Bab 35 - Be Separated

2.2K 288 89
                                        

Seoul, The House of Mr. and Mrs. Lee, 6 Februari 2019. 08.15 AM

Eunhyuk bangun hari itu seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia baru saja selesai mandi, hal yang kini dilakukannya dengan durasi jauh lebih lama dari sebelumnya. Eunhyuk mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Langsung melemparkan benda itu ke keranjang pakaian kotor begitu ia sudah setengah berpakaian. Ia mengambil kemeja putihnya dari lemari. Disusul oleh celana kerja berwarna hitam. Tak keberatan untuk tampil lebih formal hari ini. Ia bahkan dengan suka rela mengambil jas yang cocok dengan itu.

Hae Rin, pegawai rumah yang paling disayangi Yeong Eun, menunduk hormat saat Eunhyuk muncul di ruang makan. Ia berdiri tak jauh dari meja. Terlihat baru saja menyiapkan sarapan di sana. Eunhyuk masih diam. Duduk dan mengambil segelas cokelat hangat yang sudah tersaji. Mencoba menelannya dengan lancar meski kerongkongannya terasa sangat sempit.

Hae Rin diam-diam melirik dengan iba. Tuannya itu tampak normal. Ia sehat, tidak sakit. Ia makan dengan patuh apa pun yang disiapkan oleh pegawai dapur. Ia tak banyak berkomentar mengenai apa pun. Semuanya akan mengira bahwa tidak ada yang berubah. Tapi Hae Rin tahu bahwa kini seorang Lee Hyukjae tampak bagai mayat hidup. Ia makan karena ia harus makan. Ia bekerja karena ia harus bekerja. Dan sorot mata itu sudah tidak sama lagi. Ada lubang yang menganga di jiwanya. Dan sesuatu yang vital dari kehidupannya sudah direnggut paksa dari tubuhnya. Membiarkannya hidup dengan paksa hanya karena nyawanya masih melekat di sana.

Eunhyuk merasakan perutnya bergejolak. Kepalanya pusing hingga membuatnya ingin muntah. Tiga minggu. Rekor terlamanya untuk tidak bertemu dengan Yeong Eun. Dan sudah tiga minggu ini ia merasa seperti alien yang terdampar di bumi. Sendirian, takut, tidak ingat apa-apa, tidak tahu apa-apa, kehilangan orientasi waktu, bahkan tak bisa bernapas karena udara yang tiba-tiba berubah dan menusuk paru-parunya dengan tajam. Seluruh sel tubuhnya bahkan menolak untuk tinggal. Karena ini bukanlah tempatnya. Tidak, karena gadis itu tidak ada. Semuanya menyakitkan tapi ia tidak tahu bagaimana harus menolong dirinya sendiri. untuk menghilangkan semua ke-abnormal-an ini karena rasanya seperti sedang menggerogotinya perlahan.

Eunhyuk lupa seperti apa rasanya hidup yang seharusnya. Ia mencoba menarik napas. Berusaha menemukan setitik kelegaan, tapi rasanya masih sesak. Ia butuh Yeong Eun. Merindukannya setengah mati hingga terasa begitu menyakitkan. Tapi ia tak bisa menemukan jejaknya sedikit pun. Seolah gadis itu tidak membiarkan Eunhyuk menemukannya. Melindungi diri dengan baik hingga tidak kasat mata.

Eunhyuk sudah berpikir akan menyerah. Berpuluh-puluh kali hingga ia lelah. Tapi sekeping bagian otak kecilnya menahan. Menyuruhnya bertahan karena harus membereskan segalanya dengan baik. Tak peduli bahwa kini hatinya sudah hancur lebur.

Hal yang membuatnya bertahan adalah kenyataan bahwa Yeong Eun masih hidup. Dan itu berarti ia harus menyelamatkannya, tapi mendikte dirinya sendiri untuk terus melewati hari demi hari seorang diri tidak semudah yang ia pikirkan. Ia benar-benar merasa sekarat.

"Tuan Lee...." 

Eunhyuk terbatuk. Tak sadar bahwa kini aliran kerongkongan dan tenggorokannya terhambat karena tangis. Eunhyuk tidak tahu sejak kapan ia menangis. Atau sejak kapan ia terduduk di sana dengan wajah terbenam pada tangannya di atas meja. Menangis seperti Lee Hyukjae kecil saat dulu So Ra menjahilinya. Napas Eunhyuk terputus-putus karena berlomba dengan isaknya. Berusaha menekannya kembali ke dalam agar tidak keluar dengan memalukan. Tapi senggukannya terdengar makin parah. Pertahanannya sudah rubuh. Sudah tiga minggu, ini terlalu lama dari apa yang bisa ia tahan.

Eunhyuk merasakan punggungnya ditepuk perlahan. Gerakan yang mencoba membuatnya tenang.

"Tidak apa-apa. Kita pasti akan menemukan Yeong Eun Eonni. Aku yakin dia baik-baik saja." Suara Hae Rin terdengar dekat tapi juga jauh. Gadis itu memaksakan keberaniannya karena tahu keadaan sudah benar-benar parah. Terlebih, ia tidak tahan melihat dua orang itu tersiksa seberat itu karena keadaan yang memaksa.

THE WILD COUPLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang