Wira pulang ke rumahnya. Dia menemui Nara dan Nando. Wira berkata jika dia sedang ada urusan di kantornya. Kemudian dia mengajak Nara dan Nando untuk makan malam diluar bersama partner kerjanya.
Nara merasa sedikit gugup. Dia juga merasakan kulit-kulit tangannya yang berubah dingin karena sedari rumah dia hanya diam duduk di samping Nando. Sementara Wira di depan dari tadi sibuk menelfon.
Nando merasakan hal yang sama. Dia juga merasakan ada yang berbeda dengan sikap Nara malam ini. Nara lebih terlihat cuek dan seperti menahan perasaannya. Nando hendak mencairkan suasana dengan mengajak berbincang, namun kemudian keduluan oleh Wira.
"Nanti kita ketemu sama client Papa. Dia punya anak laki-laki yang sebaya dengan kamu, sayang." Ujar Wira.
Nara yang mendengar itu sedikit terkejut. Apa katanya? Anak laki-laki? Sebayanya? Nara langsung berpikir macam-macam seperti takut akan terjadinya perjodohan. Namun ia menepis pikiran itu kuat-kuat.
Tidak mungkin! Batin Nara meyakinkan dirinya sendiri.
Begitupun dengan Nando yang berpikir demikian. Dia juga takut terjadi perjodohan dengan Nara. Terlebih ketika Wira seperti senang menceritakan itu kepada Nara. Nando langsung mengepalkan tangannya kuat.
Demi apapun itu gue gak akan rela!
Beberapa menit mereka sampai di depan sebuah restoran bintang lima yang berada di pusat kota. Wira langsung saja mengajak Nara dan Nando masuk karena ternyata partner kerjanya sudah menunggu kedatangan mereka.
"Selamat malam, Ariel." Sapa Wira saat dia menemui pria seusianya yang tengah duduk dengan istri dan juga anak laki-lakinya itu.
"Malam, Wirawan. Silahkan, silahkan duduk." Ujar Ariel kemudian Wira dan kedua anaknya duduk di kursi dengan meja bundar besar itu.
"Sudah lama?" Tanya Wira basa-basi.
"Belum, ini juga pesanannya masih dibuatkan." Jawab Ariel.
Wira mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Oh iya, kenalkan ini anak-anakku."
"Nando, Om, Tante." Ujar Nando mendahului kemudian menyalami kedua pasangan suami istri itu sopan.
"Nara, Om, Tante." Susul Nara kemudian ikut menyalami orangtua itu.
"Ini anakku." Ujar Ariel kemudian.
Lelaki itu menyalami Wira. "Gema, Om."
Nara bernafas lega. Pupus sudah pikiran negatif itu ketika melihat ternyata yang berada disana adalah Gema, temannya dan juga sahabat Leon. Gema juga terlihat mengedipkan sebelah matanya. Membuat Nando merasa cemburu.
Tak lama makanan datang kemudian mereka segera melahapnya dengan nikmat. Hingga akhirnya setelah selesai, Wira membicarakan soal perusahaan dengan Ariel, dan melibatkan Nando. Sementara Gema yang diam-diam dichat oleh Nara langsung mengajak Nara meninggalkan meja itu. Lagi-lagi Nando merasa cemburu, namun ia tak dapat mengelak ketika Wira menahannya.
"Lo tau?" Tanya Nara sambil menahan tawanya. "Gue sempet mikir Papa mau jodohin gue tau gak?"
Gema ikut terkekeh. "Gue juga sama mikir kayak gitu."
Mereka duduk di meja yang berada di rooftop resto itu, menikmati pemandangan kota Jakarta dari malam hari.
"Eh, Leon tau lo pergi?" Tanya Gema.
Nara mengangguk. "Udah gue chat barusan. Dia lega katanya tau lo yang mau dijodohin sama gue."
"Sembarangan!" Desis Gema sambil terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEONNARA (End)
Novela JuvenilNara tidak tahu jika kehadirannya kembali ditengah orang-orang yang sudah lama ia tinggalkan malah mendatangkan suatu masalah. Perasaan sesal dan tidak enak itu datang saat masalah yang seharusnya ia hadapi sendiri malah berimbas pada orang terdekat...
