
Kamu memandangku penuh cinta. Di saat bersamaan, tiba-tiba datang dia yang mengisi lebih dari separuh perjalanan hidupmu. Sorot matamu seketika berubah arah. Jangan salahkan, jika kini hatiku mulai meragu.
***
Akhirnya Vanila terbebas dari segala macam kecanggungan yang terjadi selama Brilian berada rumahnya. Akhirnya semalam Mamanya pulang. Otomatis Brilian dijemput agar tidak terlalu lama merepotkan Mama Vanila.
Walau masih tampak kesal setelah keributan kecil di ruang tamu keluarga Vanila, kenyataannya Brilianlah yang lebih dulu mengajaknya berbaikan.
Sejak subuh tadi, ponsel Vanila terus diteror. Untungnya telinga gadis itu cukup kebal, tebal seperti kulit badak. Jadi meski Brilian berulang kali meneleponnya, Vanila tetap bisa tidur dengan nyenyak.
"Hei, anak muda! Tampak happy sekali kau hari ini."
Rutinitas wajib Key di pagi hari ketika tak ada jam kuliah adalah mengusili adiknya. Dan melihat Vanila yang sedang berdiri di depan cermin sambil senyum-senyum sendiri, tentu menjadi momen yang pas untuk menggodanya.
"Hei, orang tua! Tak usahlah kau ikut campur dengan urusan kita yang muda-muda. Banyakin ibadah aja, biar nantinya ada cewek yang bersedia menerima kau dengan seabrek kekurangan, tanpa memiliki kelebihan! Buahahahah!"
Vanila terbahak penuh kemenangan.
Namun selang beberapa detik, ia terdiam. Ada aroma aneh yang tiba-tiba menelusup ke hidungnya.
"Astagaaaaaa, BangKey! Rambut gue, Bang! Tolonggggg!"
Lupa jika beberapa helai rambutnya masih berada di catokan, Vanila cepat-cepat mencopot kabelnya dari colokan.
"Ebuset, ini treatment terbaru, Mbak? Rambut jadi kering kek ikan asin gini?" Key mendekat, mengendus-endus bagian rambut Vanila. "Mana baunya kayak ekor tikus kebakar."
Vanila memukul lengan kakaknya sangat kencang. "Bantuin, kek! Jangan ngetawain doang. Kakak durhaka lo, Bang!"
Setelah mencoba disisir beberapa kali, rambut Vanila yang saling menempel masih saja belum terurai. Key akhirnya memberi saran untuk mengikat rambut adiknya itu, walau hasilnya malah membuat penampilan Vanila makin awut-awutan.
"Buruan berangkat gih." Key mengedikkan dagunya ke arah pintu. "Ntar kalo lo diajak Brilian berangkat bareng, sampe sekolah bisa-bisa lo perang sama Late."
Vanila tertawa santai. "Paling tu bocah absen lagi."
"Mana ada? Gue tadi pas ke warung Haji Sodikin, nggak sengaja liat Brilian disuruh Mamanya manasin mobil. Malah udah pake seragam sekolah sama tas juga, Van." Key merebahkan tubuhnya ke ranjang Vanila lalu menyilangkan kakinya. "Berani taruhan, dia pasti ngajakin lo berangkat bareng."
"Sumpah demi apa? Hari ini dia udah masuk?" Vanila mendelik. Sedikit ragu begitu mendengar info yang ia dengar dari kakaknya.
"Nggak usah banyak cincong, buruan berangkat!" Giliran Key yang geregetan.
Didorong pelan lengan Vanila agar segera beranjak dari sana. Jujur saja, Key sebenarnya sudah memaafkan kesalahan Brilian tempo hari. Saat di mana nyaris saja ia melesatkan bogem ke wajah sahabat Vanila itu.
Namun sampai sekarang, masih tertinggal secuil kekecewaan yang berusaha ia tutupi, sebab tak ingin membuat hubungan keluarganya dan Brilian merenggang.
***
Vanila melenggang santai melewati gerbang sekolahnya. Sesekali ia bersiul, celingak-celinguk ke segala arah lalu tatapannya terhenti di area parkir mobil SMA Rising Dream.
Hmmm, belom dateng ternyata. Gue lupa sih, Late kan murid kesayangan Kepsek. Jarang banget dia kena hukuman, padahal sering absen sekolah juga.
Tak sesemangat sebelum memasuki gerbang tadi, Vanila berjalan menuju kelasnya dengan langkah santai. Sorot matanya mengarah ke bawah. Menatap sepasang sneakers hitam miliknya yang sudah ia kenakan dari awal semester.
"Baaaaaa!"
Tubuh Vanila nyaris terjungkal begitu seseorang mendorongnya tiba-tiba dari arah belakang. Untungnya, ia sempat memasang kuda-kuda dan mengkokohkan kakinya.
"Lo cari ma..."
Sebelum Vanila benar-benar mengumpat, sebuah tangan membekapnya.
"Van, Van.. ini gue." Late berujar panik. Buru-buru ia melompat ke hadapan Vanila.
"Astaga! Nyaris aja gue nyumpahin diri gue sendiri, dong?" Vanila langsung sadar begitu mendapati wajah Late yang pucat dan gelisah. "Iya, iya. Mulai hari ini tingkat kebar-baran gue bakal turun satu persen."
Late manggut-manggut sembari menatapnya dengan sorot sangsi. Begitu keduanya berjalan beriringan, Late tiba-tiba mengulurkan tangannya ke bahu Vanila, berniat merangkul gadis itu.
Namun Vanila lebih sigap. Ia menyingkir cepat, bergeser menjauh dari Late, lalu dipilintir lengan cowok itu sampai akhirnya mengaduh kesakitan.
"Lo kira lagi main drama apa, Lat? Di sekolah mau macem-macem? Nggak inget lo Kepala Sekolah kita ngerinya kek apa?" sembur Vanila lantas melepas cengkeramannya dari tangan Late setelah diberi jaminan jika cowok itu tidak akan lagi berulah.
Late bersungut, meniup-niup tangannya yang tampak kemerahan lantas menatap bingung ke arah Vanila yang sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tas.
"Oh, iya! Kemarin Mama utang lo, kan?" Vanila mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dari dompetnya lantas disodorkan ke Late.
Cowok itu menggeleng-geleng pelan dengan ekspresi belagu. "Nggak usah, Van. Duit gue kan ntar juga jadi duit lo. Huahaha," tukasnya heboh kemudian berlari menjauh karena malu sendiri.
Vanila mengibas-ngibaskan kepalanya. Heran sekaligus takjub. Pacarnya itu sebenarnya makhluk dari spesies apa?
Ia ingin berlari menyusul Late yang sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Tapi saat tatapannya menunduk, ia mendapati sebelah tali sepatunya terlepas.
Vanila segera berjongkok, cepat-cepat mengikat tali sepatunya lalu bersiap mengejar Late, sebelum sebuah pemandangan dari arah kantin mengusiknya.
Oh, jadi Brilian sama Helen berangkat bareng? Gara-gara berita hoax dari Bang Key, gue jadi grusa-grusu ke sekolahnya.
Tanpa sadar, Vanila mematung di tengah lapangan. Tatapannya berporos pada sepasang kekasih yang tampak serasi itu. Bukan, ia bukannya kesal atau cemburu. Ia hanya merasa jika perlakuan Brilian kepadanya sungguh tidak adil.
Brilian seringkali marah saat memergoki dirinya dan Late pergi bersama. Lalu apa yang dilihatnya sekarang? Di depan matanya dan murid-murid SMA Rising Dream, dengan terang-terangan Brilian menunjukan betapa harmonisnya hubungan sepasang kekasih itu.
"Oh, mereka masih pacaran? Kirain udah putus," celetuk sebuah suara di balik punggung Vanila.
Gadis itu berbalik, menatap si pemilik suara dengan alis berkerut. "Putus?"
Heksa mengangguk cepat. "Kecelakaan Brilian Minggu lalu, lo nggak tahu kalo sebenernya itu gara-gara Helen?"
Tangan Vanila mengepal erat. Jantungnya tidak tenang. Apalagi? Apalagi yang ditutupi Brilian dari dirinya? Kenapa selama berhari-hari paska kecelakaan itu, Brilian hanya diam saja, dan membuatnya terkurung dalam perasaan bersalah?
***
WARNING!
Aku nggak mau tau ya,
Kalo komen sepi, aku bakal up-nya sebulan sekali doang. Atau emang maunya digantungin sebulan lebih? Hehehehe.
Padahal di beberapa part sebelum ending, aku bakal kasih akhir part yang ngegantung. Jadi, selamat menunggu sebulan kalau kalian nggak mau kasih voment 🤪
Salam sayang,
Rismami_sunflorist
KAMU SEDANG MEMBACA
VaniLate (SELESAI)
Teen FictionKisah lain di SMA Rising Dream Apa pun yang keluar dari mulut Vanila ketika marah, bukan hanya sekedar sumpah serapah, tapi secara ajaib akan menjelma menjadi sebuah musibah. Bukan cuma membuat apes korbannya, bahkan beberapa orang terdekatnya pun c...
