Chapter 42

194 11 0
                                        


Di kantin sekolah. Nara, Leon, Lily, Nindya, Aditya, dan Gema yang asyik dengan ponselnya berkumpul. Mereka tengah berbincang-bincang mengenai pensi terakhir yang akan mereka lalui di masa putih abu ini. Terlebih Adit yang begitu antusias.

"Nanti kan anak-anak cewek dari sekolah lain pada dateng tuh. Nah, itu namanya kesempatan. Jalan bagi seorang cowok ganteng yang udah lama jomblo kagak gue ini nemuin pasangan." Celetuk Adit membuat mereka yang ada bersurak, kecuali Gema yang sedang asyik dengan ponselnya.

Mabar kuy!

"Syirik aja lu semua. Bilang aja lu juga pengen nyari cewek lagi kayak gue, kan?" Tuduh Adit pada Leon membuatnya memberikan tatapan membunuh.

"Lo emang udah punya cewek sekarang?" Tanya Nindya seraya memakan cemilannya.

"Ya belum ada, sih." Jawab Adit polos.

Nindya terkekeh meremehkan. "Makanya ngomong yang bener. Kentut aja udah bener lo, masa ngomong masih amburadul." Sindir Nindya.

Adit menggeleng kepalanya tak percaya. "Wah, ngajak perang lu ya!" Tantang Adit. Bercanda gaes, Adit gak banci kok.

"Sini, maju kalo berani!" Balas Nindya sambil melipatkan lengan bajunya yang sudah pendek itu.

"Apaan sih kalian kayak anjing dan kucing aja, tar jodoh baru tau rasa." Celetuk Lily bermuka masam seraya memakan mie pastanya. Mieable garis keras!

"Udah, ah, berisik. Diliatin orang tuh!" Seru Nara mengingatkan sambil menunjuk sekeliling mereka.

Nindya dan Adit saling menatap penuh permusuhan namun tak urung menuruti kata Nara.

Laksanakan sang ratu!

"Btw, nanti pas pensi gue mah nyumbangin lagu sama Gema kayak pas kelas 11." Ujar Leon.

Adit yang merasa namanya tidak diikut-sertakan langsung mengerucutkan bibirnya. "Lu mah jahad, masa gua gak diajak sich!" Katanya lebay.

Leon hanya bergidik. "Lo lebay kayak gitu, ogah gue ngajak, hih!" Tolak Leon.

Adit melemparkan cikinya ke muka Leon. "Daripada elu bucin!" Balas Adit sambil menjulurkan lidahnya mengejek.

"Baru dibilangin ish!" Kesal Nara. Dia risih jadi tontoan meja-meja disekelilingnya.

"Hehe, iya ampun ibu negara!" Ujar Leon sambil cengengesan.

"Tuh kan, bucin kan tuh!" Tunjuk Adit.

"Udah, ih, lo berisik. Bikin malu yang bawa!" Tegur Lily sambil mencubit lengan Adit.

Adit yang kesakitan mengelus-elus kulit lengannya. Kemudian disaat yang bersamaan Gema sudah selesai bermain gamenya dan menyimpan ponselnya itu di saku celana.

"Gue mau ke toilet." Pamit Gema langsung beranjak dan kemudian disusul oleh Adit.

"Gitu dah, sekalinya ngumpul fokus sama gadget. Sekalinya udahan dia malah pergi. Dasar, generasi nunduk!" Ujar Nindya uring-uringan sendiri.

Lily yang paham langsung mencolek lengan Nindya. "Ciee, jadi dari tadi lo cuma nyari perhatian Gema aja niye!" Goda Lily.

"Ih, enggak lah. Apaan sih. Berkomentar itu boleh selagi positif. Gue kan mengingatkan!" Seru Nindya membela diri.

"Iya deh, iya. Gue mah apa atuh, kalah debat sama orang pinter, mah!" Ujar Lily mengalah namun tetap terkekeh diujungnya.

"Btw, kemaren-kemaren gue liat Cilla ke rumah." Kata Nara disaat semuanya mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing.

LEONNARA (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang