Late menatapnya dengan sorot bingung. "Gara-gara lo? Lah, dari tadi kan lo sama gue?"
Demi bisa menatap gadis itu dengan intens, Late turut berjongkok.
"Van, maksud lo apa, sih?" tanyanya lagi.
Kesal karena tak mendapat respon, ditangkupkan sepasang tangannya ke wajah Vanila.
"Jelasin ke gue, jangan cuma nangis doang. Biar gue bisa nilai, lo beneran salah atau nggak."
Vanila masih terisak. Walau kenyataannya, lama kelamaan suara isakannya tenggelam di balik masker.
Namun air mata gadis itu masih terus membuncah. Bak sebuah bendungan yang jebol dan membuat air di dalamnya meluap tumpah
"Gue nggak jadi ikut lo ke sekolah," tukas gadis itu di sela-sela isakannya yang mereda.
Vanila cepat-cepat mengusap air matanya lalu beringsut menuju ruang inap Brilian.
"Van," sebelum Vanila benar-benar pergi, Late mencekal lengannya, "salepnya yang tadi dipake dulu," ucap Late lalu buru-buru menambahkan ketika sorot mata Vanila berusah gusar, "biar duit lo nggak mubadzir kan buat beli ininya. Hehe."
Dan dengan bodohnya, Late mengakhiri petuah seriusnya itu dengan tawa garing. Membuat mata Vanila yang awalnya sendu, berubah menyorot penuh amarah.
"Kalo lo nggak bener-bener tulus bantuin gue, mending sekarang lo pergi," tegas Vanila dengan nada ketus. "Lo berangkat sendiri ke sekolah, gue mau nemuin Brilian."
Tak memberi kesempatan pada Late untuk meresponnya, Vanila melenggang pergi begitu sana. Bagi Vanila, lebam di tangannya sungguh tidak berarti apa-apa di banding keselamatan Brilian yang sedang di ujung tanduk.
Sembari memandang bahu Vanila dari kejauhan, Late menghela napas panjang. Diamati salep di tangannya dengan penutup yang sudah terbuka.
"Kalo aja tahu salepnya nggak bakal dipake gini, mending gue retur sama obat asma aja," ucapnya lirih, mencoba menghibur diri sendiri.
"Eh, tapi kan ini salep murahan. Paling juga dapet setengah butir doang kalo dituker obat asma gue yang mahal."
Meski sambil mengomel, ia tetap melangkah menyusul Vanila yang sudah berjalan jauh di depannya.
***
Di luar ruang inap Brilian, sepasang anak muda tampak serius berbincang. Oh, bukan, lebih tepatnya sedang berdebat.
Si laki-laki terus memarahi gadis di depannya yang terlihat tak bisa melawan meski sesekali berusaha membela diri.
"Len, lo bego apa gimana, sih? Vanila kan udah bilang kalo Brilian alergi kacang merah?" Urat-urat leher Key menegang.
"Ck, nggak becus banget." Key berdecak. Tangannya dilipat ke depan dada. "Baru lima menit lo jagain Brilian tanpa pengawasan adek gue, liat apa yang terjadi sekarang?"
Bahu Helen terguncang. Makian yang terus dihujamkan kepadanya, bak lesatan peluru yang tak berhenti ditembakkan dari senapan. Menyakitinya, melukai seluruh anggota tubuhnya, terutama di bagian hatinya.
"Tapi, Kak... A..ku ta..di," meski suaranya nyaris habis, Helen mencoba menjelaskan dengan tergagap, "aku tadi yakin banget kalo kacang merahnya udah aku singkirin semua."
Key menggeram. Seandainya saja sosok di depannya itu sama-sama lelaki, bogemnya mungkin sudah akan dilesatkan.
Brilian memang bukan adik kandungnya. Namun karena sejak kecil terbiasa menghabiskan waktu bersama-sama, keluarga keduanya seperti sudah memiliki ikatan batin.
"Lo mending nggak usah ke sini lagi, dah. Biar Vanila lagi aja yang jagain dia," ucap Key tegas.
Vanila yang awalnya hanya mengamati dalam diam, akhirnya melenggang menuju keduanya dengan napas memburu.
KAMU SEDANG MEMBACA
VaniLate (SELESAI)
Fiksi RemajaKisah lain di SMA Rising Dream Apa pun yang keluar dari mulut Vanila ketika marah, bukan hanya sekedar sumpah serapah, tapi secara ajaib akan menjelma menjadi sebuah musibah. Bukan cuma membuat apes korbannya, bahkan beberapa orang terdekatnya pun c...
