Aku sudah berada di dalam taxi menuju rumahku di luar negeri. Mataku masih sembab dan bengkak. Semuanya masih suram di mataku.
Beberapa jam yang lalu, ketika aku terbangun, aku sudah ada di mobil. Aku melihat sekeliling dan hanya ada Rendi dan Yuna disana. Aku berteriak-teriak mengenai Devan. Mereka hanya menggeleng tanpa memberikanku jawaban. Aku berkali-kali menarik kerah baju Rendi mengajaknya bertengkar, tapi mulutnya tetap tidak ingin bergerak.
Terakhir kali aku sadar aku melihat grafik itu sudah lurus. Bukankah tandanya Devan sudah tiada? Aku bertanya lembut pada Yuna, apakah Devan sudah tiada. Dia sama diamnya dengan Rendi. Aku benar-benar ingin memukul kedua orang ini. Sampai akhirnya aku menyimpulkan sendiri, bahwa benar Devan sudah tiada. Karena jikalau Devan masih ada, bukannya harusnya dua orang ini terlihat senang? Nyatanya mereka terlihat sangat dingin.
Aku terus menangis di bangku belakang, terus-terusan hanya bisa melihat keluar jendela dengan tatapan kosong. Mengapa mereka tidak mengizinkanku untuk ke tempat peristurahatannya sebentar saja? Sebegitu takutnya mereka aku tidak akan pulang? Ini tidak adil sekali. Aku merasa dikhianati.
Sesampainya di bandara aku hanya menunduk tidak ingin menatap kedua orang ini. Aku benar-benar masih marah.
"Hati-hati, Ra," ucap Rendi ketika hendak meninggalkanku.
Aku menahan tangan Yuna yang ingin mengikuti Rendi, dan berkata lirih, "Apa aku tidak ada kesempatan untuk kepemakamannya sebentar saja? Aku bisa naik pesawat selanjutnya."
Rendi melepaskan tanganku dari Yuna dengan lembut. "Tidak bisa, Ra. Kamu sudah janji. Kamu mau buang-buang uang Mamah Devan?" tanya Rendi.
Aku menggeleng cepat—bukan itu yang aku inginkan. Yuna mengelus punggungku. "Yang sabar ya, Ra."
"Aku titip ucapan bela sungkawa ya, Na, Ren. Ucapin rasa terimakasihku pada Mamah Devan, keluarganya, dan juga Devan. Tolong...." Aku berhenti sebentar untuk menahan air mataku.
"Tolong bisikkan di telinga Devan bahwa aku sangat mencintainya untuk terakhir kalinya."
Mereka tersenyum, memelukku, dan pergi meninggalkanku sendirian bersama koper-koperku. Rasanya aku seperti batu berjalan—tatapanku kosong bahkan sampai saat ini. Harusnya aku ingat bahwa setiap aku berharap, itu akan menjadi hal yang mustahil untuk diwujudkan. Aku putus asa, benar-benar putus asa.
Ketika di perjalanan, isi kepalaku hanya tentang pria itu. Pria yang sempat mengubah hidupku. Yang menggenggam tanganku ketika aku menyebrang. Yang mengirimkan note ketika aku sendirian. Yang berkorban apapun hanya untukku. Rasanya aku ingin kirim surat ke Tuhan.
Tuhan, tolong jaga Devan baik-baik ya. Dia malaikatku, orangnya sangat baik. Cepat atau lambat, Kamu pasti juga akan mencintainya seperti aku mencintainya. Jaga senyumnya Ya Tuhan, jangan sampai hilang di wajahnya. Titip salam padanya, bahwa aku sangat mencintainya, dan aku mengikhlaskan kepergiannya.
Aku memang payah karena tidak pernah bisa menahan air mataku, bahkan saat sampai rumah. Orangtuaku menyambutku hangat, dan tersenyum— tidak seperti dahulu kala.
"Bagaimana Ra, kabar Devan?" tanya ibuku berusaha peduli.
Aku hanya diam, lalu tersenyum, dan menjawab parau.
"Dia sudah pergi, Bu, Yah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hopeless [Completed]
CintaNamaku Dhira Samantha. Banyak orang mengira hidupku baik-baik saja, nyatanya tidak. Hidupku penuh pahit, bukan karena memang semenyedihkan itu, tapi karena Tuhan tidak pernah mengizinkanku untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku bersemayan di...
![Hopeless [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/220816133-64-k891621.jpg)