Tidak biasanya Vanila berlama-lama di depan cermin kamarnya. Yang sudah-sudah, ia bahkan sering lupa menyisir rambut, dan akhirnya hanya dikucir asal-asalan setelan diomeli mamanya.
Tapi pagi itu, ia membutuhkan waktu bermenit-menit untuk merapikan diri. Sempat ingin mengenakan jepit berwarna pink, namun akhirnya diletakkan kembali di meja rias setelah mendengar sorakan Key dari pintu kamar.
"Lo berisik amat sih, Bang!" Vanila melompat sampai menyejajari tinggi Key. Diarahkan kepala kakaknya ke ketiak, lalu dijepit sekuat tenaga. "Mampusssss lo, untung aja gue udah mandi."
"Van, yaelaaah kek bocah aja lo," tegur Key. Dalam sekali sentakan, tangan Vanila berhasil dipelintir. "Dasar bocah. Baru jadian aja udah alay banget."
"Iya gue emang masih bocah, lo yang udah tua," sembur Vanila sembari menyingkirkan lengan Key dari lehernya. "Rese lo, Bang. Jadi berantakan lagi, kan."
Vanila buru-buru menyisir rambutnya dengan sela-sela jari tangan.
Key memonyongkan bibirnya. Mengamati Vanila sejenak di ambang pintu, lalu kembali mengacak-acak rambut adiknya sebelum ke luar dari sana.
"BANGKEEEEEEEEY!"
Suara Vanila menggema sampai ke seluruh penjuru rumah. Sampai-sampai membuat Mamanya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur, tanpa sengaja menyenggol pantat panci.
"VANILA!"
Kini giliran Mamanya yang memekik kencang. Di salah satu kursi meja makan, Key duduk tenang sembari memperhatikan Mamanya yang terus mengomel.
Daripada gabut, dicomot bakwan tahu yang baru ditiriskan Mamanya dari penggorengan. Namun baru beberapa detik masuk mulut, Key langsung mengibas-ngibas lidahnya yang terasa terbakar. Udah tahu masih panas, main sambar aja, sih.
"Bukannya bantuin Mama, malah bikin rusuh terus setiap pagi. Coba ya, anak-anak Mama tu kayak Brilian."
Mendengar omelan Mamanya, Key sampai tersedak. Ia bahkan tidak menyadari jika sedari tadi Brilian ada di dapur membantu Mamanya menyiapkan sarapan.
"Lah, lo masih di sini? Semalem nggak balik?" tanya Key heran. Matanya tak berhenti menatap Brilian yang sibuk memindahkan piring berisi lauk-pauk dari dapur menuju meja makan.
"Cintamy semalem berangkat dinas ke luar kota. Pagi ini ada meeting sama klien pejabat," tukas Miranda, mewakili Brilian menjawab pertanyaan Key.
Melihat Mamanya yang amat perhatian dengan Brilian, perasaan Key jadi agak terusik. Entah sebab apa, mendadak ia teringat hubungan adiknya dengan Late.
"Woy! Pagi-pagi udah ngelamun! Kesambet lo!" sembur Vanila.
Dilesatkan bogem ke lengan kakaknya lalu menyambar bakwan tahu yang didiamkan Key di piringnya. "Tadi aja sok-sok an ngebully gue. Ngatain gue alay abis ja-"
Vanila tak bisa meneruskan kalimatnya. Mulut gadis itu tiba-tiba disumpal bakwan tahu oleh Key.
"Anjiiir," pipi Vanila menggembung.
Susah payah ia mengunyah bakwan yang langsung dijejalkan ke mulutnya tanpa dipotong lebih dulu. "Lo ada masalah apa sih sama gue, Bang?"
Bola mata Key mengerling ke arah dapur. Seolah ingin menyampaikan pada Vanila, jika di rumah mereka sedang ada mata-mata.
"Dia belum balik?" tanya Vanila pada Key tanpa mengeluarkan suara. Mulut kakak beradik itu komat kamit berghibah ria. Diamati Brilian yang sedang berdiri di meja dapur membelakanginya. "Kok bisa, Bang?"
Begitu Brilian selesai memotong buah-buahan dan menyusunnya rapi di piring, ia berbalik kemudian melenggang ke meja makan. Melihat itu, Vanila buru-buru merubah topik pembicaraan sambil menepuk-nepuk kencang lengan kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
VaniLate (SELESAI)
Teen FictionKisah lain di SMA Rising Dream Apa pun yang keluar dari mulut Vanila ketika marah, bukan hanya sekedar sumpah serapah, tapi secara ajaib akan menjelma menjadi sebuah musibah. Bukan cuma membuat apes korbannya, bahkan beberapa orang terdekatnya pun c...
