Ada yang mengganjal di hati Helen. Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju rumah Brilian, ia bahkan tidak sanggup memandang kekasihnya yang duduk di sampingnya itu.
"Lo sakit, Len? Kok diem aja?" tanya Brilian ketika laju mobil yang ia tumpangi mulai melambat.
Helen menggeleng lemah sembari tersenyum. "Nggak, Bri. Kan emang gue nggak terlalu suka ngobrol. Beda sama Vanila, ya? Ada aja topik seru yang diobrolin," tukasnya tanpa sadar. Sedetik kemudian ia menyadari ada perubahan dari raut wajah Brilian.
Keduanya sama-sama merasa ada yang harus segera diselesaikan, tapi takut menyakiti. Walau kenyataannya jika memilih bertahan pun, juga tak ada jaminan hubungan keduanya akan berjalan lebih baik.
"Udah sampe, Mbak." Pak Lutfi sengaja menaikkan intonasi bicaranya begitu menyadari kebisuan aneh yang terjadi di kursi belakang.
Brilian ke luar mobil lebih dulu. Disusul Helen yang ternyata hanya berdiri termangu di samping pintu mobil. Isi kepala gadis itu seperti disesaki banyak hal. Ia ingin meluapkan segalanya dan terbebas. Namun sayang, ia selalu takut jika kejujuran yang hendak diutarakannya itu akan menyakiti hati orang lain.
Setiap kalimat yang ingin disampaikan oleh Helen, harus dipikir matang-matang. Tak bisa instan atau spontan, seperti karakter yang melekat di diri Vanila.
Gimana caranya biar gue jadi kayak Vanila?
"Len!" Brilian menoleh memanggilnya. Heran melihat Helen yang hanya mematung di samping mobil. "Masuk, gih."
Jantung Helen berdegup kencang. Napasnya tertahan. Keringat dingin membasahi telapak tangan gadis itu. Selalu saja seperti ini ketika Helen ingin mencoba jujur dan tegas pada dirinya sendiri. Ia tidak mau lagi menjadi sosok paling sabar, pengertian, dan selalu bisa memaklumi sikap orang lain yang menyakitinya.
Hari ini, ia ingin menjadi orang yang berbeda.
"Tunggu, Bri!" Helen menahan langkah Brilian ketika cowok itu baru saja memutar kunci rumah.
"Kenapa?" Brilian berbalik, menuruni anak tangga kecil yang ada di teras rumahnya, lantas kembali menghampiri Helen.
Tak langsung merespon pertanyaaan Brilian, gadis itu berlari ke pintu pengemudi lantas membisikkan sesuatu pada Pak Lutfi. Selang beberapa detik, bagasi mobil Helen terbuka.
Ada tumpukan dus serta beberapa baju yang masih tersimpan dalam plastik. Helen memperhatikan isi bagasinya sejenak kemudian memilih beberapa barang untuk dikeluarkan.
"Pertama, running shoes yang lo kasih ke gue." Helen menyodorkan kotak dus berwarna merah ke dada Brilian. "Yang patah heels gue, Bri. Kenapa lo ngasihnya running shoes?"
Helen tersenyum kecil kemudian menyerahkan kotak yang kedua. "Lo pengen couple-an baju sama gue. Tapi yang lo beli malah sepasang Jersey Real Madrid. Lo lupa ya, kalo gue sama sekali nggak suka bola?"
Brilian meneguk ludah. Dahinya banjir keringat.
"Dan satu lagi," Helen menggoyang-goyangkan masker berwarna gelap di hadapan Brilian, "Kalo nggak salah sih, lo kasih masker ini pas lo jemput gue dari tempat kursus modelling. Dan lo lupa lagi. Gue lebih suka pake slayer, bukannya masker langsung pake gini. Jadi ini buat Vanila, kan, sebenernya?"
Kalah telak. Brilian tak lagi bisa mengelak. Sebelum-sebelumnya, Helen tidak pernah seberani itu. Bahkan meski Brilian sadar sudah menyakiti hati gadis itu, tapi Helen selalu menunjukkan wajah baik-baik saja. Dan Brilian percaya itu.
Tapi sekarang, di depan matanya, ia melihat sosok diri Helen yang sebenarnya. Yang rapuh, yang tertekan, yang berusaha tegar meski sakit hati karena ulahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
VaniLate (SELESAI)
Teen FictionKisah lain di SMA Rising Dream Apa pun yang keluar dari mulut Vanila ketika marah, bukan hanya sekedar sumpah serapah, tapi secara ajaib akan menjelma menjadi sebuah musibah. Bukan cuma membuat apes korbannya, bahkan beberapa orang terdekatnya pun c...
