-Clue-
Aku berdiri terdiam tanpa suara, pandanganku tertuju pada hamparan gedung-gedung pencakar langit yang harus aku akui ketika dilihat dari atas selalu saja menyenangkan walaupun sekarang waktu menunjukkan pukul 02.30 sore.
Panas dari matahari tak begitu terasa. Atap sekolahku tak memakai genteng melainkan dibiarkan terbuka begitu saja untuk sebuah lantai 6 di seolah ini.
Aku mendorongkan tubuhku ke depan dengan badanku bertumpuan kepada tembok semen setinggi perutku sebagai pelindung.
Menutup mata sejenak dengan tangan terbentang lepas ke udara. Perlahan pikiranku mulai tak bercabang tapi hatiku cukup meletup-letup karena masih ada banyak cabang pikiran di dalam sana.
"AAARRRGGGHHH." Teriakku kencang.
"ARGHHH." Teriakku sekali lagi.
"KAPAN AKU BISA NGELUPAIN SEMUA PERASAAN INI." Teriakku kembali.
"Sampai kapan kamu mau disitu?" tanya seseorang yang berada di belakangku.
"Kak Gara ngapain disini?" tanyaku balik tanpa ingin membalikkan badan atau menatapnya.
"Kalau mau nangis, nangis aja gapap Git." Ujar Gara yang sudah disampingku.
"Aku gak selemah itu." Jelasku datar.
Aku mendengar hembusan Gara dengan kasar. "Orang nangis itu gak lemah Gita Nadiva." Timpal Gara yang menekan namaku diakhir kalimat.
Aku tertawa sinis tanpa melihat kearahnya. "Lagi gak mau nangis." Tegasku.
Sekarang, dia yang tertawa sinis. "Cewek humble yang bergaul sama siapa aja dengan tampang cerianya tapi punya banyak berton-ton luka yang belum bisa diobati. Miris." Ejeknya.
"Yap, miris." Kataku sambil mengangguk. "Tapi setidaknya dengan tersenyum itu adalah kamuflase terbaik." Lanjutku yang masih menikmati kota dari atas sini.
"Egois, keras kepala, sok kuat, dan sok bisa nyelesain semuanya sendirian." Ucapnya dengan nada santai namun nyelekit.
Aku tersenyum tanpa melihat ataupun meliriknya. "Udah tau kan sifat buruknya, masih betah aja buat jadi sahabat sekaligus kakak buatku." Jelasku untuknya.
"Kalau kamu gak ada kakak terus sanggahannya sama siapa?" tanyanya dengan serius. "Bayu aja kamu tolak buat dia." Lanjut Gara dengan sedikit nada kesal.
"Dia siapa?" tanyaku heran.
"Tommy, maybe." Jawabnya dengan sedikit acuh.
Aku mengerutkan dahi bingung. "Kata siapa aku tolak Kak Bayu karena dia?" tanyaku balik.
Dia berdehem sebentar sebelum memulai perkatannya. "Kakak gak sengaja denger waktu kalian berdua." Jawab Gara yang sudah santai.
Aku mengangguk. "Aku nunggu dia bukan berarti aku nolak Kak Bayu karena dia." Jelasku lalu menghembuskan napas. "Aku lagi nunggu seseorang." Lanjutku dengan jujur.
"Terus kenapa kamu bilang nunggu dia?" tanya Gara lagi.
"Satu tahun aku nunggu dia buat ngejelesain semuanya. Karena jujur, aku masih mau tau penjelasan apa yang nanti akan dia kasih. Tapi kayanya dia belum siap." Jawabku yang masih belum menatap ke arah Gara.
"Yang kamu tunggu anak SMA kelas berapa?" tanyanya dengan penasaran.
Aku menggeleng tegas yang berarti bertada bukan. "Udah lulus SMA." Jelasku pada Gara.
"Kalau mau tau siapa yang udah tau nama dia yah cuma Adi. Kak Tama sama Kak Bayu cuma tau aku lagi nunggu." Lanjutku dengan santai.
Hening tak ada yang bersuara lagi. Kita sama-sama menatap ke depan, melihat gedung bertingkat yang disekelilingi rumah penduduk.
"Kakak gak nyari cewe?" tanyaku memecahkan keheningan beberapa saat.
"Samping kakak ini cewek." Jawabnya.
"Maksud aku buat dijadiin pacar." Timpalku.
"Udah ada. Udah lama juga kakak deket sama dia." Jelas Gara.
"Bego, kenapa lagi ini hati tiba-tiba bisa nyesek." Kesalku dalam hati.
Aku mengangguk dengan santai. "Anak Yogya kan? Sekarang udah masuk salah satu universitas di Yogya lewat jalur undangan. Udah pinter, cantik pula. Terus kebetulan kakak juga dapat undangan khusus masuk ke sana. Emang dasarnya jodoh. Benerkan?" Tebakku sambil tersenyum.
Sekian detik dia mendengar ucapanku sekarang tangannya terulur untuk mengacak lembut rambutku. "Kamu kok sok tau banget sih." Ungkap Gara dengan cengengesan.
Sekarang, aku baru menengok kearahnya, dengan santai aku tersenyum. "Apa sih yang gak aku tau dari kakak." Kataku meledeknya.
"Iya deh iya, adeknya kakak satu satunya." Ucap Gara yang tangannya mengusap kepalaku lagi.
"Kamu suka sama anak yang baru lulus SMA itu?" tanya Gara setelahnya.
Aku menggeleng. "Gak tahu. Rasanya tenang aja kalau udah deket dia." Kataku memtuskan memandangi gedung lagi. "Gak mau berharap lebih kalau setiap akhirnya bakal sakit." Lanjutku.
Dia mengusap kepalaku untuk menenangkan pikiran. "Kamu tau, bahagia itu satu paket sama yang namanya sedih. Udah tau kan dari dulu." Ucapnya memperjelas ingatanku beberapa tahun lalu.
Aku mengangguk yakin. "Belum siap aja buat disakitin lagi." Jawabku jujur. "Cukup hubungan aku sama dia berjalan kaya sekarang aja. Itu lebih dari cukup." Lanjutku dengan senyuman.
"Inget malasah tuh buat dibagi bukan buat dipendem sendiri." Jelasnya yang lagi dan lagi mengusap kepalaku.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
Dengan tiba-tiba Gara memelukku dengan erat. "Kakak kangen kamu, Git." Ucap Gara. "Kakak sayang kamu." Lanjutnya.
Sosoknya yang seperti kakak kandung sendiri membuatku cukup tahu jika aku tak akan sendiri. Setidaknya untuk sekarang, sebelum dia dan mereka meninggalkan aku pergi untuk aktivitas kuliahnya masing-masing.
"Dia hanya sayang sebatas kakak adik. Belajarlah untuk tidak egois Git." Begitulah kata hatiku saat membalas pelukan Gara sambil melihat awan yang terus berjalan mengikuti arah angin.
Ini double up nya
Selamat membaca :)
-Jangan lupa senyum sebelum tidur-
KAMU SEDANG MEMBACA
Gita Nadiva (END)
FanfictionHigh Rank : Rank 1 pendek #02Februari2020 Rank 1 diary #16Maret2020 Rank 1 cerita #27Mei2020 Wanita dengan paras imut dan rabut pendek juga kacamata yang selalu menjadi ciri khasnya. Memiliki banyak sahabat yang selalu membuat harinya berwarna. ...
