PART 43 : BERPASRAH

10.8K 2K 305
                                        

Kelak takdir akan menunjukan siapa yang benar-benar berjuang, dan siapa  yang hanya sekedar singgah untuk kemudian menghilang.

***

"Terus kenapa lo liatin aja?" Willy tampak tak sabar. "Ya angkatlah!"

Heksa manggut-manggut lalu menyambar ponsel di genggaman Late.

Klik

Setelah menekan tombol hijau, Heksa berakhir mengaktifkan loudspeaker ponsel Late.

"Van..Van.. Sorry tadi bukan gue yang anuin," sebelum kena sembur Vanila, cowok itu lebih dulu meminta maaf, "ini gara-gara Bang..."

"Sekarang gue di rumah lo," tukas Vanila. Membuat ketiga cowok yang mengerubungi ponsel Late, membeliak bersamaan.

Ketiganya saling tatap. Heksa meringis bingung. Willy tampak sumringah. Sedangkan Late yang pucat, sudah tidak tahan untuk menutup teleponnya.

Namun diam-diam ia juga penasaraan menanti reaksi Vanila setelah membaca status instagramnya.
Kira-kira dia marah nggak, ya?

"Heh, malah diem aja! Gue sekarang di rumah lo." Vanila mengulang ucapannya.

"Lo ngapain di rumah gue?" tanya Late. Imajinasinya sudah berkeliaran ke mana-mana.

Heksa menyikut lengannya sembari tersenyum menggoda. "Ceilah, Vanila gercep amat. Sampe bela-belain ke rumah lo cuma buat jawab story' ig lo itu, Lat," bisiknya tepat di telinga Late.

Dari balik telepon, decakan gadis itu terdengar. "Tadi si Tesa telepon Bang Key. Rumah lo abis kerampokan."

Mulut Heksa serta Willy menganga lebar. Bola mata keduanya mendelik tak percaya. Sama-sama syok mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Vanila.

Lalu tatapan keduanya kini beralih ke arah Late. Dua cogan SMA Rising Dream itu pun tampak kebingungan saat mendapati reaksi Late hanya ber-oh ria.

"Yaudah sih, paling juga beberapa jam lagi perampoknya ketangkep," ucap Late santai. "Di rumah gue CCTV banyak, kualitas rekaman gambarnya juga bagus."

Tak sadar mulai pamer, Late terus membeo.

"Di halaman rumah ada tiga CCTV, di teras dua, di ruang tamu apalagi, ada lima," tukasnya sambil menghitung dengan jari tangan.

Willi bergedek-gedek takjub. Batinnya, ternyata ada yang lebih sultan dari sahabatnya, Heksa.

Mungkin seandainya Heksa punya adik laki-laki, ya Late ini yang pantes. Songongnya sebelas dua belas, jiwa kesultanannya juga sama, dan satu lagi.....

Sama-sama bego di urusan percintaan.

"Yaudah, yaudah. Gue nggak peduli mau lo rugi berapa juta pun, itu bukan urusan gue." Vanila mulai muak.

VaniLate (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang