Bab 38 - Blood and Tears

622 54 3
                                        

"Halo, Ayah. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"

Semua orang terpaku menatap Ketua Park. Pria paruh baya itu membalas tatapan Joo-Won dalam diam. Memandangi subjek itu begitu lekat guna menjernihkan segala ingatan yang telah mengabur. Orang yang dulu diingatnya bukanlah sosok yang seperti ini. Semuanya benar-benar telah berubah. Garis pipi itu kini semakin terlihat dan tampak jelas. Sorot matanya bukan lagi seperti anak perempuan yang dulu gemar meminta berbagai macam hal padanya dengan manja. Lengkap dengan tatapan berbinar yang selalu berhasil membuat Park Sun Jong kalah dan berakhir menuruti permintaannya meski dilengkapi dengan omelan dan nasihat panjang.

Ketua Park masih menatap gadis itu dalam-dalam. Merasa membutuhkan lebih banyak waktu lagi. Sudah begitu lama sejak mereka terakhir bicara atau hanya untuk bertatap muka—bahkan lebih dari sepuluh tahun. Anak itu bukan lagi gadis kecilnya yang lucu. Ia memang tumbuh dengan baik. Tingginya bahkan hampir menyamainya. Namun wajahnya benar-benar berbeda. Entah apa yang ia lakukan pada bagian tubuhnya yang satu itu. Hasil sentuhan jarum operasikah? Namun, semakin ia mendengarnya lagi, suara gadis itu sendiri kini terdengar persis seperti apa yang ia ingat, terutama saat ia memanggilnya Ayah.

"Park Haneul."

Untuk pertama kalinya Ketua Park mengeluarkan suara sejak memasuki ruangan. Ia terdengar ragu, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu memang putri kecilnya yang dulu. Dadanya bergemuruh karena hal yang begitu ia perjuangkan sepanjang hidup ini kini telah mewujud nyata dalam pandangan. Park Sun Jong sudah mengubrak-abrik Korea Selatan. Menyisir Kota Seoul hingga ke belokan yang paling sempit. Ia bahkan sudah berupaya untuk mengabsen satu per satu negara di dunia untuk bisa menemukan belahan jiwanya yang menghilang itu. Orang yang membawa tetesan darahnya di setiap langkah namun menolak untuk ditemukan. Orang yang meninggalkannya karena ia yang dengan bodohnya sudah bertindak gegabah dan tak bisa dimaafkan. Ia rela menampung segala kekecewaan itu beserta amukan maha besar yang nanti akan ia terima. Yang ia butuhkan hanyalah kepastian bahwa putrinya itu ada. Bernapas dan hidup dengan baik. Walaupun jika gadis itu tidak ingin kembali padanya lagi, ia benar-benar merasa cukup hanya dengan satu kenyataan itu.

Joo-Won melipat kaki lalu menyilangkannya di atas kaki yang lain. Jantungnya berdebar keras. Ini adalah hal yang telah ia tunggu sejak dulu. Sudah sepuluh tahun! Waktu yang tidak sebentar untuk menyiapkan diri agar dapat sekadar menatap mata orang yang dulu pernah dekat dengannya melebihi urat nadinya sendiri. Namun, sebaik apa pun ia bersiap-siap, dirinya tetap merasa kalah. Tubuhnya gemetar hanya karena berhadapan dengan pria yang hampir berumur enam puluh tahun. Ini tidak sama seperti saat sebelumnya ia mengaku sebagai Han Joo-Won, salah seorang anggota DISK dari Amerika. Dia kini berdiri sebagai Park Haneul, putra ayahnya. Pria tua itu kini tahu bahwa ia masih hidup di dunia ini. Dengan wajah yang jauh berbeda, tapi Joo-Won tahu bahwa ayahnya kini melihatnya seperti dulu, seperti memandang gadis kecilnya yang sedang mengacaukan dapur.

Joo-Won bangkit. Nyaris tergelincir jatuh saat mendengar pria itu memanggilnya dengan nama aslinya. Ia memilih duduk di atas meja terdekat dari ayahnya karena merasa kakinya tak bisa lagi berdiri. Kepalanya sakit karena beribu kepingan masa lalu yang mendesak ingin keluar. Saat ia melempar kenangan itu ke sudut terdalam benaknya, maka sedetik kemudian ingatan itu memantul dan berada selangkah lebih depan untuk bisa keluar. Menjebol pertahanannya begitu saja.

"Wah, sudah lama sekali aku tidak dipanggil seperti itu," balasnya perlahan dengan dramatis. Ia berjalan lebih dekat untuk menuju sang ayah. Menatap mata hitam itu dengan tajam. Mereka bukan lagi ayah dan anak. Mereka adalah dua harimau yang berniat untuk menyerang satu sama lain dengan gerakan paling mematikan. Meskipun salah satu pihak kini sudah kehilangan taring.

"Di mana kau tinggal selama ini?" Ketua Park bertanya lagi. Tak berniat memilah pertanyaannya untuk lebih disesuaikan dengan kondisi kala itu.

"Di mana-mana. Aku selalu berpindah kapan pun aku mau. Menghabiskan uang, kau tidak pernah keberatan dengan kelakuanku yang itu, kan?" balas Joo-Won dengan penuh retorika.

THE WILD COUPLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang